Kisah Sekeping Buku

Kisah Sekeping Buku
-Otaketjil-

Sudah hampir sebulan aku menghuni toko buku ini, teman–temanku sesama buku di jajaran best-seller dengan judul sama sudah pamit satu–satu. Mereka sudah bertemu dengan pemiliknya yang ingin sesegera mungkin mengenalnya hingga titik koma penghabisan. Aku serupa seorang anak yatim piatu yang belum dijemput orang tua angkat—sementara temanku meninggalkan panti asuhan bersama ayah-ibu barunya, satu demi satu.
Entah apa yang salah denganku, sehingga aku masih tetap menjadi penunggu toko ini. Tidak dengan desain sampulnya. Tidak ada tinta yang beler atau gambar dan huruf yang tumpang tindih. Tidak pula dengan halaman–halaman bacaannya, jumlahnya lengkap dan tidak saling bertukar tempat—sampai terakhir. Semuanya baik–baik saja, kecuali luka gores pada bungkus plastiknya. Tapi yang benar saja! jelasnya, itu bukan alasan yang tepat untuk tidak membeliku.
Posisiku pun lumayan strategis. Tepat berada di bawah promo-book-nya yang sudah mulai kucel di sudut–sudut lembarannya karena telah berkali–kali dibaca. Itu memang sudah tugas rutinnya. Mempromosikan kami, mempersilahkan orang untuk membuka lembarannya, dengan harapan para pembaca akan melanjutkan bacaannya di rumah dengan membeli salah satu dari kami yang masih terbungkus rapi. Atau kalau lagi sial, benar–benar dibaca sampai tuntas, lalu dikembalikan ke tempat semula. Biasanya oleh para mahasiswa. Karena jarang di antara mereka yang punya duit. Jadi tidak heran jika mereka hanya mampu singgah dan membaca.
Seperti yang saat ini sedang tunduk menekuni huruf demi huruf yang terpatri di lembaranku. Ini kali ketiga ia membacaku selama semingguan ini. setelah selesai dengan dua atau tiga bab, ia lalu pergi begitu saja tanpa membawaku pulang. Padahal aku tahu ia begitu menginginkan aku menjadi bagian dari dirinya. Ingin memiliki aku sebagaimana aku ingin mengenalnya lebih jauh. Mungkin ia tidak punya cukup uang sebagai jaminan untuk membawaku pulang. Seperti yang selalu dilakukan orang-orang setiap kali menjemput teman-temanku. Mereka menukarkan teman-temanku dengan rupiah. Jumlahnya berbeda-beda tergantung ketebalannya atau nama penulisnya. Tapi yang jelas –sekali lagi- sebaiknya bukan karena luka gores sialan itu. Kurasa . . .
Perempuan itu datang seminggu yang lalu. Sendiri. Ia sekonyong-konyong menyita perhatianku sejak memasuki entrance toko buku ini. serta merta aku berharap semoga ia menghampiri aku dan memadamkan debar- debar aneh yang sudah menjangkiti aku sejak pagi tadi. Terlalu pagi malah.
Tapi tidak. Ia berbelok kearah buku-buku agama. Ah, tentu saja. Bukankah ia memakai jilbab. Aku tidak akan heran mengenai kecendrungannya membaca buku-buku yang justeru memaksa pembaca berhenti menggunakan akal.
Seketika aku merasa kecewa. Ia tidak mengenalku, tidak pula menginginkan aku, apalagi menyelamatkan aku dari tempat terkutuk ini yang hampir-hampir membuatku gila. Aku ingin menghirup kebebasan, melihat laju waktu memacu peradaban. Tapi ternyata debar-debar aneh itu sialan dan sia-sia
Selanjutnya aku berkonsentrasi menggerutu. Memaksa perasaanku yang sedari tadi mencak-mencak, untuk segera diam. Ia sudah terlalu sering mengacaukan dan memprovokasi otak kecilku. Membuat alat pikirku kacau balau dan tidak sistemis menyimpan data. Sungguh aku tidak boleh memerdekakannya !
Aku begitu sibuk mengumpat ketika sebuah tangan hangat menyentuhku. Seketika konsentrasiku berguguran demi melihat sosoknya. Ia perempuan berjilbab itu. Yang telah membuatku menunggu terlalu lama dan telah berhasil membuatku cemburu melihatnya seperti tidak mau beranjak dari deretan majalah dan buku berbagai macam desain rumah.
Ia pastilah seorang mahasiswi. Tapi tentunya bukan karena itu aku jatuh hati padanya. Mahasiswa lain pun banyak, tapi mereka lebih memilih buku karya petinggi kampus atau dosen sebagai syarat untuk kenaikan golongan atau malah membeli komik atau majalah. Ah kuharap sel abu-abu mereka tidak beku seketika.
Aku menyukainya begitu rupa karena matanya dengan ramah mengajakku bercakap-cakap, Menanyakan namaku lalu bertanya tentang banyak hal. Semangat yang menyala nyala dan keteguhan yang selalu dibahasakan matanya memaksaku berdoa, meminta kiranya ia tidak melepasakan pandangannya dariku. Membawaku pulang jika mungkin !
Sekali waktu, kudengar kakinya interupsi lewat rasa sakit di urat syarafnya, walhasil aku berusaha membujuk kakinya untuk tetap bertahan. Sebentar lagi kataku dengan wajah memelas. Demikian pula kataku tiga puluh menit kemudian, begitu juga dengan dua jam berikutnya.
Namun menit berikutnya akhirnya tiba. Memaksaku melepaskan kepergiannya. Tidak satu katapun mampu menahannya kali ini. suka atau tidak suka. Namun begitu aku selalu berharap ia segera kembali mungkin besok, mungkin lusa. Yang jelas ia harus kembali mengobati jenuhku. Bisa kau bayangkan betapa membosankannya toko buku ini. Aku sudah berusaha berkenalan dengan teman-teman satu judul, maupun dengan teman dengan judul lain. Tapi sayang mereka bisu. Aku tidak tahu mengapa pihak percetakan menerbitkan aku dengan keanehan ini. kuharap suatu hari aku tahu kenapa.

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.