Mengayuh Sepeda, Menuju Saripa (2)

When we’re together, I forget the rest.

I forget how to say the words.
 
 

Alarm di GA10 berdering tepat pukul 05:00, seperti biasa, mengingatkan saya untuk tidur. Dua jam kemudian GA10 kembali berdering, kali ini ada panggilan dari Iqko. Rupanya Papa Beruang itu sudah berada di warung sedang bersantap pagi bersama teman-teman JJS Mks dan CS Mks. Saya mengajak Vby, yang terbangun juga, untuk bergabung dengan teman-teman.

Menu sarapan kali ini tak berbeda dengan menu makan malam semalam; mie siram dan telur, plus kopi hitam. Entah karena diet atau alasan apa, Iqko dan Vby tak banyak melahap nasi. Sepiring berdua, itu pun masih disertai ‘perdebatan’ kecil tentang porsi yang mereka makan. Saya, tentu saja tetap dengan porsi standar, dua bungkus.

Seharusnya, kami cuci muka lalu sarapan tapi kali ini terbalik. Setelah sarapan, barulah kami mencari tempat tuk membasuh wajah. Saya menyusul Iqko dan Vby yang terlebih dahulu ke mesjid setelah jembatan. Sayangnya, air mesjid tidak mengalir. Kami memutuskan menuju sungai yang terletak di seberang, bersebelahan dengan area perkemahan Taddeang.

Saya kecewa, sungai yang saya jumpai ternyata berbeda dalam bayangan saya. Beberapa tahun lalu air sungai ini masih mengalir deras. Terbayang bagaimana dulu seorang teman merendam seorang mahasiswa baru pada proses inisiasi saat saya menjabat Ketua PERISAI FS-UH. Kejadian ini memperkeruh ‘suasana’ saat itu. Mata saya mereka-reka pohon tempat dulu saya menyendiri, menerima nasib sebagai pemimpin yang tak disukai oleh teman-teman dekat karena sikap yang saya pilih. Ah, betapa sebuah tempat memiliki begitu banyak kenangan. Juga pelajaran.

Baca Juga: Dentum Dalam Sunyi Pantai Bara

Untungnya ada satu tempat di mana air mengalir, di situlah kami pilih untuk cuci muka dan sikat gigi. Air mengalir pasti bersih, pikir kami. Kami kembali segar setelah membasuh diri sekadarnya. Kami pun lalu kembali ke gua, menyusul teman-teman yang akan menyusuri gua Saripa. Peserta dibagi dua. Rombongan pertama telah masuk saat kami tiba.

Saya terus menyemangati Iqko, yang katanya mengidap nictophobia alias takut pada kegelapan, untuk turut masuk menyusuri gua. Tentu sangat sayang jika ia melewatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Tak semua orang mendapat kesempatan berada di dalam gua, dan ia akan melewatkannya setelah menempuh jarak 45 km dengan sepeda? Tentu tidak boleh.

Akhirnya Iqko memutuskan ikut bersama Vby dan peserta dalam rombongan ke dua. Saya memilih tetap tinggal di mulut gua untuk jaga barang. Bukannya saya tak suka pada penyusuran gua. Pengalaman susur gua pernah saya dapatkan dan itu sangat berkesan. Dulu, saya menemani seorang teman melakukan pemetaan gua-gua yang membentang antara jejeran karst Pangkep – Maros. Kini teman itu telah menjadi Sekretaris Jurusan Arkeologi Unhas.

Perayaan ulang tahun, lupa yang ke berapa tepatnya, pernah pula saya lakukan di dalam gua, tepatnya Leang Sassang bersama 11 teman. Awalnya, saya hanya ingin berangkat bertiga, namun teman – teman  lain yang mengetahui rencana kami memaksakan diri untuk ikut. Pergilah kami ber 12, delapan di antaranya perempuan menuju ke gua yang berarti Gua Gelap itu.

Menjelang pergantian hari, saat itu saya memilih untuk mencari liang untuk menyendiri. Sekadar refleksi perayaan hari jadi. Teman – teman mengerti dan tidak mencari saya. Baru keesokan harinya, kami beramai-ramai memasuki gua itu. Pada sebuah celah dalam gua yang menghubungkan mulut gua dengan alun – alun. Saya terjebak di celah itu. Celah yang agak vertikal dan berlekuk terasa menjepit tubuh saya. Belum lagi, tubuh teman di depan dan di belakang membuat saya seakan tak bisa bergerak.

