Komunitas Makassar: Malam Penggalangan Dana dan Masker Untuk Bencana Asap

Malam ini saya mau menjura dan menghaturkan rasa hormat dan terima kasih pada banyak orang, anak muda Makassar, yang secara sukarela mewujudkan kegiatan kecil dalam rangka penggalangan dana dan masker untuk korban terdampak bencana asap.

Penggalangan dana dan masker ini sebenarnya bukanlah pertama kali teman – teman Komunitas Makassar adakan. Setahun lalu acara serupa kami adakan, membuka posko dan juga malam penggalangan dengan cara melelang barang – barang pribadi teman – teman. Hasilnya, kami kirimkan ke Riau berupa masker N95 melalui PMI Makassar.

Bencana asap ini ternyata terjadi lagi tahun ini. Teman – teman pun kembali berinisiatif membuka posko pada bulan September lalu. Teman – teman berhasil mengumpulkan 7.337 masker saat itu dan menyalurkan bantuan itu melalui PMI Makassar.

bukti penyerahan donasi masker ke pmi

Kabar penggalangan dana dan masker yang dilakukan teman – teman yang terhimpun dalam berbagai komunitas berbeda itu ternyata sampai ke seorang kawan. Kawan itu bertanya kemungkinan kami kembali mengadakan penggalangan dana untuk daerah terdampak bencana asap, khususnya Jambi. Kami mengiyakan. Beberapa posko kembali kami buka.

Demi mengumpulkan lebih banyak donasi dan masker, Na’ – begitu biasa kami memanggilnyaseorang teman mengusulkan untuk mengadakan malam penggalangan donasi. Konsepnya: ngamen. Ada yang nyanyi akustikan, baca puisi dan (mungkin) orasi. Malam itu kami tak membahas detail acara. Ide ini kami lemparkan ke grup Line. Bersambut. Ada 2 (dua) alternatif tempat kegiatan yang kami pilih; Kedai Pojok Adhyaksa dan Sushibizkid, tempat di mana teman – teman penggiat berbagai komunitas biasa berkumpul. Akhirnya kami memilih Sushibizkid dengan pertimbangan kami membutuhkan ‘panggung’.

Minggu malam, 11 Oktober, saya menemui Rama pemilik Sushibizkid. Rama, yang juga Ketua Panitia Pesta Komunitas Makassar (PKM) 2014 ini, langsung mengiyakan. PKM 2014 ini adalah titik awal dimana ratusan komunitas anak muda Makassar bertemu, berkumpul dan beraksi bersama dalam berbagai kegiatan sosial dan filantropi. Bersama Rama dan teman – teman lain yang hadir, kami sepakat untuk mengadakan Malam Penggalangan Dana dan Masker pada Selasa 13 Oktober. Berarti persiapan hanya 2 (dua) hari.

Komunitas Makassar Malam Penggalangan Dana dan Masker Untuk Bencana Asap

 

E-flyer untuk publikasi baru kami sebar mulai Senin malam karena kesibukan teman yang kami percaya untuk membuatnya. Tak butuh lama, e-flyer itu tersebar luas dan berseliweran di media – media sosial semacam twitter, line, FB, IG dan Path. Satu kebutuhan sudah terpenuhi, publikasi. Kami masih harus mencari kebutuhan acara lainnya semisal sound sistem, alat musik dan penampil alias pengisi acara.

Senin malam kami masih bergerilya untuk mencari peralatan itu, tentu saja dengan cara meminjam. Kami tak mau menggunakan donasi yang sudah terkumpul untuk hal lain selain pembelian masker. Akhirnya, seorang teman penggiat komunitas yang memiliki studio musik bersedia meminjamkan dengan catatan kami harus mengambilnya sendiri. Untuk alat musik akustikan, seorang teman dari UKM Caritas bersedia meminjamkan. Semuanya Gratis.

Selasa sore hari, saat menjemput sound sistem, saya masih cemas akan acara ini. Persiapan sangat minim. Yang mencemaskan saya adalah ‘siapa yang akan tampil?’ dan ‘ada tidak yang datang?’. Jujur saja kami tak sempat memikirkan ini sebelumnya. Kami hanya berpikir, bagaimana acara ini bisa terwujud dulu. Sampai sesaat sebelum acara dimulai, saya masih khawatir kekurangan pengisi acara. Saya dan Na’ bahkan terpikir untuk ‘memberanikan diri’ untuk tampil mengisi kekosongan acara jika tak ada penampil.

Ternyata kekhawatiran saya tak terjadi. Ada banyak teman yang secara spontan mengajukan diri untuk mengisi acara. Sebagian besar saya tak begitu kenal. Mereka jadi emsi, bernyanyi, berpuisi, stand up comedy, dan bermain sulap.

Rudi - Malam Penggalangan Dana dan Masker Untuk Bencana Asap

Bahkan, di tengah acara, ada satu orang penonton yang mengajukan diri untuk tampil. Namanya Rudi, ia memberanikan diri dan meminta tampil mengisi acara setelah ikut jadi penonton. Ia mengaku warga dari NTT alias Nusa Tenggara Terabaikan. Begitu ia bilang dalam materi stand-up nya.

Malam itu, saya harus menjura pada mereka semua. Mereka yang tak bisa saya sebut satu – persatu. Tanpa mereka; baik yang menyiapkan acara, meminjamkan semua kebutuhan, membantu publikasi acara dan semua penampil, acara ini tak akan terwujud. Salam hormat saya untuk kalian semua.

 

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment