Makassar Meraih Adipura Karena Danny Pomanto Walikota Hebat

“Kok bisa ya dapat adipura?

Pertanyaan itu saya dapatkan dari seorang teman di official account line@ @lelakibugis saat menyebarkan rute arak – arakan Piala Adipura yang diterima Makassar tahun ini.

Saya hanya menjawab dengan ikon tertawa. Sang penanya seperti meragukan kemampuan kota ini, dan tentu saja walikota, untuk meraih Piala Adipura. Memangnya Makassar bisa meraih Adipura? Bisalah!

Makassar kini dipimpin oleh walikota yang hebat, Ramadhan Pomanto. Bagi Danny Pomanto atau DP, tentu tak sulit mengembalikan piala yang terakhir diraih Makassar ini pada tahun 2013 dan sempat absen hadir di Makassar pada tahun 2014 ini.

Sebelum membahas kehebatan DP, sapaan akrab beliau, dalam program kebersihan mari kita bahas sekilas program  – program DP yang lain. Sejak terpilih menjadi walikota Makassar periode 2014-2019 dan dilantik pada tanggal di Anjungan Pantai  Losari, Makassar, Kamis (8/5/2014), DP telah banyak menghasilkan program dengan singkatan – singkatan menarik. Apa saja itu?

Aparong atau apartemen Lorong. Program ini bertujuan sangat mulia yaitu membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) agar bisa memiliki hunian yang layak. Nantinya, Aparong ini akan berukuran 4×12 meter per unit dan akan dibangun di sejumlah titik kumuh Makassar. Belum jelas kapan program yang menelan biaya 200 juta per unit dimulai. Kita tunggu saja.

Sendok Satu M atau Semua ENak Dengan Oleh-oleh dan Kuliner nomor SATU Makassar. Slogan Sendok Satu Milyar ini adalah respon dari DP menanggapi berita miring anggaran belanja alat makan rumah jabatan walikota yang hampir mencapai satu milyar. Sendok Satu M ini dipakai sebagai sarana promosi pariwisata Makassar. Oh iya, slogan ini bagian dari GEMPAR atau Gerakan Memajukan Pariwisata. Singkatan keren kan?

“Kita akan launching ini, saya juga minta para kreator untuk mendesain sendok berciri khas Makassar, baik tulisan yang melekat digagangnya ataukah kayu khusus, pokoknya yang menariklah,” ungkap DP, seperti yang dilansir portal Merdeka, 24 Desember 2014. Sampai saat ini saya belum pernah melihat wujud dari sendok ini. Ada yang pernah?

Punggawata adalah semacam polisi masyarakat. Program berupa pembentukan ormas ini adalah solusi DP atas maraknya aksi kejahatan bermotor atau geng motor, kalau meminjam istilah media, pada tahun 2014 silam. Punggawata ini mendapat sorotan berbagai pihak, banyak yang mengkhawatirkan ormas ini berubah menjadi ‘preman legal’ dan berbuat di luar kendali. Sampai saat ini saya juga belum pernah melihat keberadaan Punggawata ini. Semoga tidak jadi J

Longgar atau Lorong Garden. Program ini diperkenalkan sejak tahun 2014 silam dan bertujuan lorong lebih tertata, meningkatkan perekonomian masyarakat, dan menyelesaikan beberapa persoalan sosial karena adanya interaksi dan sharing antar masyarakat. “Saya akan membangun ‘Lorong Garden’ dimana setiap lorong yang ada akan dibangun seperti taman-taman hijau yang menyegarkan mata. Saya juga akan membangun lapangan seluas 2 rumah untuk ruang publiknya. Mudah-mudah program ini berjalan di tahun depan yang mana tahun itu merupakan pengadaan infrastruktur di Kota Makassar” ungkap DP dalam pertemuan dengan penggiat komunitas – komunitas dan netizen Makassar beberapa waktu lalu.

Dalam pertemuan itu, Danny Pomanto mengungkapkan telah mencanangkan sebuah ruang publik supaya warga bisa kembali lagi bersosialisasi atau sebagai tempat bermain anak-anak muda. Selain ‘Lorong Garden’, Danny Pomanto juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Makassar sedang membangun rumah singgah bagi anak-anak jalanan, di mana mereka bisa mengembangkan kreatifitas. Janji lain Danny Pomanto adalah akan mengadakan Liga Sepak Bola Jalanan di Anjungan Losari saat Car Free Day setiap minggu. (lengkapnya, baca Mencatat dan (Kelak) Menagih Janji Danny Pomanto).

Percontohan Longgar ini sempat terlihat di kawasan Toddopuli saat pelaksanaan Asean Mayor Forum (AMF) 2015 yang dilaksanakan pada 7-10 September 2015. Beberapa lorong di kawasan itu terlihat cantik dengan cat warna orange dan hijau. Ada pula tanaman – tanaman yang menghiasi dinding – dinding rumah sepanjang lorong. Sayangnya, sebulan setelah kegiatan itu berlalu, Longgar itu hanya menyisakan wadah – wadah tanaman saja. Tanamannya entah ke mana.

Sekarang, mari membahas program – program Danny Pomanto sehingga Makassar bisa meraih kembali Anugerah Adipura.