Tantrip Gua Saripa Maros - Makan ki

“Empat potong ayam dan satu piring nasi, ya Bu”

Pasrah dan menyerah atau terus berupaya melaluinya adalah pilihan tersisa. Namun, saya memilih pilihan terakhir. Berkat bantuan teman – teman yang terus menyemangati, akhirnya saya mampu melaluinya meski dengan sangat susah payah. Sejak saat itu, saya selalu berkeyakinan. Sekecil apapun peluang atau celah kesempatan yang kita hadapi, niscaya kita dapat melaluinya. Tentu dengan bantuan orang lain, dalam hal ini tentu saja teman – teman terdekat kita.

Sebenarnya saya sangat ingin mengulang momen itu. Hanya saja, jumlah rombongan yang begitu banyak membuat saya mengurungkan diri. Saya mencemaskan apa yang terjadi pada habitat dalam gua jika begitu banyak orang yang memasukinya. Jumlah rombongan kami saja sudah mencapai 30an orang. Belum lagi rombongan lain yang ternyata mengadakan semacam renungan di dalam gua pada malam harinya.

Akses ke Gua Saripa yang mudah membuat gua ini menjadi tempat favorit bagi pecinta alam dan organisasi-organisasi siswa/kemahasiswaan dalam mengadakan kegiatan. Hal ini tentu saja membawa dampak positif pada masyarakat sekitar. Mereka bisa mendapatkan penghasilan dengan membuka warung makan atau kebutuhan pengunjung semisal WC Umum.

Sayangnya, dampak buruk pun mengintai keberlangsungan gua yang memiliki mulut gua cukup besar ini. Gua yang memunyai lorong yang sangat rumit dan berliku-liku dengan panjang sekitar 1500m ini semakin terancam kerusakan. Sengaja atau pun tidak. Saya menemukan beberapa coretan dengan menggunakan cat dan arang. Juga sampah – sampah non organik seperti bungkus – bungkus makanan, baterei dan lain – lain. Hal ini tentu saja mengancam kelestarian ekosistem di dalamnya.

Begitu teman – teman masuk ke dalam gua, saya memilih mendengarkan lagu – lagu Joan Baez. Suara perempuan yang menjadi penyanyi kesukaan Soe Hok Gie ini terasa meneduhkan hingga saya terlelap kembali. Hampir satu jam saya tertidur dan terbangun ketika teman – teman kembali dari penyusuran gua. Iqko dan Vby pun kemudian turun ke untuk mencuci badan di WC Umum milik penduduk yang saya tunjukkan.

Baca Juga: 5 Plugin Wajib Untuk Web dan Blog WordPress

Sesaat Sebelum Pulang..

Selagi menunggu, saya membereskan barang – barang dan memunguti sampah yang ada di sekitar tempat kami. Lega rasanya begitu melihat teman – teman lainnya mengumpulkan sampah dan membawanya turun. Bosan menunggu, saya memutuskan turun sambil membawa barang – barang Iqko dan Vby. Tak berapa, hanya dua ransel dan satu tas kecil kepunyaan saya. Ditambah tiga helm sepeda yang tersampir di tas kami masing – masing.

Saya meninggalkan tas – tas tersebut di teras rumah tempat kami memarkir sepeda dan menyusul ke WC Umum. Iqko dan Vby baru saja usai mandi dan kembali ke Gua mengambil foto bersama teman JJS Mks dan CS Makassar. Tak lama setelah itu, kami beristirahat sembari menghabiskan Roti Maros yang tak sempat kami makan. Kami memutuskan memulai perjalanan pulang pada pukul 14:00 tapi matahari begitu terik. Setengah jam kemudian, setelah terik mereda kami menuju pulang.

