Mengayuh Sepeda, Menuju Saripa (1)

Setiap perjalanan menyimpan jawaban atas pertanyaannya sendiri,  juga jawaban atas ketakutan manusia. Begitu pun kali ini, perjalanan singkat menuju Gua Saripa Maros yang kami tempuh dengan bersepeda.

Rencana bersepeda dan kemping di Taddeang ini sebenarnya sudah saya rencanakan sebulan lalu tapi terus tertunda dikarenakan banyak hal. Kamis, 18 Oktober, saat makan malam seusai nonton kami memutuskan untuk melaksanakan niatan itu pada Sabtu – Minggu 20 – 21 Oktober. Pada saat yang sama, teman-teman Komunitas @Jalan2Seru_Mks akan mengadakan #FunCaving di Gua Saripa Maros.

Gua Saripa Maros di Dusun Tadeang, Desa Samangki, Kab. Maros. Sekitar 48 Km dari Makassar dan berada tak jauh dari jalan poros Makassar Bone. Sangat mudah mencapai gua ini, hanya butuh semenit. Letaknya di sisi kiri jalan poros sebelum jembatan, di sisi kanan ada lokasi yang biasanya dipakai kemping oleh para pecinta alam, organisasi siswa/mahasiswa seperti PMR, PMI dll.

Pada awalnya saya ragu melakukan #BikeTrip ke Gua Saripa Maros ini, tentu saja karena tak yakin pada kemampuan fisik sendiri. Berbeda dengan @Iqko_ dan @Vbyutami, saya tak rutin bersepeda. Kadang hanya seminggu sekali, pun tergantung mood. Namun, janji dan niatan haruslah dipenuhi agar tak terus tertagih.

Sabtu 20 Oktober siang, saya membawa Tantri ke bengkel untuk persiapan. Tantri adalah sebutan untuk Polygon Estrada 3.0 berwarna merah yang menemani saya selama satu tahun terakhir. Nama ini saya pilih secara iseng mengikuti nama sepeda @Iqko_ yang berjenis sama, Tantra.

Pukul 14:00 saya dan Iqko mulai mengayuh sepeda masing-masing menuju depan gerbang Bumi Tamalanrea Permai, tempat janjian kami bertemu Vby. Jarak tiga kilometer terasa menyiksa. Terik matahari rasanya membakar punggung. Pun, kantuk masih terasa sebab tidur tak cukup malam sebelumnya.

Baca Juga: Wisata Sepeda: Menyusuri Selayar Dengan Sepeda

Tak lama menunggu Vby pun datang bersama Lespoo, sepeda fixed gear berwarna putih. Kami pun memulai perjalanan. Saya memutuskan melepas jaket parasut yang saya kenakan. Sengatan matahari tak lagi terasa, angin yang meniup terasa membasuh tubuh yang mulai basah karena keringat.

Saya mulai menemukan ritme kayuhan sepeda dan melaju meninggalkan Iqko dan Vby lalu berhenti di Pasar Mandai. Sayang, lapak-lapak penjual pakaian cap karung (cakar) sudah mulai tutup padahal saya ingin menunjukkan pada mereka berdua salah satu tempat berburu cakar yang murah. Bosan menunggu saya memutuskan melanjutkan perjalanan sendiri.

Memasuki jalan poros Makassar – Maros, tepat di depan Hotel Darma Nusantara saya berhenti untuk menunggu mereka. Dugaan saya benar, Lespoo ada masalah. Lahar belakangnya patah. Ketika menunggu, terpikir untuk menjumpai teman yang menjadi manajer di hotel tersebut. Menunggu di lobi hotel ber-AC dan bertemu teman lama, tentunya, adalah sebuah bonus yang menyenangkan.

Saya mengurungkan niat itu sebab khawatir mereka kesulitan mencari saya. Agak lama saya menunggu, cukup untuk menghabiskan dua batang kretek Djisamsoe. Tak lama setelah kami lalu melanjutkan perjalanan Vby terjatuh. Gear Lespoo melilit ujung celana yang ia kenakan. Untunglah Vby tak terluka parah, hanya lecet sedikit pada siku dan lebam pada tulang keringnya. Tentu tak mengurangi uang panaik 😀

Setelah yakin mampu melanjutkan perjalanan kami kemudian mengayuh kembali hingga tiba di salah satu rumah makan yang menyediakan Roti Maros. Setengah jam kami gunakan untuk mengisi perut dengan buah dan roti dan belanja bekal makanan lalu melanjutkan perjalanan. Tak ada halangan berarti yang kami temui.

Tantrip Gua Saripa Maros 2012-10-20

Rehat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Gua Saripa Maros, menikmati hijau persawahan di Desa Pakalli Kab. Maros.

Di Desa Pakalli, Maros kami istirah sejenak untuk mengatur kembali nafas yang mulai tak teratur. Kami memilih meluruskan kaki dan badan di jembatan kecil yang membentang di atas kanal irigasi. Hamparan sawah menghijau menjelang senja cukup ampuh untuk mengembalikan kebugaran kami.

Menjelang magrib kami kembali mengayuh sepeda masing-masing. Dengan headlamp kami mulai menyusuri jalanan yang mulai gelap. Beberapa kali berhenti karena rantai si Tantra lepas ketika Iqko memindahkan ke gigi satu. Perjalanan melambat. Teman-teman Jalan-Jalan Seru Makassar satu persatu mendahului kami. Mereka menggunakan motor. Kami berkumpul tak lama setelahnya di warung tak jauh dari jalan masuk ke Gua Saripah.

Kami memarkir sepeda di halaman rumah sebelah warung lalu makan malam dengan indomie siram dan telur. Setelah itu kami memutuskan masuk ke gua. Jalan masuk menuju Gua Saripa tak lebih dari setapak melewati rumah panggung milik warga. Setelah melalui lahan kosong di belakang rumah panggung itu, mulut gua terlihat. Peserta Fun Caving yang digagas oleh Jalan-Jalan Seru Makassar ini ada 36 orang. Mereka adalah anggota JJS Makassar dan juga Couch Surfing Makassar, ditambah kami bertiga.

Di dalam gua, kami dan peserta Fun Caving lainnya berpencar. Ada yang mendirikan tenda dan ada yang hanya memasang matras atau sleeping bag sebagai alas tidur. Ada juga yang memasang hammock. Kami tak membawa peralatan apapun, niatan kami adalah tidur seadanya di dalam gua. Menikmati alam dengan seminimal mungkin peralatan. Kami tak bawa tenda, toh hawa Gua Saripa Maros tak sedingin dibandingkan hawa di luar. Cukup dengan mantel hujan sebagai alas. Namun, kami tak menolak ketika teman-teman menawarkan flysheet dan matras. Berdua Iqko saya menggunakan flysheet dan Vby memakai matras sebagai alas tidur.

Saya lalu membuat semacam jemuran dengan menggunakan akar mati dari pohon dalam gua tak jauh dari tempat tidur kami. Jemuran itu kami pakai untuk menganginkan pakaian yang kami kenakan saat bersepeda. Jangan tanyakan bau pakaian-pakaian itu. Kalian pasti akan menyukai aroma keringat kami 😀

Setelah bersalin pakaian dan rehat sejenak, saya dan Vby bergabung untuk menikmati pisang goreng sajian teman-teman @CS_Makassar. Lumayan mengisi perut, apalagi pisang goreng karamelnya memang enak. Segelas jahe kemasan cukup menghangatkan tubuh, meski tentu saja tak senikmat olahan jahe yang biasa saya seduh sehari-harinya. Kesempatan ini saya gunakan untuk berbincang dengan teman-teman yang selama ini saya kenal hanya melalui akun twitter.

Menjelang pukul 23:00 saya dan Vby kembali ke tempat kami masing-masing. Vby langsung memejamkan mata menyusul Iqko yang sudah terlebih dahulu terlelap. Saya tak bisa langsung tertidur. Berada dalam kegelapan gua adalah saat yang tepat untuk merenung. Berdialog dengan diri sendiri. Mencari kembali jawaban-jawaban atas beberapa pertanyaan pada hati. Semisal: ‘seberapa yakin hati terhadap pilihan kaki melangkah?’. Lagu-lagu relijius Power Metal mengiringi monolog itu hingga saya terlelap.

Baca Juga: Berjalanlah, Kenali dan Cintai Indonesia

Suara-suara kemudian membangunkan saya pada pukul 03:30 wita di tengah remang Gua Saripa Maros. Awalnya saya mengira ada keributan yang terjadi di antara peserta. Teman-teman sebagian besar masih terlelap. Dugaan saya tentu keliru. Apalagi, saya melihat banyak orang yang keluar satu persatu dari dalam gua yang membuat saya yakin keributan itu berasal dari sebuah prosesi yang diadakan oleh rombongan lain yang juga datang pada hari yang sama.

Setelah yakin tak ada hal yang perlu saya khawatirkan, saya memilih kembali mendengarkan lagu-lagu Power Metal. Lirik-lirik lagu band aliran rock yang sempat berjaya di era 90an ini serasa mendekatkan kembali pada sesuatu yang hilang. Entah. Dalam keremangan gua, saya memandangi wajah-wajah Iqko dan Vby. Apa yang lebih indah selain wajah orang-orang yang kita sayangi dan cintai sedang terlelap?

bersambung ke Mengayuh Sepeda, Menuju Saripa (2)

Related Posts

About The Author

12 Comments

Add Comment