Menjadi Seorang Blogger Profesional

“Sekarang (kerja) di mana?”

“Kerja apa sekarang?”

 

Pertanyaan-pertanyaan serupa itu sering kali menghampiri, biasanya datang dari kawan atau kenalan lama. Tak jarang pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya gagap. Butuh beberapa detik untuk menjawabnya. “Saya blogger” menjadi sebuah jawaban yang seringkali malah menimbulkan pertanyaan baru, bahkan kebingungan pada lawan bicara.

Bagi sebagian besar orang awam, Blogger sebagai sebuah profesi adalah sesuatu yang asing. Mungkin masih ada yang mendengar kata itu untuk pertama kalinya. Seperti seorang polisi yang menahan kami dalam sebuah razia saat kami menuju acara Blogger Camp beberapa saat lalu. “Apa nikana blogger? Anu nikanre?” Pak Polisi itu mengira blogger adalah sesuatu yang bisa dimakan. Barulah ketika saya menjelaskan bahwa blogger adalah orang yang menulis di internet, Pak Polisi itu manggut-manggut. Entah mengerti atau pura-pura mengerti.

Apa iya menjadi blogger bisa dijadikan sebagai profesi. Jawabnya bisa. Saya sudah menuliskannya dalam tulisan Blogger Sebagai Profesi, Bisakah? Silakan baca J

Yang paling menyenangkan dari menekuni profesi sebagai blogger adalah bisa bekerja dari mana saja. Mau di kamar bisa, di kafe atau coffee shop pun jadi. Alat kerja pun tak banyak. Asal punya laptop dan jaringan internet pun sudah bisa bekerja. Oh iya, tablet sebagai pengganti laptop pun bisa asal terbiasa. Saya sendiri termasuk orang jadul yang harus pakai laptop karena tak bisa terbiasa menulis panjang menggunakan tablet.

Seorang blogger juga memiliki keistimewaan lain selain yang saya sebutkan di atas, yaitu kebebasan memilih kapan ia mau bekerja. Juga berapa lama dalam sehari ia mau manfaatkan untuk bekerja. Ada yang memilih satu jam dalam sehari di luar kerjaan utama. Ada yang empat sampai lima jam. Ada pula yang memilih lebih dari itu karena memang menjadikan blog sebagai sumber penghasilan utama.

Dua keistimewaan di atas, keleluasaan mengatur tempat dan waktu bekerja, selain menyenangkan juga bisa menjadi bumerang bagi seorang Blogger. Seperti profesi lain, menjadi seorang blogger profesional, menuntut ketekunan dan kedisiplinan. Blogger profesional harus memiliki kedisiplinan mengatur waktu dalam mengelola blognya. Baik itu untuk mengumpulkan informasi, melakukan riset online hingga membuat postingan bagus. Juga penting untuk menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan blogger lain, menghadiri undangan peluncuran produk, blog walking, dan lain sebagainya.

Saya sendiri merasa masih jauh dari kata professional itu. Menulis masih suka mengikuti suasana hati. Masalahnya, hati dan pikiran, seringnya memilih untuk lebih bermalas-malasan. Jadilah saya belum bisa menjadi blogger produktif seperti yang saya inginkan. Mau tak mau saya harus memaksa diri mengubah kebiasaan agar bisa semangat dan menemukan ritme untuk menjadi seorang blogger professional.

Selama ini saya bekerja dari dua tempat. Rumah, tepatnya kamar, dan dari kafe-kafe. Bekerja dari rumah sebenarnya menyenangkan. Mau posisi bagaimana pun saat depan laptop bebas-bebas saja. Mau duduk, tengkurap atau posisi apapun bisa. Sayangnya, bekerja dari rumah juga memiliki kekurangan yaitu kita gampang bosan. Berada dalam kamar seharian juga membuat pikiran sumpek. Bisa-bisa membunuh ide dan kreatifitas dalam menulis.

Untuk menyegarkan pikiran dan mencari suasana baru itulah saya memilih untuk bekerja dari kafe atau coffee shop. Tak susah mencari kafe atau coffee shop yang asik untuk bekerja di Makassar. Kelemahannya, ke kafe tiap hari akan menguras isi dompet. Bisa-bisa besar pasak dari tiang di akhir bulan.

Bekerja dari rumah dan kafe juga jauh dari suasana kantoran, sesuatu yang sudah lama saya rindukan. Bekerja kantoran, meski tak senyaman di rumah atau kafe, memiliki sisi positif. Suasana dan jam kantoran bisa menjaga mood bekerja dan dengan sendirinya menjaga produktifitas. Itu yang saya tak temukan jika bekerja dari rumah dan kafe.

Dewi Lestari, seorang penulis kenamaan Indonesia, mengungkapkan bahwa ia menentukan ‘jam kerja’ ketika akan menulis sebuah novel. Itu cara Dee, sapaan akrabnya, mendisiplinkan diri dalam menulis. Menulis dengan hanya mengandalkan mood tak akan membawa seseorang menjadi penulis atau blogger professional.

Saat berusaha mencari tempat dan suasana yang nyaman untuk menulis, seorang teman mengundang saya untuk ke kantornya. Saya pun mengiyakan. Kantornya berada di Graha Pena gedung perkantoran grade A, tak jauh dari flyover. Sebuah lokasi premium di bilangan Jl. Urip Sumoharjo. Ruangannya yang berada di lantai 5 (lima) ternyata adalah bagian dari Regus, sebuah penyedia coworking office di Makassar.

beberapa ruangan di Regus Makassar, Graha Pena Lt 5.

beberapa ruangan di Regus Makassar, Graha Pena Lt 5.

Di antara percakapan kami, sesekali saya bertanya tentang Regus ini. Konsep coworking office/space ini menarik perhatian saya. Saat memasuki ruangan saya disambut oleh seorang resepsionis yang menyambut dan menghubungkan saya dengan teman tersebut. Saya sempat menghitung setidaknya ada 35 ruangan dengan ukuran berbeda saat teman mengajak saya ke ruangannya.

Untunglah teman itu tak keberatan menjawab rasa penasaran saya yang melontar menjadi pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan seputar penyedia ruangan kantor yang ia pakai. Di Regus ada ada ruangan untuk 1 (satu) orang, 2 (dua) orang, 3 (tiga) orang, 4 (empat) orang, hingga 5 (lima) orang. Ada juga jenis business lounge bagi mereka yang tak menginginkan ruangan kantor.

Bagi penyewa ruangan, Regus menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan perusahaan yang membutuhkan kantor. Mulai dari meja kursi dan telepon dengan nomer khusus tiap ruangan sampai pada fasilitas wifi, printer, scan dan alat fotokopi. Perusahaan penyewa ruangan pun tak perlu memikirkan lagi biaya menggaji resepsionis dan office boy. Semua disediakan oleh Regius. Bahkan minuman untuk pegawai dan tamu pun tersedia di pantry. Pokoknya penyewa bisa langsung masuk tanpa memikirkan apa-apa. Termasuk biaya listrik, air dan maintainance kantor.

Lounge, Pantry dan fasilitas seperti scanner, printer dll di Regus Makassar

Lounge, Pantry dan fasilitas seperti scanner, printer dll di Regus Makassar

Regus ini ternyata sebuah perusahaan besar dan memiliki 3,000 lokasi yang tersebar di 900 kota di 120 negara. Dengan menjadi penyewa, perusahaan bisa memanfaatkan fasilitas yang ada di 3.000 lokasi itu. Sangat cocok bagi perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) atau perusahaan yang ingin membuka kantor cabang (brand office) dengan jumlah karyawan yang tak banyak.

Konsep coworking office/space yang ditawarkan Regus ini juga sepertinya cocok bagi startup yang merintis perusahaannya. Bisa dengan mulai menyewa ruangan untuk satu orang kemudian perlahan menambah meja sesuai dengan perkembangan jumlah karyawan. Tentu lebih murah dibanding menyewa ruko atau rumah yang membuat mereka harus memikirkan banyak hal. Belum tentu juga luas rumah yang mereka sewa sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan menyewa ruangan di Regus mereka bisa memilih sesuai kebutuhan.

Saya sendiri sepertinya tertarik untuk menyewa business lounge. Hitung-hitung, biaya sewa sebulan jauh lebih murah dibanding dengan biaya ngopi sebulan di kafe. Plus, saya bisa menggunakan fasilitas yang ada dan minum kopi sepuasnya. Dengan menyewa di Regus Makassar, saya bisa merasakan suasana kantor mulai dari jam kerja hingga ketenangan dan kenyamanan yang saya tak dapatkan jika bekerja dari rumah. Semua hal yang saya butuhkan untuk menjadi seorang blogger professional. Pun, paling tidak saya jadi punya banyak pilihan ketika mau bekerja dari mana.

Oh iya, bagi yang tertarik untuk tahu lebih banyak soal Regus ini bisa ke Graha Pena Lt 5 atau menelpon ke 0411 366 2100. Bisa pula via email ke [email protected]

Related Posts

About The Author

7 Comments

Add Comment