Komunitas Bissu Segeri

“Banyak calabai tapi bukan Bissu. Kalau ini, calabai sambil dia Bissu juga. Tidak semuanya calabai itu Bissu” terang Arifin Mude sembari menyentuh lutut Puang Salma, seorang Bissu Segeri.

Selain Puang Salma, saat ini tersisa delapan Bissu Segeri dengan Puang Juleha sebagai Puang Matoa yang didampingi oleh Puang Nani sebagai Puang Lolo. Bissu lain yang tersisa hanya Bissu Wa’ Matang, Bissu Ahmad, Bissu Usman, Mak Tenni, Puang Salma, Bissu Eka dan Muharram. Puang Salma dan dua nama terakhir tergolong Bissu  generasi muda. Muharram, atau Harrang (panggilan sesuai kebiasaan Bugis yang mengganti akhiran ‘n’ dan ‘m’ menjadi ‘ng’) saat ini berusia 17 tahun.

Pemimpin Bissu Segeri pertama adalah Sanro Laubba yang memimpin komunitas Bissu pada masa pemerintahan La Tenri Sessu Opu Cenning Luwu Arung Pancana Karaeng ri Segeri Matinroe ri Belawae yang memerintah tahun 1776–1842. Dari namanya, La Tenri Sessu aslinya adalah keturunan bangsawan kerajaan Luwu yang pernah memerintah di Pancana dan Segeri dan dimakamkan di Belawae.

Sanro Laubba adalah pemimpin 40 Bissu dari Bone yang ditugaskan untuk mencari Arajang kerajaan Bone yang hilang. Mereka mendapat perintah untuk membawa pulang Arajang tersebut. Jika gagal, nyawa mereka taruhannya. Mereka mendengar kabar bahwa Arajang yang mirip dengan yang mereka cari ada di Segeri. Sampailah mereka ke Segeri dan menemukan apa yang mereka cari.

Ke 40 Bissu di bawah pimpinan Sanro Laubba itu pun menghadapi posisi sulit. Untuk membawa pulang Arajang itu berarti mereka harus berhadapan dengan La Tenri Sessu yang terkenal sebagai raja yang memiliki kesaktian. Melawan La Tenri Sessu berarti menyerahkan nyawa, pulang tanpa Arajang pun berarti mati. Mereka pun kemudian memilih tawaran La Tenri Sessu untuk tinggal menjadi Bissu kerajaan Segeri dan menjadi penjaga Arajang tersebut.

Setelah Sanro Laubba, komunitas Bissu di Segeri berturut-turut memiliki Puang Matoa antara lain; Sanro Sipatotto, Sanro Baddolo, Puang Nure’, Sanro Sauke’ (Seke’), Sanro Dg Baji, Puang Saidi dan  kini Puang Juleha.

Puang Matoa Bissu Juleha, pemimpin komunitas Bissu Segeri, saat maggiri. (foto: Antara News)

Puang Matoa Bissu Juleha, pemimpin komunitas Bissu Segeri, saat maggiri. (foto: Antara News)

Puang Matoa Saidi pernah berkeliling Asia, Eropa, Australia dan Amerika Serikat mementaskan  I La Galigo sejak tahun 2004 hingga pementasan terakhir di Makassar pada tahun 11 April 2011. Puang Matoa Saidi berpulang pada 28 Juni 2011 tak lama setelah pementasan terakhir. Pementasan ini disutradarai oleh Robert Wilson.

Pada masa kerajaan, posisi Bissu adalah di sisi raja, menjadi penasehat dan mengurusi segala terkait adat – istiadat dan benda pusaka, serta bertugas sebagai tabib pengobatan. Mereka tak perlu mengurusi kebutuhan duniawi karena seluruh pembiayaan upacara dan keperluan hidup komunitas Bissu menjadi tanggungan istana. Belum lagi sumbangan dari para dermawan yang secara rutin memberikan sedekahnya.

Masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan membuat peranan  Bissu mulai ditinggalkan. Mereka tak lagi berperan sebagai pemimpin spiritual. Peranan mereka sebagai penasehat kerajaan pun menghilang seiring meleburnya kerajaan-kerajaan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Segala fasilitas yang dulu mereka dapatkan pun kini tak ada lagi.

Jumlah Bissu semakin menyusut saat terjadi pemberontakan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar pada tahun 1951 hingga 1965. Pengikut Kahar Muzakkar yang ingin mendirikan negara Islam menganggap praktik Bissu adalah perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu Bissu harus disingkirkan. Banyak Bissu dibunuh atau dipaksa kembali menjadi laki-laki. Ada pula yang memilih melarikan diri untuk mempertahankan keyakinan mereka.

Peristiwa G30S juga memberi sumbangsih pada berkurangnya jumlah Bissu. Mereka dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mendapat tuduhan praktik atheis yang tidak memercayai adanya Tuhan. Karenanya harus ditumpas.

Komunitas Bissu di Segeri pun mengalami hal yang sama.  Pada tahun 1966 sejumlah anggota ormas Pemuda Pancasila menyerang Saoraja Arajangnge dan ingin menghancurkan  semua benda pusaka.

“Kenapa (Bissu) Segeri bisa bertahan? Pertanyaannya kan itu, kenapa bisa bertahan? Pada saat Pemuda Pancasila ini naik ke Saoraja, begitu dia naik, banyak sekali orang naik, dilihatnya sebuah ular besar keluar memakannya semua itu dan orang-orang berlarian” cerita Baso Ali Bombong tentang keajaiban dan kejadian mistis yang menyelamatkan keberadaan Arajang dan komunitas Bissu Segeri.

Saat ini untuk bertahan para Bissu terpaksa harus mencari sumber penghidupan sendiri. Sebagian besar mereka memilih untuk menjadi indo botting (ibu pengantin) yang mengatur segala keperluan pernikahan. Mulai dari merias pengantin hingga mengatur keperluan makanan tetamu. Sebagian lainnya bekerja sebagai salon kecantikan.

Beberapa Bissu juga masih bertahan dengan penghasilan yang mereka dapatkan dari kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan wisata budaya. Biasanya pemerintah kota atau pelaksana event mengundang mereka untuk tampil maggiri. Sebuah ritual yang memperlihatkan kemampuan mereka yang kebal terhadap benda tajam.

Keberadaan Bissu ini masih bertahan berkat sinkretisme dalam masyarakat Bugis. Sebagian besar suku Bugis masih mempertahankan kepercayaan dan tradisi lama mereka meski Islam sudah masuk sejak ratusan tahun lalu. Untuk beberapa hal, Bissu masih memiliki peranan sebagai konsultasi spiritual bagi mereka yang ingin naik haji misalnya.

Kehadiran Bissu juga masih tampak pada beberapa pelaksanaan ritual berdasarkan tradisi semisal tradisi Mappalili. Sebuah tradisi yang dilangsungkan saat para petani Bugis ingin memulai musim tanam.

 

Related Posts

About The Author

Add Comment