Let’s Visit (Sampah) South Sulawesi

Setiap pesta akan menghasilkan sampah…

Saya lupa kapan kapan pertama kali sampai pada kesimpulan seperti kutipan di atas. Kutipan itu teringat kembali saat mengunjungi Fort Rotterdam dalam rangka Piknik Merajut Komunitas Qui’-Qui’ Makassar. Komunitas yang mnghimpun para perajut ini memang rutin mengadakan piknik sebulan sekali di Fort Rotterdam.

Saat melangkah pulang, seorang teman meminta saya mengambil gambar sisi Fort Rotterdam yang penuh sampah. “Tweet kan kondisi ini” pintanya agar saya nengabarkan keadaan itu via jejaring informasi Twitter. Sisi lapang sebelum bangunan Gereja ini tampak sangat kotor. Melalui umbul-umbul dan panggung yang masih berdiri, saya tahu bahwa baru saja sebuah pesta berlangsung di sisi kiri dari pintu masuk benteng peninggalan Kerajaan Gowa ini.

Pada panggung itu tertulis Let’s Visit South Sulawesi. Pada sebuah umbul-umbul saya menemukan tanggal pelaksanaan kegiatan yaitu 11-14 Oktober 2012. Saat saya datang, 14 Oktober sore, pesta telah usai. Saya tak menjumpai seorang pun baik itu peserta maupun panitia kegiatan.

“Mungkin mereka semua sudah pulang” pikir saya. Sayangnya, mereka pulang dengan meninggalkan sampah bertebaran.  Menjadi ironis ketika kegiatan itu adalah pagelaran seni dengan tagline “Let’s Visit South Sulawesi”. Bukankah seni mengagungkan keindahan? Apakah orang-orang mau berkunjung ke tempat (dan Sulawesi Selatan) ini hanya untuk menyaksikan sampah bertebaran?

Lebih miris lagi, saya juga menyaksikan bagaimana pengunjung lain yang datang ke Fort Rotterdam in dengan santai membuang sampah sembarangan padahal pengelola benteng ini telah menyediakan tempat sampah yang tidak sedikit. Para pengunjung dengan santai meninggalkan sampah tanpa perasaan bersalah sedikit pun.

So, Let’s Visit (Sampah) South Sulawesi

Related Posts

About The Author

3 Comments

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.