Mengurai Kemacetan di Makassar

Tak lama lagi warga Makassar akan menua di jalanan karena kemacetan. Demi mencegah hal itu terjadi, perlu upaya untuk mengurai kemacetan di Makassar dan mencari tahu jalan keluarnya.

Mengurai kemacetan di Makassar menjadi ide utama dari pertemuan yang berlangsung selama tiga hari, 16 – 18 November. Adalah UNDP (United Nations Develoment Programe), bekerjasama dengan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia, UN Pulse Lab dan Dishub Kota Makassar, yang menggelar Lokakarya Perancangan Inovasi Publik “Inovasi untuk Transportasi Publik yang Dicintai Warga Makassar” untuk menemukan solusi masalah transportasi publik di Makassar.

Penyebab masalah kemacetan di Makassar tak jauh berbeda dengan kota besar lainnya, yaitu peningkatan jumlah kendaraan, khususnya kendaraan pribadi, sementara ruas jalan tak mampu lagi memenuhinya. Untuk mengurai kemacetan di Makassar tentu kita harus mencari dulu penyebabnya.

Mengutip News Rakyatku, dari hasil survei yang dirilis Celebes Research Center, hampir 70 persen masyarakat Makassar lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dalam beraktivitas. “Sementara menggunakan angkutan umum seperti pete-pete hanya berkisar 23 persen,” ungkap Direktur CRC, Herman, pada Kamis (2/6/2016).

Ada beberapa alasan mengapa warga Makassar lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibanding memanfaatkan angkutan umum;

  1. Pete-pete (sebagai angkutan paling popular) di Makassar belum mampu menjawab kebutuhan transportasi warga Makassar.

Pete-pete sebagai sarana transportasi umum di Makassar hanya beroperasi di jalur-jalur utama kota (arteri) dan tidak menjangkau jalur kolektor. Dengan sendirinya, banyak wilayah pemukiman tidak terlayani, sehingga mendorong orang membeli dan menggunakan kendaraan pribadi.

Saat ini ada 17 rute Pete-pete di Makassar yang umumnya hanya melalui jalur arteri dan tidak menjangkau jalur lokal atau pemukiman. Jumlah rute ini tak mampu melayani jumlah pemukiman yang kian hari makin banyak akibat perkembangan kota yang sangat pesat. Untuk menggunakan Pete-pete, warga yang menghuni pemukiman harus menggunakan jasa ojek atau bentor dulu untuk mencapai jalur Pete-pete.

Perilaku sebagian supir Pete-pete yang suka berhenti lama menunggu penumpang (ngetem) menjadi alasan lain untuk tidak menggunakannya. Warga Makassar menganggap Pete-pete tidak dapat diandalkan untuk tiba tepat waktu. Belum lagi masih banyak supir Pete-pete yang ugal-ugalan, berhenti seenaknya dan membuat penumpang merasa tidak nyaman.

Penyebab perilaku supir Pete-pete di jalanan ini disebabkan oleh banyaknya jumlah Pete-pete yang sudah melebihi jumlah konsumen. Saat ini setidaknya ada 2000 mobil Pete-pete di Makassar. Mau tak mau mereka harus berebutan penumpang untuk mengejar setoran. Mereka pun akhirnya mengabaikan kenyamanan, bahkan keamanan penumpang.

  1. Kebijakan Mengenai Jalur Pete-pete Belum Mempertimbangkan Kemudahan Akses Sekolah.

Banyak sekolah yang terletak di jalur-jalur kolektor yang tidak terlayani oleh Pete-pete. Hal ini mendorong para orang tua siswa menyediakan kendaraan pribadi bagi anaknya, termasuk anak usia di bawah umur yaitu pelajar sekolah menengah pertama (SMP).

Hal ini juga mendorong warga yang memiliki anak usia sekolah dasar pun kemudian akan lebih memilih mengantar jemput anak-anaknya dengan menggunakan kendaraan pribadi. Belum lagi jika memikirkan keselamatan anak-anak mereka mengingat perilaku sebagian supirpete yang ugal-ugalan.

  1. Armada dan Jalur Busway Rapid Transportation (BRT) Belum Mencukupi.

Pengoperasian Bus BRT sebagai sarana angkutan umum massal yang diharapkan bisa mengurai kemacetan di Makassar ternyata tak belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Ada banyak penyebab kenapa BRT ini belum bisa maksimal dalam memenuhi kebutuhan transportasi warga Makassar.

Kurangnya armada BRT, saat ini hanya ada 30 bus, yang melayani 11 rute. Jumlah 30 bus ini masih jauh dari kata memadai untuk melayani aktifitas dan mobilitas warga Makassar yang mencapai 2.5 juta di siang hari. Belum lagi masalah lain seperti ketidakpastian jadwal dan kurangnya halte semakin membuat warga malas menggunakan jasa BRT.

“Saya harus minta antar menggunakan motor ke halte depan Unhas kalau mau ke kampus. Pulangnya enak ji ka ada ji halte dekat kompleks.” Ungkap Sefi, seorang mahasiswi Universitas Negeri Makassar. Sehari-hari, mahasiswi yang tinggal di kompleks Nusa Tamalanrea Indah ini, mengaku menggunakan BRT untuk ke kampusnya yang terletak di Jl. Pettarani.