Perjalanan pulang terasa mudah. Jejeran pohon melindungi kami dari paparan sinar matahari saat mengayuh sepeda. Hanya sesekali kami singgah. Di antaranya untuk minum dan berfoto di depan gerbang Taman Nasional Bantimurung. Persinggahan yang agak lama hanya ketika memutuskan makan di Rumah Makan Ma’Mur, sekira 3 km sebelum memasuki kota Maros. Awalnya kami hanya tak mau makan, tapi demi alasan menjaga stamina mengayuh sepeda, makanan pun tandas. Ibu pemilik warung sempat bingung ketika saat akan membayar, empat potong ayam dan satu piring nasi untuk kami bertiga. 😀

Gerimis sempat turun di sela sinar matahari sesaat sebelum memasuki kota Maros tapi tidak membasahi kami. Kami juga menyempatkan singgah untuk berfoto di depan Masjid Raya Maros. Beberapa anak kecil yang bermain dan bersepeda di area mesjid pun kami ajak berfoto. Sekadar mencuri sedikit kebahagiaan dari wajah tulus mereka.

Mengayuh Sepeda Menuju Saripa

Mencuri sedikit kebahagiaan dari anak-anak yang bermain di area Mesjid Raya Maros

Perjalanan pulang lumayan lancar, tak ada hambatan berarti. Kami hanya berhenti mengayuh sepeda sesaat ketika ada sejumlah mahasiswa melakukan demonstrasi sebelum memasuki perbatasan Maros – Makassar. Juga ada rombongan mahasiswa berbendera IPMIL, saya tak sempat membaca kepanjangannya, yang melintasi kami. Saya hampir saja terjatuh ketika sebuah sepeda motor dari rombongan itu tiba-tiba memotong jalan saya. Secara spontan saya meneriaki pengendaranya. Untunglah, mereka sepertinya tahu diri. Bayangkan jika mereka berbalik marah!

Barulah setelah rehat sejenak pada KM 20 kami mulai merasakan sedikit kepayahan dalam mengayuh sepeda. Tanjakan panjang memaksa kami untuk terus mengayuh sepeda lebih keras dan itu membuat kami lelah. Jalanan padat juga turut menyiksa. Untungnya, tanjakan panjang itu berakhir di depan kompleks Bulurokeng yang berseberangan dengan gedung Telkomsel sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih santai.

Kami memutuskan untuk tidak berhenti lagi mengayuh sepeda agar bisa tiba di Kampung Buku sebelum gelap. Sesaat setelah lampu lalu lintas pertigaan Tello, ban depan Lespoo pecah. Sepeda fixed gear ini akhirnya menyerah setelah menempuh rute yang tak seharusnya ia jalani. Untunglah jarak ke garis akhir tak lagi jauh, hanya tersisa satu kilometer lebih.

Perjalanan selalu menghasilkan teman – teman baru dan baik hati terbukti lagi. Pemilik akun @Browcyl_Mks melintas dan menghampiri kami. Pemilik akun Brownies Pisang ini kemudian menawarkan membawa Lespoo ke Kampung Buku dengan motornya. Saya lalu bergegas pulang untuk mengambil motor dan menjemput Vby yang berjalan kaki bersama Iqko.

Pukul 18:30 kami tiba dengan selamat di Kampung Buku. Senyum Bobel, dan wajah cantiknya yang segar selepas mandi, menguapkan segala lelah. Perjalanan ini singkat. Hanya dua hari, jarak tempuh sekira 90 Km. Sangat singkat untuk sebuah pelajaran dan jawaban-jawaban yang sangat berharga bagi kami kelak.

Iqko, yang takut akan gelap, akhirnya mendorong dirinya hingga ke batas kemampuan yang ia miliki untuk melawan rasa takut itu dan akhirnya bisa menyusuri gua. Ia ketagihan, bahkan. Kami bertiga, semula tak percaya mampu melakukannya namun ternyata kami bisa. Nikmati perjalanannya dan berlaku adil pada tubuh, niscaya tubuh akan memberikan yang terbaik yang ia bisa.

Saya sendiri menemukan beberapa jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mengikuti. Dan saya mencatatnya dalam hati, sendiri. Seperti perjalanan lainnya, perjalanan kali ini pun menyisakan pertanyaan – pertanyaan lain. Kelak, akan terjawab pada perjalanan selanjutnya.

Tulisan ini adalah lanjutan dari Mengayuh Sepeda, Menuju Saripa #1

ps:  dear Iqko dan Vby (juga Tantra, Lespoo dan Tantri) … Thanks!

Related Posts

About The Author

6 Comments

Add Comment