Mencoba Berhemat Energi dengan Inovasi “Kompor Air

Oleh Wawicaksono

Boleh jadi penamaan “kompor air” ini tak seratus persen benar. Tapi jangan uring-uringan dulu. Penamaan “kompor air” ini juga tak seratus persen salah. Boleh jadi pemilihan nama “Kompor Air” ini 90% benar. Pasalnya dengan kompor ini, pengguna cukup memakai kombinasi antara satu sendok teh minyak tanah plus satu liter air sebagai bahan bakar maka kompor tersebut bisa menyala selama satu jam. Nah tentu saja sangat jauh lebih hemat bila bandingkan dengan performance kompor biasa yang bisa menghabiskan satu liter minyak tanah untuk waktu yang sama. Hebatnya lagi, kompor ini memiliki semburan api yang lebih kenceng.

Sebenarnya oleh penemunya, Suparmin Sinuang Rahardja, yang merupakan jebolan alumni Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya jurusan elektro ini, kompor tersebut memiliki nama keren yaitu Brazier Water Fuel (BWF). Melalui demo yang dilakukan, Suparmin mampu membuktikan bahwa BWF atau kompor air ciptaannya tersebut mampu menyala dengan api yang sangat kuat, tidak menimbulkan asap, jelaga, bau. dan tingkat suhu yang juga tinggi (warna api agak biru dan bahkan lebih panas dibanding kompor gas.). Namun sesuai dengan namanya, tentu saja kelebihan kompor tersebut, terletak pada iritnya bahan bakar yang diperlukan. Bayangkan saja, untuk satu jam kompor menyala, hanya membutuhkan satu sendok teh minyak tanah! Untuk memasak air menggunakan panci besar hanya membutuhkan 5-10 menit. Untuk masalah keamanannya, dijamin kompor air juga minim risiko meledak.
Rahasianya hemat dari kompor ini adalah, pada perangkat listrik yang dipasang padanya yang berfungsi sebagai alat konversi energi air dan minyak tanah, sekaligus sebagai pengatur panas pada api kompor. Daya listrik yang dipakai pun tidak besar, hanya 10 watt saja. Dengan kombinasi listrik, minyak dan air ini, BWF mampu menyala selama 24 jam penuh hanya dengan satu liter BBM saja yang ditambah sepuluh liter air. Pilihan bahan bakarnya pun tidak terbatas pada minyak tanah semata. Melainkan bisa juga diganti dengan spiritus, alkohol, atau bahan-bakar lainnya. Memang penggunaan airnya cukup boros, namun karena di bumi Indonesia ini air masih cukup melimpah-ruah, maka tidak perlu pusing, Tinggal ambil secara gratis, maka kalau dihitung-hitung biaya pengadaannya bisa dianggap nol.
Proses penemuan kompor air ini tidaklah gampang, Sang penemu, Suparmin Sinuang Raharjo (47) pria asal Kelurahan Kalibagor itu harus mengadakan riset selama tak kurang dari 3,5 tahun. Setelah akhirnya berhasil, kendala yang dihadapi Suparmin tidak hilang begitu saja. Konon meskipun sangat potensial bagi masyarakat, ternyata penemuan ini tidak mendapat sambutan antusias dari pemerintah.
Bisa jadi penemuan ini dianggap kontraproduktif dengan kebijakan pemerintah. Seperti kita tahu bahwa baru-baru ini, pemerintah meluncurkan program nasional untuk mengurangi ketergantungan kepada minyak tanah dengan pembagian kompor dan tabung Elpiji secara gratis. Boleh jadi penemuan ini dianggap bertentangan. Pasalnya setelah repot-repot mencanangkan program pengalihan ketergantungan dari minyak tanah ke Elpiji, masak sekarang harus mendukung kemunculan local genius seperti BWF ini yang notabene menganjurkan pemakaian minyak tanah kembali, meskipun jauh sangat hemat.
Alhasil sampai sekarang pun Suparmin masih belum berhasil menemukan investor yang tertarik. Namun berbeda dengan pemerintah, konon baru-baru ini Suparmin banyak didatangi sejumlah pelaku industri luar-negeri yang berminat membeli paten untuk kompor tersebut hingga senilai 1 milyar rupiah!
Wah… sayang dong, kalau inovasi putra bangsa ini akhirnya jadi milik luar negeri. Nah kalau Anda kebetulan seorang pemodal besar dan masih memiliki nasionalisme untuk mengembangkannya di Indonesia Anda bisa menjalin kerjasama dengan sistem kontrak produksi. Segera saja hubungi Lulu (L.O. dari deperindag Banyumas) di nomor 081548813525.

Related Posts

About The Author

Add Comment