Kurangnya armada dan rute BRT dan menumpuknya Pete-pete di jalur utama, sementara di sisi lain jalur kolektor tak terlayani oleh dua moda transportasi ini. Jumlah petepete yang melebihi jumlah penumpang, menyumbang pada kemacetan, tapi tetap tidak memberi jalan keluar pada kebutuhan masyarakat kelas menengah ke bawah yang tinggal di lintasan jalan kolektor.

Ditambah lagi dengan kemudahan membeli kendaraan pribadi, baik motor dan mobil, dengan down payment murah, mendorong pengguna jalan untuk lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dalam beraktifitas.  Kepemilikan kendaraan pribadi yang tak terkontrol ini kemudian menyebabkan kemacetan di Makassar.

Untuk mengurai kemacetan di Makassar, dibutuhkan beberapa langkah untuk memecahkan penyebab-penyebabnya seperti tergambar di atas. Solusi-solusi yang bisa jadi jalan keluar antara lain;

Rute Busway Rapid Tranportation (BRT) Makassar

Rute Busway Rapid Tranportation (BRT) Makassar

  1. Penambahan Armada dan Rute BRT

Untuk mengubah perilaku pengguna jalan menggunakan moda transportasi umum dan massal, pilihan yang tersedia adalah dengan penambahan armada bus dan rute BRT untuk melayani jalur-jalur utama (arteri). Saat ini, dengan jumlah hanya 30 bus yang melayani 11 rute masih terasa kurang. Selama ini warga Makassar, umumnya hanya tahu bahwa BRT hanya melayani rute dari mall ke mall.

Salah satu pengguna jalan di Makassar adalah mahasiswa yang tersebar di banyak kampus yang lokasinya pun tidak berada di satu kawasan. Perlu penambahan rute yang melayani jalur dari kampus ke kampus. Ini bisa mengurangi volume kendaraan di jalan-jalan utama yang menghubungkan kampus-kampus itu.

Menurut info, jumlah armada BRT di Makassar akan ditambah tahun depan. “Insya Allah, tahun depan akan bertambah 50 armada” ungkap Jasman Launtu, ST, SE, MM, MT, Dinas Perhubungan Makassar.

Penambahan armada dan rute ini harus berbarengan dengan peningkatan kualitas layanan semisal halte dan informasi jadwal dan rute. Salah satu penyebab warga Makassar enggan menggunakan moda BRT ini adalah ketidakpastian jadwal tiba dan keberangkatannya. Alasan ini tentu saja berterima, siapa yang mau menunggu (lama) untuk sebuah ketidakpastian?

  1. Pete-pete Sebagai Feeder

Langkah selanjutnya setelah penambahan armada dan rute BRT yang melayani jalan-jalan utama, adalah memindahkan Pete-pete yang selama ini memenuhi jalanan di Makassar ke jalan-jalan kolektor. Alih fungsi Pete-pete menjadi pengumpan (feeder) BRT ini untuk melayani wilayah-wilayah pemukiman yang selama ini tidak terjangkau transportasi umum.

Pemerintah Kota Makassar juga perlu mempertimbangkan kebijakan mengenai jalur Pete-pete yang belum memberi kemudahan akses anak sekolah. Umumnya, sekolah terletak di jalan-jalan kolektor. Ketidaktersediaan angkutan publik di jalan-jalan kolektor ini, melahirkan sumber kemacetan baru: bentor yang nota bene beroperasi di jalan-jalan kolektor. Titik penumpukan kendaraan terjadi di lokasi sekolah, di mana bentor, petepete dan kendaraan pribadi mobil dan motor berhenti-menurunkan dan menaikkan penumpang.

Adanya moda transportasi yang melalui jalur-jalur sekolah bisa mengurangi pengguna kendaraan pada jam-jam padat (masuk dan pulang sekolah). Juga untuk mengurangi jumlah pengendara di bawah umur untuk menekan angka kecelakaan yang menelan korban anak-anak di bawah umur.

Untuk meminimalisir gejolak sosial yang mungkin timbul dari kebijakan mengurangi jumlah pete-pete di jalan-jalan utama – yang akan menimbulkan gejolak penolakan di kalangan pengemudi pete-pete, atau pengusaha angkutan publik karena penyusutan wilayah beroperasi-, perlu dibarengi dengan ‘perluasan’ wilayah dan kekhususan pemanfaatan petepete (yang memilih) untuk melayani segmen tertentu dalam hal ini siswa – terutama siswa SD dan SMP.

Jalan-jalan keluar di atas mungkin bisa mengurai kemacetan di Makassar dan menjawab beberapa penyebab kemacetan; untuk mengurangi penumpukan pete-pete di jalan-jalan utama sekaligus pemenuhan moda transportasi bagi kebutuhan masyarakat kelas menengah ke bawah yang tinggal di lintasan jalan kolektor.

 

(tulisan pertama dari dua tulisan. bersambung ke Pasikola: Pete-pete Anak Sekolah)

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment