Menghapus Postingan Anti LGBT, Facebook Pilih Kasih!

Bulan Februari yang katanya bulan penuh cinta ini, ternyata tak penuh – penuh amat dengan cinta. Tengoklah media sosial yang kamu miliki. Seberapa banyak status teman – teman anda yang menyebarkan cinta kasih? Bandingkan dengan status – status yang justru menyebarkan hal sebaliknya.

Ada berapa banyak perdebatan tak penting di kolom komentar status teman – teman anda? Ada berapa banyak diskusi yang, alih – alih mencerdaskan, justru membuat dirimu tiba – tiba punya keinginan untuk kembali ke sekolah dasar? Ada banyak? Kita senasib. Tak banyak? Selamat!

Di bulan cinta ini simbol – simbol hati berwarna merah muda hanya hadir di mall – mall dan banner – banner diskon lapak – lapak daring. Tak lebih dari sekadar pemanis dan pemancing agar kita mau merogoh kantong lebih dalam atas nama perayaan cinta kasih.

Di media sosial, yang ada seruan untuk menolak perayaan Hari Kasih Sayang atawa Valentine. Lucunya, tak ada seruan atau ajakan untuk merayakannya tapi seruan penolakan banyak. Seperti menyaksikan adegan seseorang yang menangkis, terkadang disertai serangan, meski tak jelas siapa yang menyerangnya. Setidaknya itu di timeline media sosial yang saya punya.

Belum lagi maraknya perdebatan tentang isu Lesbian, Gay, Biseks dan Transjender, atau yang lebih kesohor dengan sebutan LGBT. Mulai dari perdebatan yang agak berisi dan mencerahkan hingga perdebatan – perdebatan yang lebih banyak memakai bumbu dosa dibanding data. Irit nalar. Lebih mengandalkan prasangka dibanding fakta. Alih – alih kita jadi cerdas karena adanya diskusi berimbang, kita malah lebih berpeluang terjangkiti perasaan benci satu sama lain. Yang pro jadi benci pada yang kontra. Pun sebaliknya.

Hal menarik dari perdebatan tentang LGBT ini sebenarnya adalah posisi atau keberpihakan Facebook, tempat perdebatan terjadi. Sikap Facebook sendiri sudah jelas, yaitu mendukung kaum LGBT. Dukungan itu mereka tunjukkan dengan mengubah dekorasi kantor mereka pada bulan Juni 2015 saat Mahkamah Agung Amerika Serikat memberikan hak bagi kaum LGBT untuk bisa menikah. Selain itu, kaum sesama jenis di AS akan mendapatkan hak-hak hukum yang sama dengan pasangan heteroseksual lainnya, dimana pernikahannya akan dilegitimasi lewat dokumen resmi seperti halnya sertifikat kelahiran dan kematian.

Bentuk dukungan lain adalah Facebook menyediakan filter foto warna pelangi yang bisa langsung digunakan oleh pengguna sebagai foto profil masing-masing. Filter foto warna pelangi tersebut sebagai bentuk ‘tiruan’ dari bendera kebanggaan kaum LGBT.

Keberpihakan Facebook ini juga membawa dampak status – status mengenai LGBT, khususnya bagi yang kontra. Sampai saat ini setidaknya sudah 4 (empat) status yang berkaitan dengan LGBT yang dihapus oleh Facebook. Salah satu yang menarik perhatian adalah penghapusan postingan penulis beberapa novel best seller itu.
Postingan itu “Homo, lesbi, banci, itu semua adalah gangguan kejiwaan, penyakit, dan bisa ditularkan oleh gaya hidup,” sebenarnya biasa – biasa saja. Tak mengandung ujaran kebencian yang menjadi alasan Facebook menghapusnya. Melalui Community Standard yang mereka keluarkan, Facebook mengumumkan akan menghapus konten yang berisi ujaran kebencian terhadap orientasi seksual, ras, etnis, agama, dan lain – lain.

 

Community Standard Facebook yang mengatur tentang ujaran kebencian (hate speech)

Community Standard Facebook yang mengatur tentang ujaran kebencian (hate speech)

Nasib serupa juga dialami oleh salah satu penulis muda asal Kendari, Arham Rasyid. Penulis buku Jakarta Underkompor dan Kopi Starbuk ini bahkan harus rela akun facebooknya dihapus oleh Facebook. Masih ada lagi beberapa teman yang menyampaikan hal serupa. Postingan – postingan mereka yang berkaitan dengan LGBT dihapus oleh Facebook.

Anehnya, Facebook melakukan standar ganda dalam hal ini. Mark Zuckerberg dan kawan – kawan mendukung kaum LGBT dengan alasan kebebasan hak. Di sisi lain mereka menghapus atau memblokir postingan – postingan yang kontra atau anti LGBT. Umumnya, konten – konten yang dihapus oleh Facebook ini adalah postingan – postingan yang telah dilaporkan oleh beberapa pengguna Facebook.

Di sinilah mirisnya perdebatan – perdebatan itu. Masih banyak pengguna FB yang bersifat kekanak-kanakan. Tidak bisa menerima perbedaan pendapat dan pakai main lapor segala pada pemilik FB. Saya sendiri mendukung hak hidup dan kesetaraan bagi kaum LGBT tapi gagal paham pada orang – orang yang pro yang tak bisa menerima pendapat – pendapat kontra LGBT lalu kemudian melaporkan postingan – postingan yang tak mereka sukai pada Facebook.

Sah – sah saja Facebook menghapus postingan yang mereka anggap melanggar aturan mereka. Masalahnya adalah sikap pilih kasih itu. Bisa jadi, di antara yang kontra pun ada yang bersikap sama dan melaporkan postingan – postingan yang tak mereka sukai. Namun, apakah Facebook menghapusnya? Sejauh ini saya belum temukan. Pun, saya yakin tak akan pernah ada.

Oh iya, kebijakan Facebook menghapus dan memblokir postingan – postingan anti LGBT ini setidaknya melanggar, setidaknya dua, kesepakatan dunia dalam hal kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Yaitu; Pertama, Pasal 19 Deklarasi Universal HAM. Setiap orang mempunyai hak untuk bebas berpendapat dan berekspresi. Hak ini termasuk kebebasan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi dan ide melalui media apa pun. Kedua, Pasal 19 Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik. Setiap orang mempunyai hak untuk bebas berekspresi, termasuk kebebasan mencari, menerima, dan menyampaikan informasi dan ide dalam segala bentuknya.

Serupa penghuni rumah kontrakan yang sedang berselisih paham dan sang pemilik rumah mendukung salah satu pihak, apa daya bagi orang – orang yang ada di sisi lain itu?

Related Posts

About The Author

3 Comments

Add Comment