Mengenal Luciano Leandro, Legenda Sekaligus (Calon) Pelatih PSM

Menjelang bergulirnya Indonesian Super Competition 2016, tersiar kabar manajemen Persatuan Sepakbola Makassar (PSM) merekrut salah satu legenda PSM, Luciano Leandro, untuk menjadi pelatih PSM Makassar

Isu Luciano Leandro yang akan pelatih PSM Makassar sebenarnya bukan hal baru, setidaknya sudah berhembus sejak pertengahan tahun lalu. Kabar ini kian santer terdengar setelah beberapa media memberitakan bahwa Luciano akan merapat ke PSM Makassar dalam waktu dekat.

Kabar terakhir bahkan menyatakan bahwa Luciano akan datang pada 7 Januari dan segera melatih Pasukan Ramang ini. Sayangnya, supporter PSM Makassar sepertinya masih harus bersabar menunggu kedatangannya. Hingga saat ini Luciano masih menunda keberangkatannya ke Makassar karena ketidakpastian bergulirnya ISC ini.

Siapa Luciano Leandro?

Bagi pecinta sepakbola tanah air, khususnya pendukung PSM Makassar dan Persija Jakarta, Luciano Leandro adalah salah satu nama yang mendapat tempat di hati dua klub besar itu saat menjadi pemain.

Luciano Leandro pertama kali merumput di Indonesia pada Ligina Indonesia (sering disingkat Ligina) 2 pada musim 1995-1996. Bersama Jacksen F Tiago dan Marcio Novo, Luciano adalah pemain generasi awal pemain asing yang bermain di Indonesia. Saat itu, PSSI mengeluarkan kebijakan membolehkan klub bola di Indonesia menggunakan pemain asing meski jumlahnya dibatasi. Harapan PSSI adalah agar para pemain asing itu mampu menularkan skill pada pemain lokal.

Bersama Jacksen F Tiago dan Marcio Novo, Luciano membawa PSM mencapai babak final Ligina 2 di musim pertamanya. Pemain dengan ciri khas rambut panjang dikuncir ini kemudian membawa PSM menjadi semifinalis pada Liga Indonesia III (Semifinalis) dan Peringkat I Wilayah Timur pada Liga Indonesia IV. Sayangnya, kompetisi berhenti di tengah jalan karena kondisi keamanan nasional yang saat itu tidak memungkinkan dengan adanya kerusuhan 98.

Luci, panggilan akrabnya, adalah playmaker pekerja keras, lincah dan tidak berbuat macam – macam di luar lapangan. Hal ini yang membuat pendukung PSM jatuh cinta padanya dan selalu mengenangnya sebagai salah satu legenda meski bermain di PSM hanya beberapa musim. Permainan ala samba dan suplai bola ke penyerang yang acapkali berbuah gol adalah salah satu kelebihan pemain ini.

Setahun setelah membawa PSM menjadi Runner Up Ligina 2, Luci kembali membawa PSM Makassar sebagai Runner Up di Turnamen Internasional Bangabandhu-Bangladesh setelah kalah dari Tim Nasional Malaysia. Pada turnamen itu Luciano Leandro terpilih sebagai pemain terbaik.

 

Marcio Novo (Libero) 2, Luciano Leandro (Playmaker) 10, dan Jacksen F. Tiago (Striker) 18, plus Roger Milla (Putra Samarinda) 9.

Marcio Novo (Libero) 2, Luciano Leandro (Playmaker) 10, dan Jacksen F. Tiago (Striker) 18, plus Roger Milla (Putra Samarinda) 9.

 

Sebagai pemain, Luciano merupakan petarung lini tengah yang memiliki kemampuan seimbang antara menyerang dan bertahan. Penampilan gemilang pemain berkaos no punggung 10 saat membela PSM Makassar ini membuat Persija Jakarta kepincut dan kemudian meminangnya pada musim 2000/2001.

Pada musim pertamanya di Jakarta, Luciano berhasil membawa Persija menjuarai Ligina VII. Di Stadion Gelora Bung Karno, tanggal 7 Oktober 2001, Persija Jakarta menghempaskan PSM Makassar dengan skor 3 -2. Luciano membawa Persija menjadi juara setelah mengalahkan klub yang sangat dicintainya.

Meski membela PSM hanya selama 4 (empat) musim, namun Luciano Leandro sangat cinta pada kota Makassar. Kecintaan Luci pada PSM dan kota Makassar ia wujudkan setelah gantung sepatu kembali ke negaranya pada tahun 2004. Luciano memanfaatkan tabungannya selama di Indonesia untuk membangun hotel yang ia beri nama Hotel Makassar. Tak sekadar nama, hotel yang terletak di bilangan Araujo Macae, Rio de Janeiro ini juga memiliki desain lengkap dengan segala sesuatu berbau Makassar.

Di dalam Hotel Makassar, nama-nama ruangan dan kamar pun memakai istilah-istilah khas Sulawesi. Luciano juga menyediakan beberapa hidangan khas Makassar pada restoran hotel itu. Bagi tamu yang asing dengan nama Makassar, sebuah peta Makassar terpajang di pintu masuk agar mereka bisa langsung mengetahui asal-usul nama hotel yang sama sekali tidak berbau Brasil itu.

Sebagai ungkapan terimakasihnya untuk warga Makassar, Luciano mengratiskan orang-orang Makassar yang datang ke Rio De Janeiro untuk menginap di hotelnya selama 7 hari. Bentuk kecintaannya yang lain adalah pemberian nama pada putrinya, Jasmine, yang lahir di kota Daeng. Nama putrinya tersebut diambil dari nama hotel yang ia tempati di Makassar selama membela PSM kala itu.

Bersambung ke bagian 2: Sebagai Pelatih, Bisakah Luciano Membawa PSM Juara?

Related Posts

About The Author

3 Comments

Add Comment