Menyingkap Eksotisme Rammang – Rammang

Tahun 2008 sepasang teman dekat melangsungkan pernikahan. Melengkapi kebahagiaan, mereka memilih untuk melaksanakan pemotretan pra – pernikahan dengan konsep keluarga petani. Tentu saja dengan latar suasana pedesaan. Entah atas usul siapa, tibalah kami pada sebuah hamparan sawah  dengan batu – batu besar di tengah hamparan itu.

Beberapa tahun sebelumnya, bersama seorang teman saya menyusuri puluhan gua yang membentang dari Pangkep – Maros dalam sebuah pemetaan gua demi penulisan skripsinya. Teman itu berkuliah di Jurusan Arkeologi Unhas. Salah satu gua yang kami kunjungi Leang Karama’.

Lokasi pemotretan pra – pernikahan sepasang teman itu kini dikenal sebagai Taman Batu Rammang – Rammang dan Leang Karama’ atau Leang Akkasaraka yang berarti telapak tangan, yang kami kunjungi itu kini dikenal sebagai Gua Telapak Tangan. Leang, yang berasal dari kosakata Bugis – Makassar, adalah nama yang dipakai masyarakat setempat untuk menyebut lubang atau gua/ceruk karst yang bisa dimasuki orang.

Tiga tahun terakhir nama kawasan ini mulai wara – wiri di media sosial dan semakin terkenal setelah beberapa stasiun televisi menayangkan keindahannya. Sejak itu, kawasan ini menjadi salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Baliho Festival Full Moon Rammang - Rammang Maros yang terpajang di depan jalan masuk menuju Kawasan Wisata Rammang - Rammang

Baliho Festival Full Moon Rammang – Rammang Maros yang terpajang di depan jalan masuk menuju Kawasan Wisata Rammang – Rammang

Salah satu upaya untuk semakin memperkenalkan kawasan ini dilakukan oleh Dinas Pariwisata Sulawesi – Selatan dengan mengadakan Festival Full Moon Rammang – Rammang pada 4 – 5 Agustus lalu. Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengungkapkan kekagumannya saat membuka festival ini. “Kita akan wujudkan Rammang-Rammang sebagai salah satu destinasi terbaik dunia dan Rammang-Rammang menjadi salah satu alternatif objek parawisata di Sulsel,” kata Syahrul Yasin Limpo.

Kawasan Wisata Rammang-Rammang masuk dalam gugusan karst yang membentang di Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Memiliki luas sekitar 45.000 hektar, 20.000 hektar di antaranya masuk dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung, Maros, kawasan ini adalah kawasan karst terbesar kedua di dunia setelah kawasan karst di Yunnan, Tiongkok Selatan.

Gugusan karst Maros – Pangkep ini memiliki 139 gua, 90 di antaranya memiliki tinggalan berupa lukisan. Dari 90 gua, sekira 70% gua memiliki lukisan telapak tangan. Di Rammang – Rammang terdapat tiga gua yang memiliki tinggalan purbakala. Selain Gua Telapak Tangan, ada Leang Batu Tianang dan Bulu Passaung. Pada Bulu Karama’ tinggalan arkelogis yang ditemukan adalah alat batu, moluska (sampah dapur) dan berbagai lukisan, antara lain; hand stencil atau telapak tangan berwarna merah, ubur-bur berwarna hitam, babi berwarna hitam, serta ikan berwarna hitam.

Mulut Gua Bulu Tianang - Foto: Yadi Mulyadi

Mulut Gua Bulu Tianang – Foto: Yadi Mulyadi

Di Bulu Tianang berupa satu lukisan tangan dan beberapa gambar yang menyerupai ikan. Lukisan figuratif lain adalah tiga kelompok barisan manusia berjejer bergandengan tangan. Setiap kelompok terdiri dari sepuluh orang bergandengan tangan. Lukisan kelompok pertama dan kedua berwarna merah, sedangkan kelompok ketiga berwarna merah. Sedangkan di Leang Pasaung berupa coretan – coretan berwarna merah sebanyak 3 buah di langit – langit ceruk bagian tengah.

Selain di dalam gua, lukisan telapak tangan itu juga ditemukan di beberapa rumah, umumnya yang berusia tua. Lukisan itu adalah bagian dari ritual mabbedda bola, sebuah tradisi purba yang diwarisi dari leluhur. Dalam falsafah pembangunan rumah penduduk Bugis – Makassar, rumah sebagai tempat hunian harus dilindungi oleh dua pagar, yaitu pagar yang berwujud seperti pagar kayu, besi, atau bambu, dan pagar yang gaib.

Salah satu bentuk pagar gaib tersebut adalah pembuatan hand print melalui suatu rangkaian ritual yang disebut mabbedda bola yang dilakukan sebelum menghuni rumah baru. Ritual yang dipimpin oleh sanro bola ini bertujuan untuk melindungi keluarga dari gangguan kekuatan gaib yang jahat. Mabbeda bola¸ secara harfiah berarti membedaki rumah. Ritual ini dinamakan demikian karena bahan yang dipakai untuk mencetak hand print adalah tepung beras bercampur beberapa jenis tumbuhan yang biasanya dipakai sebagai bedak.

hand stencil telapak tangan di tiang rumah Kampung Berua - foto: Muhammad Nur

hand stencil telapak tangan di tiang rumah Kampung Berua – foto: Muhammad Nur

Biasanya, hand print dicapkan pada bagian tiang dan balok horizontal bagian bawah rumah panggung dan bagian tengah pada dinding, pintu, ruang tengah, kamar, dan dapur. Tradisi ritual mabbedda bola bertahan hingga dasawarsa 1960 – an dan tak lagi dipraktekkan oleh masyarakat Kawasan Rammang – Rammang. Pengaruh Islam mengakhiri praktek kebudayaan yang telah mereka lakukan turun temurun itu karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Secara administratif Kawasan Wisata Rammang – Rammang berada di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Berjarak sekira 40 km arah utara dari Makassar, untuk menuju kawasan ini bisa ditempuh melalui jalur darat dengan menggunakan kendaraan bermotor dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam perjalanan. Lokasinya yang tak jauh dari dari jalan poros provinsi ini membuat kawasan ini mudah dijangkau.

Nama Rammang – Rammang sendiri berasal dari bahasa Makassar yang berarti kabut. Menurut cerita penduduk setempat, pemberian nama ini karena kawasan ini selalu dipenuhi kabut setiap pagi. Di Kawasan Wisata Rammang-Rammang, ada beberapa objek wisata alam yang bisa kita jelajahi; Taman Batu, Telaga Bidadari, Gua Bulu Tianang atau Bulu’ Barakka’, Leang Karama’ atau Gua Telapak Tangan, Gua Pasaung, dan Wisata Sungai Pute beserta Kampung Berua.

Taman Batu yang terdiri dari bebatuan karst ini memiliki bentuk – bentuk yang unik dan indah. Di sekeliling taman batu ini terhampar luas sawah yang menciptakan lanskap yang menawan. Tinggalan arkeologis di gua – gua dan jejak budaya Mabbeda Bola menjadikan kawasan ini sebagai objek wisata yang eksotis.

Kampung Berua Rammang - Rammang Maros

Kampung Berua Rammang – Rammang Maros

Objek lainnya adalah Telaga Bidadari. Telaga ini dikelilingi oleh batu-batu karst, airnya segar dan berwarna biru. Konon, dulunya di telaga ini pernah didapati sosok wanita cantik, yang menurut warga, adalah bidadari yang singgah untuk mandi. Setelah menikmati Telaga Bidadari perjalanan menuju Kampung Berua menyusuri Sungai Pute akan dimanjakan dengan pemandangan hutan bakau, pohon nipah, gugusan pegunungan kapur, beberapa jenis burung endemik. Pegunungan karst yang mengelilinginya menjadikan kampung ini benar-benar terpisah dari dunia luar dengan hanya mengandalkan sungai sebagai sarana transportasi keluar masuk kampung yang hanya mempunyai 15 rumah ini.

Eksotisme gugusan karst menjulang dan hamparan sawah hijau nan luas akan memanjakan mata. Menjelang maghrib kita bisa melihat ribuan kelelawar keluar dari mulut goa dari karst-karst dan segerombolan elang yang mengambil kesempatan memburu kelelawar yang keluar dari rombongannya. Pada malam hari kita bisa menjumpai kunang-kunang, milky way (pada waktu tertentu) dan hamparan bintang di langit.

Menyusuri Sungai Pute Rammang - Rammang, Maros

Menyusuri Sungai Pute Rammang – Rammang, Maros

Saat terbaik untuk untuk mengunjungi kawasan ini adalah di hari kerja untuk menghindari keramaian pengunjung. Datanglah siang hari untuk menikmati Taman Batu, Gua Telapak Tangan dan Telaga Bidadari sebelum menyusuri Sungai Pute menuju Kampung Berua melalui dermaga Rammang – Rammang atau dermaga Salenrang. Keesokan harinya barulah trekking menuju Hutan Batu Kapur dan Gua Passaung.

Satu lagi, traveler keren itu tidak meninggalkan sampah!

— — — — —

Daftar Pustaka

Handayani, A. Sultra. 2015. “Gambar Fauna Perairan Pada Gua – Gua Prasejarah Kawasan Karst Maros – Pangkep”. Skripsi. Makassar: Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.

Mulyadi, Yadi. 2004. “Pengolahan Data Berbasis Computer Lukisan Gua Prasejarah Maros-Pangkep“. Skripsi. Makassar: Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.

Nur, Muhammad. 2011. “Dari Hand stencil ke Hand print, Bukti Kontak Budaya Dengan Leluhur Orang Bugis”. Dalam Walennae Volume 13 No.1. Makassar: Balai Arkeologi Makassar.

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Tulisan Pariwisata (blogger) dalam kegiatan Festival “Full Moon“ Rammang-Rammang yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan .

Related Posts

About The Author

7 Comments

Add Comment