Mengunjungi Saudara Tua di TN Komodo

Menikmati liburan di atas kapal pesiar atau live on board mengelilingi dan mengunjungi beberapa pulau di Taman Nasional Komodo adalah suatu kemewahan. Dan saya, beserta teman-teman, beruntung bisa menikmatinya dengan biaya murah.

Kami tiba di pelabuhan Labuan Bajo selepas magrib. Lampu-lampu kota mulai tampak saat kapal mulai merapat. Teman pemilik kapal rupanya tak dapat menjemput karena masih harus mengawasi pembersihan kapal. Satu rombongan tamunya baru saja menyelesaikan trip.

Pengalaman pertama kali menginjakkan kaki di ibukota Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur ini menjadi mudah karena menemukan banyak pemilik toko kelontong yang fasih berbahasa Bugis meski sudah keturunan ke dua dan belum pernah pulang kampung. Dari mereka, kami mendapat informasi tentang penginapan yang murah dan terjangkau. Tak perlu khawatir memikirkan penginapan di sini. Kami bahkan menemukan penginapan dengan harga sewa Rp. 50.000 per malam.

Demi kenyamanan kami akhirnya memutuskan untuk menginap di Gardena Hotel. Letaknya di atas bukit yang mengarah langsung ke pelabuhan Labuan Bajo membuat pemandangan dari hotel ini sangat menakjubkan. Kapal-kapal bersandar dengan latar lautan dan pulau-pulau luar menjadi teman sarapan kami keesokan paginya.  Setelah berjalan-jalan ke pasar dan sekitar hotel, sorenya kami dijemput dan dibawa ke Wellenreng, kapal yang akan kami gunakan untuk bertualang ke TN Komodo.

Labuan Bajo - Lelakibugis

pemandangan dari Gardena Hotel, pelabuhan Labuan Bajo tampak dari kejauhan.

Pagi hari kami kembali ke daratan dan menuju Pasar Wae Kesambi dan dan Tempat Pelelangan Ikan untuk berbelanja kebutuhan kami selama di atas kapal. Sore hari kapal mulai angkat sauh, menuju Pulau Sebayur Kecil. Kapal tidak merapat dan kami melewatkan sore dengan menikmati limpahan kemilau senja. Cahaya matahari pagi membangunkan kami keesokan harinya. Tak perlu menunggu lama, kami langsung melakukan snorkeling. Beruntung, kami sempat melihat ikan Hiu Black Tip.

Trekking adalah salah satu pilihan yang sulit dielakkan dan kami memutuskan untuk mencapai puncak bukit pulau ini. Pulau-pulau kecil dan besar menghampar saat kami melayangkan pandangan. Sore hari tentu saja tak kami lewatkan, senja di sini tak pernah membuat mata kami puas. Berada di atas lautan tentu tak sah bila tak menyantap ikan bakar. Menu inilah makan malam kami. Setelah puas snorkling lagi menikmati biota bawah laut yang menakjubkan di pagi hari, siang hari kedua kapal berpindah ke Gili Lawa Bay. Di sini kami kembali menikmati biota bawah laut, mencoba canooing dan trekking ke puncak. Inilah titik paling bagus di Kawasan Taman Nasional Komodo untuk menikmati guratan matahari terbenam.

Di atas Welenreng, kapal yang tumpangi selama 4 hari 4 malam di TN Komodo

Di atas Welenreng, kapal yang tumpangi selama 4 hari 4 malam di TN Komodo

 

Hari berikutnya kami menuju Pulau Rinca (Loh Buaya),  bagi masyarakat setempat, Komodo adalah Buaya Darat. Mereka bahkan percaya bahwa komodo adalah saudara tua mereka. Kami memilih pulau ini karena komodo akan lebih mudah untuk dilihat karena rentang habitat lebih kecil daripada di Pulau Komodo (Loh Liang). Ada tiga pilihan jalur trekking dan kami memilih jalur sedang karena mempertimbangkan kemampuan kami. Belum lagi terik matahari yang menyengat di sabana yang harus dilalui.

Dalam perjalanan kami ditemani 3 guide. Kami bisa menjumpai beberapa komodo, bahkan hanya berjarak beberapa meter dari hadapan kami. Beberapa rombongan yang kami jumpai mengatakan kalau mereka belum melihat satu komodo pun. Mereka hanya melihat lubang-lubang tempat komodo betina menyembunyikan telur mereka selama delapan bulan. Selama masa inkubasi itu komodo betina berbaring di atas telur-telur itu untuk mengerami dan melindunginya sampai menetas.

Komodo adalah hewan predator dan kanibal, bahkan memangsa anak mereka sendiri. Komodo muda menghabiskan tahun-tahun pertamanya di atas pohon untuk bersembunyi agar tidak menjadi mangsa komodo dewasa. Kami sangat beruntung bisa melihat seekor anak komodo yang sedang mencari makan di sekitar pohon tempatnya bersembunyi. Komodo di Loh Buaya juga lebih agresif dibanding komodo di Pulau Komodo. Selain komodo, di pulau ini kami juga menjumpai sapi, kerbau, monyet, ayam hutan, dll.

di depan komodo - lelakibugis

 

Setelah puas trekking mengitari Pulau Rinca, kapal kami kemudian menuju Wainalu Bay. Di pulau ini kami kembali mendaki bukit hingga ke puncak. Setelah puas memandangi lautan dan pulau-pulau dari atas bukit, kami kemudian berpindah ke Pulau Kambing. Di sini kami melewatkan waktu dengan bermain voli pantai sambil menunggu matahari terbenam.

Snorkling, diving, canooing, menjenguk saudara tua yaitu komodo, voli pantai, dan sunset yang begitu indah adalah sebuah liburan istimewa bagi kami. Harga paket €1400/day untuk 6-7 orang ini bisa kami nikmati dengan biaya murah karena kebaikan pemilik kapal Wellenreng.

Taman Nasional Komodo yang memiliki kekayaan berupa 277 spesies hewan -perpaduan hewan yang berasal dari Asia dan Australia-, terdiri dari 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptilia, juga setidak 25 spesies hewan darat ini adalah Mahakarya Indonesia yang sungguh sayang jika tak dikunjungi. Mari mencintai Indonesia dengan mengenali alamnya dari dekat.

 

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment