Kita Aan Mansyur toh, Kak?

Dulu, dulu sekali, pada jaman masih mahasiswa, seseorang datang menghampiri saya di Ruang Tempo UKPM UH dengan pertanyaan di atas. Saya hanya bisa tersenyum saat itu. Perempuan itu bukan orang yang pertama mengira saya Aan Mansyur. Setidaknya, ada dua atau tiga perempuan lain. Oh iya, kita dalam dialek Makassar berarti Anda, biasanya dipakai jika berbincang dengan orang yang lebih tua atau dihormati.

Saat itu nama Aan mulai menanjak dan dikenal sebagai penyair dengan sajak-sajak yang disukai banyak orang, meski tidak mengenal wajahnya. Kesamaan nama Mansyur yang pada nama kami, plus sama-sama mantan ketua hmj yg sama (saya dan Aan beda 1 angkatan) dan sama-sama aktif di Komunitas Ininnawa, mungkin yang jadi penyebab sehingga ada yang salah mengira.

Tapi itu dulu, belasan tahu lalu pada masa belum ada internet yang memudahkan mencari informasi tentang seseorang. Mungkin para penggemar Aan itu mendapatkan informasi yang salah. Bisa juga ada yang usil pada mereka. Berbeda dengan sekarang, informasi tentang siapapun dengan mudah kita temukan sekarang (kecuali orang yang kita cari sangat menjaga informasi pribadinya). Saat ini dengan gampang kita menemukan informasi, bahkan wajah seseorang, di internet. Andai saat itu sudah ada internet, tentu para perempuan itu bisa membedakan wajah saya dan Aan.

Harusnya, dengan kemudahan internet saat ini, kasus salah mengira saya sebagai Aan tentu tak perlu lagi terjadi. Nyatanya, saya kembali mengalaminya lagi.

Baca Juga: Tentang Kemenangan dan Orang-orang Baik di Sekitar Kita

“Kita Aan Mansyur toh, Kak?

Pertanyaan ini muncul lagi kemarin setelah saya meminta konfirmasi panitia yang mengundang saya sebagai salah satu pemateri dalam kegiatan Diklat Jurnalistik yang diadakan oleh salah satu unit kegiatan mahasiswa di mana saya menjadi alumni. Saya meminta konfirmasi apakah benar saya yang diundang setelah melihat nama Aan Mansyur tertera dalam ToR yang saya minta, bukan nama saya.

Panitia yang menghubungi saya malah balik bertanya dengan pertanyaan di atas. Dia ingin memastikan saya Aan Mansyur atau bukan. Pertanyaan yang seharusnya ia ajukan ketika pertama kali menghubungi saya. Mereka sudah memintai kesediaan saya sejak minggu lalu dan saya meminta ToR, yang baru mereka kirimkan hari ini. Saya mengiyakan permintaan mereka mengisi Diklat karena tak mengira mereka salah mengundang.

Andai panitia memastikan saya benar Aan atau bukan sejak awal, tentu mereka akan segera menyadari telah keliru mengirimkan undangan pada saya. Mereka juga jadi punya waktu lebih untuk menghubungi Aan, yang ingin mereka undang.

Hal kecil seperti ini, mengkorfimasi narasumber, harusnya adalah sesuatu yang sudah di luar kepala bagi pegiat Jurnalistik seperti mereka. Sayangnya, mereka abai. Bagaimana mereka menyusun sebuah berita atau liputan kalau memastikan narasumber yang tepat saja terlewat?ย Ini yang membuat saya kecewa.

Juga, saya membayangkan raut muka kecewa para peserta yang mengharapkan bertemu dan mendapat limpahan pengetahuan dari Aan tapi malah menjumpai saya yang mungkin tak mereka kenal sama sekali. Kusyedih.

 

(sumber gambar di sini)

Related Posts

About The Author

5 Comments

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.