Marahlah Pada Bapaknya, Jangan Merisak Anak!

Seminggu belakangan netizen Indonesia mempertontonkan bagaimana mereka merisak (bully) anak di media sosial.  Setidaknya pada dua anak; Shafa Sabila Fadli dan R (inisial). Para netizen geram pada kelakuan bapak mereka namun kemudian malah merisak sang anak.

Shafa Sabila Fadli, nama ini tenar seminggu belakangan karena ulah ayahnya, Fadli Zon. Bermula dari bocornya surat Sekjen DPR RI yang meminta bantuan KBRI Washington DC melalui KJRI New York untuk memfasilitasi kunjungan putri Fadli Zon ke Amerika Serikat.

“Dengan hormat kami sampaikan bahwa puteri Wakil Ketua DPR RI Bapak Fadli Zon yaitu a.n. Shafa Sabila Fadli akan melakukan perjalanan ke New York, Amerika Serikat untuk mengikuti Stagedoor Manor 2016 pada tanggal 12 Juni s.d. 12 Juli 2016,” demikian isi surat yang bocor itu.

Entah bagaimana caranya, surat ini kemudian tersebar dan menjadi pembahasan di media sosial. Fadli Zon menuai kecaman netizen. Surat ini mengoyak rasa keadilan masyarakat. Tak sepatutnya Wakil Ketua DPR RI ini meminta fasilitas khusus untuk anaknya. Bukan pada tempatnya politisi Gerindra ini meminta anaknya dijemput dan didampingi oleh staff KJRI mengingat kedatangannya bukan untuk urusan negara. Begitu alasan netizen.

Tentu saja kegeraman para netizen ini benar adanya dan bisa dimaklumi. Sudah bukannya lagi keluarga para pejabat publik mendapat perlakuan istimewa. Kepergian anak Fadli Zon ini dalam rangka kursus. Tak ada kaitannya sama sekali dengan kepentingan negara ini. Lagipula Stagedoor Manor, selaku penyelenggara, sudah mengingatkan untuk peserta berangkat sendiri tanpa penjemputan dan pendampingan. Di website mereka, Stagedoor Manor sudah memberikan penjelasan akan hal tersebut.

Kemarahan netizen atas sikap Fadli Zon ini tidak hanya ditujukan pada politisi partai Gerindra tersebut. Putrinya, Shafa, pun menjadi sasaran kegeraman netizen. Ratusan pesan singkat (sms) masuk ke ponselnya. Dalam surat Sekjen DPR RI yang tersebar itu memang mencantumkan nomer ponsel Shafa. Belum lagi cacian dalam akun media sosial yang ia miliki.

Meski Kepala Biro Kerja Sama Antar Parlemen (KSAP) Saiful Islam telah meminta maaf dan mengaku melakukan kesalahan teknis dalam membuat surat rencana perjalanan putri Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon ke Amerika Serikat (baca di sini), netizen makin geram setelah melihat reaksi Fadli Zon yang mengembalikan uang negara sebesar $100 disertai surat berkop DPR RI ke Menlu RI. Shafa pun kadung menjadi korban perisakan (bullying) netizen.

akun yang mengatasnamakan anak Fadli Zon yang kena risak netizen

akun yang mengatasnamakan anak Fadli Zon yang kena risak netizen

Marah pada kelakuan wakil rakyat yang menunjukkan polah seperti Fadli Zon adalah wajar. Mereka harusnya ingat bahwa mereka adalah pejabat publik yang harusnya melayani warga. Mental berkuasa dan minta dilayani pun seharusnya tak lagi mereka pertontonkan. Tapi tak seharusnya kita menimpakan pada anaknya. Belum tentu anak tersebut meminta fasilitas pada bapaknya. Bisa jadi malahan anaknya tak mau namun tak kuasa menolak keinginan sang bapak. Marahlah pada Fadli Zon, jangan merisak anaknya.

Hal hampir serupa terjadi di Sidoarjo. Lantaran marah pada ayah sang anak yang melaporkan seorang guru ke polisi, netizen pun kemudian menyebarkan foto sang anak. Tak ayal anak itu menuai berbagai kecaman dan cacian. Kasus ini bermula ketika seorang guru mencubit muridnya yang tak mau mengikuti salat berjamaah. Orangtua murid keberatan dan melaporkan sang guru ke polisi atas tuduhan penganiayaan. Sang guru pun masuk penjara.

Netizen pun ramai-ramai mengirim simpati pada sang guru melalui media sosial. Mereka membela nasib sang guru. Sudah menjalankan tugas mulia mendidik anak, eh malah dipenjarakan. Sayangnya, pembelaan pada nasib guru ini disertai pula dengan umpatan pada orang tua murid sang anak. Netizen marah pada tindakan sang ayah anak tersebut yang berlebihan.

Belum lagi judul berita portal-portal pengejar klik yang provokatif seperti “Ini Kelakuan Sebenarnya Bocah Alay yang Ngadu Dicubit Guru” dengan gambar si anak sedang memegang rokok, makin memacu semangat para netizen untuk merisak. Foto itu seakan menjadi bahan untuk merisak (bully) anak itu. “Generasi manja” maki netizen.

Sang guru masuk penjara karena bisa jadi ia benar mencubit anak itu dan menimbulkan luka seperti tuduhan ayah si anak. Mungkin karena ada kelakuan si anak yang membuatnya kesal lalu tak dapat menahan emosi. Bisa jadi pula sang guru tidak mencubit si anak seperti pengakuannya. Kita tidak tahu mana yang benar.

Lalu kita bangga merisak (bully) anak kecil hanya karena menganggap tindakan ayahnya berlebihan? Bisa jadi memang ayah sang anak berlebihan tapi kenapa sang anak yang kena risak (bully)?

Saya yakin kasus anak ini (dan juga kasus Fadli Zon) akan segera kita lupakan. Berganti dengan kasus lain. Kita akan menemukan target dan korban baru dari nafsu merisak kita. Tanpa peduli sisi psikologis dan masa depan anak itu.

Anak itu cuma korban dari cara mendidik orangtuanya yang mungkin kita anggap salah. Terlalu berlebihan. Tapi, anak itu masih berhak atas masa depan cerah seperti anak-anak lainnya. Kita mungkin lupa kalau mental dan sisi kejiwaan anak-anak berbeda dengan orang dewasa.

Andai benar sang guru mencubitnya, anak itu sudah menjadi korban kekerasan fisik. Jangan lagi menjadikan anak itu korban kekerasan verbal melalui media sosial.  Kita tidak tahu seberapa kuat mental dan kejiwaan anak itu. Bagaimana kalau anak itu tak sanggup menghadapi berbagai cacian yang kita lontarkan? Anak tersebut tidak bersalah. Marahlah pada bapaknya!

Tidakkah kita sadar kalau sudah merusak masa depannya hanya karena memenuhi nafsu merisak? Tidakkah kita juga sadar kalau apa yang kita lakukan juga sudah berlebihan?

Siapa yang tahu jika kelak anak itu menjadi ustadz seperti kata seorang teman dalam status fb saya terkait kasus itu. “Niga missengi mancaji ustas matoi matu ana2′ ro kasi…. :)”

anak yg dicubit gurunya

 

*tambahan buat generasi 80-90an yang suka membandingkan diri mereka lebih baik. sila renungkan..

status tentang generasi manja

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment