Maya, Kupu – Kupu Dalam Jaringan

Perempuan itu duduk sendiri di pojokan sebuah coffee shop saat saya tiba. Ia melambaikan tangan saat melihat saya sedang memarkir motor. Ia memilih di pojokan belakang namun masih bisa melihat saya karena tempat ia duduk menghadap tepat ke pintu masuk. Coffee shop itu tak begitu luas, hanya seukuran ruko 5×10 meter.

Saya langsung menuju ke tempat ia duduk. Di deretan kursi dan meja yang diperuntukkan bagi 2 (dua) orang yang bersebelahan dengan bar tempat barista meracik kopi. Entah kenapa ia memilih duduk di pojokan belakang yang tak jauh dari toilet itu. Ia berdiri menyambut saya.

“Maya?” saya menyambut uluran tangannya.

“Iya, kakak Cora kan?” sentuhan lembut menyentuh telapak tangan saya.

Kami kemudian duduk. Berhadapan. Sesaat tak ada percakapan. Sepersekian detik. Untuk memecah keheningan saya bertanya bagaimana ia bisa begitu cepat mengenali saya padahal ini pertemuan pertama kami.

“Kakak kan sudah kirim foto kemarin. Gampang banget ingatnya, apalagi rambut gimbal itu” ia tersenyum. Manis sekali. Temaram senja membias di rambut panjangnya.

Ia memperbaiki letak duduknya lalu memanggil pelayan. Seorang lelaki muda datang menghampiri kami. Maya memesan Green Tea. Saya juga. Green Tea pilihan yang paling masuk akal untuk berbuka puasa, pikir saya. Untunglah coffee shop ini menyediakan pilihan lain selain kopi. Saya tak ingin berbuka dengan yang asam kali ini meski janjian awal kami adalah untuk ngopi bareng.

*

Namanya Maya, 24 tahun. Kami berkenalan melalui sebuah aplikasi media sosial beberapa hari lalu. Buah dari keisengan saya setelah chat bersama seorang teman saat menunggu imsak datang. Entah bagaimana mulanya, percakapan kami mengarah pada praktik prostitusi daring (dalam jaringan = online). Untunglah belum memasuki masa menahan, puasa kami masih terjaga.

Teman itu bercerita kalau ia membaca bagaimana praktik prostitusi terselubung melalui media sosial , khususnya di Makassar, di sebuah forum. Bukan hal yang baru sebenarnya, beberapa tahun lalu saya sudah menemukan praktik seperti ini. Melalui Facebook, media sosial terbesar saat ini, sangat mudah menjumpai akun – akun perempuan yang ‘menjajakan’ diri.

Itulah sebab saat seorang artis, yang entah main film atau sinetron apa, tertangkap bersama germonya di sebuah hotel menjadi berita yang tak lagi mengejutkan, paling tidak bagi saya. Media saja yang berlebihan mengabarkannya. Sebagai kota besar Makassar pun tak luput dari fenomena prostitusi daring itu. Saya mengenal beberapa pelakunya, rerata mahasiswi, baik itu dari perguruan tinggi negeri atau pun swasta. Kebanyakan yang saya temui berasal dari luar Makassar.

Saya mengenal Maya bukan melalui Facebook tapi sebuah aplikasi chat buatan developer Thailand yang merangkum semua fitur chat seperti Look Around dan Flip untuk menemukan teman berdasarkan lokasi terdekat atau kecocokan satu sama lain. Subuh itu, usai mengakhiri percakapakan dengan teman tadi saya coba menginstal dan membuat akun aplikasi itu. Tak butuh waktu lama. Cukup dengan mendaftarkan nomer telepon. Tentu saja saya memakai nama samaran dalam akun itu. Akun ini hanya untuk menuntaskan rasa ingin tahu saja.

Fitur pertama yang saya coba setelah terdaftar adalah Look Around, setelah menyaring usia dan jenis kelamin. Female, 20 – 35 tahun. Hasil pencarian menampilkan puluhan akun perempuan yang berdomisili di Makassar. Satu persatu saya membuka akun – akun yang menarik perhatian. Wajah – wajah cantik atau manis, tentu saja. Beberapa akun menampilkan avatar dan status yang segera menyita perhatian saya. Dari status – status itu saya bisa menebak yang mana perempuan – perempuan yang bisyar atau bispak. Istilah ini populer di kalangan anak muda. Bisyar, singkatan dari ‘bisa dibayar’ dan Bispak alias ‘bisa dipakai’. Tentu saya tak perlu menjelaskan apa maksud ‘dibayar’ atau ‘dipakai’ itu kan?

Iseng saya menyapa beberapa di antara mereka. Salah satunya adalah Maya, meski status dan avatarnya berbeda dengan yang lain. Ia tak memajang foto seksi, pun status mengundang. Statusnya biasa saja. Yang menarik saya adalah fotonya bersama seorang anak perempuan kecil. Seorang anak yang lucu. Saya pun menyapanya dengan menanyakan nama itu, yang belakangan saya tahu adalah anaknya. Tak begitu berharap mendapat balasan dan kantuk yang sudah menyerang, saya pun memutuskan untuk tidur setelahnya.