MTR atau Makassar Tidak Rantasa’. Ini adalah program utama untuk membuat Makassar menjadi kota yang bersih dan nyaman. Rantasa’ sendiri adalah bahasa Makassar berarti jorok dan kotor. Program MTR ini memiliki banyak program turunan demi mendukung keberhasilannya. Kita mulai dengan LISA yah.

LISA ini bukan singkatan dari Monalisa yah, tapi akronim dari LIhat Sampah Ambil. Sebenarnya, akronim ini bukan murni dari DP, saya pernah melihat slogan ini tertempel di sebuah rumah sakit jauh sebelum Danny Pomanto menjadikannya nama program. Tapi, tak apalah kita anggap saja LISA berasal dari DP. Bukankah dia yang mempopulerkannya? Baca juga Lisa, Apa Kabar? dan Tentang Lisa dan Adipura

Selain LISA ada juga Lilung atau Lihat Lurah bermasalah Langsung Ganti. Program ini dibuat Danny Pomanto untuk mendukung program MTR. Menurut Danny, lurah yang tidak pro-MTR atau malas menangani sampah dalam waktu tiga bulan berturut-turut,  akan dikenakan sanksi Lilung. Ada yang tahu sudah berapa lurah yang diganti karena program ini?

Oh iya, di luar Lilung, Danny Pomanto juga pernah menyatakan akan mengganti pejabat yang gaptek dan tidak memanfaatkan tehnologi sebelum tahun 2015. Dalam pertemuan yang saya sebutkan sebelumnya, beliau juga berjanji akan meminta Camat, Lurah dan SKPD dalam lingkup Kota Makassar untuk menggunakan media sosial demi peningkatan pelayanan. Hasilnya jangan tanya! Lebih baik bantu saja ingatkan DP akan janjinya ini.

Untuk menciptakan kota yang bersih, DP juga memulainya dari sekolah dengan meluncurkan program Sebelas Rasa atau Sebelum dan Setelah Sekolah Rapikan Sampah. Bagi yang masih bersekolah, atau yang memiliki anak, adik, ponakan atau keluarga yang masih anak sekolah, tolong dong cari tahu keberadaan program ini.

Tangkasaki atau Truk ANGkutan SAmpah Kita berasal dari kosa kata Makassar yang berarti bersih. Tangkasaki’ berarti sudah bersih (merujuk pada sebuah tempat). Mobil pengangkut sampah inilah yang berperan besar dalam mewujudkan kebersihan Kota Makassar. Tangkasaki’ inilah yang mengangkut sampah – sampah warga Makassar ke Tempat Penampungan Akhir (TPA) yang berada di Antang.

Tangkasaki ini juga menjadi istimewa karena didesain langsung oleh Danny Pomanto, yang juga seorang arsitek. Hebat kan? Arsitek kota tapi bisa merancang desain mobil sampah. Ada banyak keistimewaan truk desain DP. Tangkasaki ini juga mampu memuat lebih banyak sampah hingga 5 sampai 6 kubik.  Truk sampah sebelumnya hanya mampu mengangkut 3 kubik.

Truk pengangkut sampah ini juga bisa beroperasi meski hujan turun karena memiliki penutup.  Tak ada lagi sampah bertebaran di jalan atau bau menyengat yang menyiksa pengguna jalan yang kebetulan berada di dekat truk pengangkat sampah ini. Tangkasaki ini juga dilengkapi dengan Global Positioning System,  yang tentu saja, untuk mendukung konsep Smart City.  Kecanggihan lain yang dimiliki oleh mobil ini adalah bisa membersihkan dirinya sendiri karena memiliki semprot dan tangki air.

Pemerintah Kota juga Makassar mengganti kontainer – kontainer sampah yang mengakibatkan sampah bertumpuk dan kadang berceceran di jalan dengan menyediakan ‘Gendang Dua’. Gendang Dua ini adalah tempat sampah yang berupa rangka besi menyerupai Gendang Dua berdampingan. Sayangnya, keberadaan tempat sampah senilai 1.2 juta per unit ini menjadi sia – sia belaka.

Gendang Dua ini, tak sekali pun saya lihat, memiliki kantong sampah padahal pemerintah sudah menganggarkan pembelian sebanyak 1.937.200 lembar kantong plastik dengan nilai Pagu sebesar Rp7.748.800.000. Hampir 8 milyar! (Bagi yang sempat melihat ‘Gendang Dua’ di sekitarnya, tolong foto dan posting media sosial yah)

Itulah sekilas tentang program – program walikota Makassar, Ramadhan Pomanto. Berbanggalah menjadi warga Makassar. Kalau kalian tidak sepakat dengan saya, paling tidak, kalian harus mengakui kalau DP hebat dalam menciptakan singkatan – singkatan. Coba hitung, sudah berapa singkatan yang telah dihasilkan beliau? Belum lagi masa jabatan beliau masih tersisa beberapa tahun. Bolehlah kita berharap akan ada singkatan – singkatan lahir dari beliau.

Oh iya, saya ingin menutup tulisan ini dengan jawaban dari pertanyaan di awal tulisan. Penanya itu akhirnya menjawabnya sendiri. Begini jawabannya: “Mungkin penilaiannya seberapa banyak t4 sampah transparan yg tidak terisi, karena kita tidak tahu cara mengisinya J”

Bonus: Tutorial penggunaan Gendang Dua bisa diliat di sini

 

Related Posts

About The Author

11 Comments

Add Comment