LISA, Apa Kabar?

Ini bukan tentang Lisa adik kelas saya waktu jaman SMP yang membuat mata susah terpejam karena membayangkan parasnya yang ayu. Lisa, nama lengkapnya Monalisa, raut wajahnya tak jauh berbeda dengan Ine Febriyanti, pacar almarhum Galang Rambu Anarki ini. Monalisa ini lebih indah dari pacar almarhum anak Iwan Fals itu. Lisa ini juga jauh lebih cantik dari lukisan Mona Lisa atau La Gioconda karya Leonardo Da Vinci.

Tapi ini bukan tentang Lisa adek kelas saya itu, bukan juga tentang Mona Lisa karya Davinci yang sangat tersohor itu. Ini tentang LISA, Lihat Sampah Ambil, sebuah program Danny Pomanto walikota Makassar dalam rangka meningkatkan kebersihan kota. Program ini adalah turunan dari program Makassarta’ Tidak Rantasa. Sebuah program yang sudah mengandung ironi sejak peluncurannya. Coba baca berita di bawah ini;

peluncuran makassar tidak rantasa - lelakibugis

Sejak hari peluncurannya pun seperti itu. Seusai peluncuran, sampah bertebaran di lokasi peluncuran padahal gerakan ini adalah gerakan kebersihan. Ironis bukan? Sudah beberapa bulan dari pencanangan program ini namun belum ada hasil yang bisa kita sebutkan. Sampah masih bertebaran di beberapa ruas jalan. Beberapa kontainer sampah di beberapa ruas jalan sampai meluber dan membuat sampah tercecer ke jalan. Hal ini bisa dijumpai di Jl. Rappocini misalnya.

Kota ini memang kekurangan mobil pengangkut sampah hingga mengakibatkan penumpukan sampah di beberapa kontainer. Belum lagi kondisi mobil pengangkut sampah yang kurang layak pakai. Seringkali saya menjumpai mobil sampah yang mencecerkan sampah ke jalanan karena bak mobil yang sudah bolong-bolong.

Dalam sebuah pemberitaan, Danny Pomanto mengungkapkan akan menghilangkan kontainer sampah yang ada di ruang kota dan akan diganti dengan penyediaan kantong plastik untuk setiap rumah.”Ke depan, kita tak akan menggunakan kontainer sampah, sebab sampah akan langsung dibuang ke TPA,” ungkap Danny Pomanto. Sebuah solusi yang tidak ramah lingkungan karena plastik tak mudah terurai. Solusi yang akan menghasilkan masalah baru.

Empat bulan sudah program Makassarta Tidak Rantasa ini bergulir namun apa yang direncanakan Danny Pomanto itu belum terealisasi hingga sekarang. Sampah berceceran di sekitar kontainer sampah pun masih mudah kita temui. Pun dengan mobil sampah yang menebarkan sampah di jalanan yang dilaluinya.

Pagi tadi, 2 November, sebuah acara gerak jalan sehat digelar. Gerak jalan sehat ini digelar oleh pemerintah kota dalam rangka Hari Ulang Tahun ke 407 Kota Makassar. Layaknya sebuah pesta, gerak jalan sehat yang dibuka oleh Wapres Jusuf Kalla ini pun menghasilkan sampah yang bertebaran. Menjadi ironi karena peserta gerak jalan sehat itu mengenakan baju bertuliskan tagline Makassarta’ Tidak Rantasa’. Berikut ini sebuah kesaksian seorang sahabat yang melintas di jalan tempat pelaksanaan gerak jalan sehat seusai pagelaran itu. Sahabat ini melihat bagaimana peserta yang minum dari air gelas dan membuangnya sembarangan. Coba bayangkan jika ribuan orang melakukannya.

kesaksian warga

Tak adil jika kita menimpakan semua masalah kebersihan ini pada pemerintah kota karena warga pun memegang peranan penting dalam menciptakan dan menjaga kebersihan. Seharusnya warga mengikuti himbauan walikota, Lihat Sampah Ambil! Lalu bagaimana jika warga sudah mengikuti himbauan itu tapi tak tersedia tempat sampah untuk menampungnya? Apakah warga harus mengantongi terus sampah itu sampai menemukan tempat sampah?

Dalam pelaksanaan gerak jalan sehat tadi pagi itu seharusnya pemerintah kota sudah mengantisipasi sampah yang ditimbulkan kegiatan yang melibatkan ribuan orang. Ribuan peserta itu tentu makan dan minum saat kegiatan berlangsung, apalagi kegiatan ini disponsori oleh produsen makanan. Tentu saja mereka akan membeli atau membawa, minimal, minuman. Nah, kemasan minuman inilah yang sampah. Belum lagi kemasan makanan siap saja yang dibagikan oleh sponsor.

Antisipasi itu berupa penyediaan tempat sampah oleh perusahaan sponsor kegiatan di sepanjang jalan yang dilalui. Dengan adanya tempat sampah ini, para peserta pun harusnya malu jika membuang sampah sembarangan. Tempat sampah ini tentunya juga bisa terpakai setelah kegiatan gerak jalan santai berakhir.

Adanya tempat sampah ini juga akan mendukung program LISA. Tak ada alasan bagi warga untuk tidak memungut sampah yang mereka temui di jalan karena sudah ada tempat sampah tersedia. Lihat sampah, ambil, lalu buang ke tempat yang tersedia! Tentu, jika seperti ini, kita bisa berharap Makassar akan bersih dan cantik. Meski, tak akan bisa menyamai kecantikan Lisa, adik kelas yang saya ceritakan di awal tulisan ini.

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.