Siang hari, saya mengecek gawai dan menemukan notifikasi dari aplikasi tadi. Balasan sapaan – sapaan yang saya lontarkan subuh tadi pada beberapa akun. Beberapa di antaranya berbasa – basi dulu, ada juga yang langsung menawarkan kencan singkat beserta tarif yang mereka pasang.

Maya hadir dengan jawaban berbeda. Tanpa saya minta ia menceritakan tentang Aurora, anaknya yang berusia 7 (tujuh) tahun. Percakapan dalam aplikasi ini tak berlangsung lama. Maya meminta saya menelponnya. “Kak, koneksi internet lagi tak bagus. Call me” tulisnya. Saya mencoba mengulur waktu, tak ingin segera menelponnya. Setengah mendesak, ia meminta saya menelponnya sesegera mungkin. Lalu mengalirlah percakapan kami.

Melalui percakapan itu saya tahu bahwa ia baru saja bercerai 2 (dua) bulan lalu. “karena KDRT dan dia selingkuh” ungkapnya ketika saya tanyakan kenapa ia memilih berpisah dengan suaminya. Kini, ia bersama Aurora tinggal bersama orang tuanya. Saya memilih menjadi pendengar yang baik. “Mungkin ia kesepian dan butuh teman ngobrol.” pikir saya.

Ia mengungkapkan banyak hal hingga kesukaannya akan kopi. Tanpa pikir panjang saya mengajaknya ketemuan dan ngopi. Saya ingin tahu lebih banyak tentangnya, kisah hidupnya pasti menarik. Status sebagai orang tua tunggal dengan anak berusia 7 (tujuh) tahun yang baru ia jalani mungkin akan mengungkapkan beberapa hal. Ia dengan antusias menyambut ajakan itu dan percakapan kami masih berlanjut hingga ke masalah personal.

“kalau ngopi lanjut kencan bisa tidak?” iseng saya menggodanya setelah beberapa percakapan yang mengarah ke hal sensitif. Ia menjawab dengan santai. “kalau cocok kenapa tidak, hahaha”. Dari balik telepon saya membayangkan seorang perempuan berusia 24 tahun tertawa renyah.

Terlanjur basah. Keisengan untuk tahu mengenai prostitusi daring sepertinya akan menemui jawaban dari seorang perempuan yang justru tak memasang status ‘menjajakan diri’.

“Boleh tahu kalau kencan tarifnya berapa?” dengan sangat berhati – hati saya mengajukan pertanyaan ini.

“Jujur yah kak, saya tak mau munafik. Saya memang butuh uang untuk biaya sehari – hari dan Aurora tapi saya tak jualan” jawabnya. Ia mengaku tak mencari pelanggan di aplikasi media sosial itu. Ia kemudian bercerita bahwa melalui aplikasi itu sudah ada 2 (dua) orang yang mengajaknya ketemuan. Satu orang berakhir dengan check in di hotel, satunya hanya mengajak jalan. Untuk tarif ia tak memiliki harga khusus. “Kalau saya nyaman, gak bayar juga gak papa.” Katanya.

Dari ceritanya, saya menangkap ia masih sangat berhati-hati menerima ajakan untuk check in. “takut dilihat orang, apalagi ini bulan Ramadhan,” ia memberi alasan. Dengan sedikit bujukan ia akhirnya mau bertemu dan coffee shop ini saya pilih karena bersebelahan dengan sebuah penginapan. Pilihan yang ia setujui karena ia tak harus menunggu di lobi hotel saat check-in.

*

Wangi tubuhnya meruap saat ia menunduk sambil mengaduk minuman yang diantarkan oleh pelayan coffee shop. Saya menikmati pemandangan indah yang hadir di depan mata. Apa yang lebih indah dari seorang perempuan manis yang menunduk sambil mengaduk Green Tea?

“Kak sudah buka, ayo minum tehnya” ajaknya sambil tersenyum. Layar tivi menayangkan adzan Mahgrib. Saya lalu ikut meminum Green Tea pesanan. Tak sampai setengah gelas ia habiskan. Maya lalu mengurai rambutnya dan menyadarkan saya tujuan awal kami.

“Saya ke sebelah dulu yah, check-in. Saya akan sms nomer kamar” bisik saya pelan. Ia tersenyum. Saya pun menuju ke kasir membereskan tagihan. Perasaan bercampur aduk saat saya melangkah menuju hotel yang berbagi dinding dengan coffee shop itu.

Silakan bagikan jika kamu anggap artikel ini berguna bagi orang keluarga, teman atau siapa pun..

Related Posts

About The Author

26 Comments

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Facebook
Facebook
Google+
http://lelakibugis.net/maya-kupu-kupu-dalam-jaringan">
RSS
Follow by Email