Kisah Kabir, Kisah Pengungsi Rohingya

Namanya Kabir Ahmad, ia sedang di dapur ketika saya mengunjunginya bersama seorang teman. Ia menyambut kami di pintu wisma lalu mengajak kami ke kamarnya. Ia lalu menceritakan kisahnya: Kisah Pengungsi Rohingya

Di wisma itu tak ada ruang untuk menerima tamu. Ia lalu membukakan pintu kamar dan merapikan tempat tidur yang ada di dalam kamar itu.

Sudah 8 (delapan) bulan lelaki kelahiran Myanmar 01 Januari 1971 menempati kamar berukuran 2.5 m x 3 m itu. Belum sempat masuk ke kamarnya, ia mengajak kami langsung ke dapur. Rupanya ia sedang memasak Kari Ikan, “di Myanmar namanya Shaloon” ujarnya sambil menambahkan air ke dalam panci.

Sudah 25 tahun lelaki ini terpisah dari keluarganya akibat konflik etnik Rohingya. Ia meninggalkan istri dan 3 (tiga) anaknya di Messop, sebuah pedalaman Myanmar dekat perbatasan Thailand.

Di negara asalnya, Kabir bekerja sebagai petani dan juga memelihara ikan dalam kolam. Suatu hari, seorang tentara datang untuk membeli ikan padanya. Kedatangan tentara ini untuk ketiga kalinya. Pada kunjungan pertama dan kedua tentara ini masih membayar saat mengambil ikan.

Kunjungan ketiga, si tentara ini ingin mengambil paksa tanpa membayar ikan milik Kabir. Kabir melawan, “saya pukul kepala dan wajahnya” ungkapnya sambil menunjuk ubun – ubunnya sendiri. Sejak saat itu, Kabir membawa istri dan 3 anaknya kabur dari desanya.

Tercatat sudah berapa negara yang menjadi tempat pelarian Kabir. Di Bangladesh selama 5 (lima) tahun, India 1 (satu) tahun, Thailand 2 (dua) tahun, Malaysia 15 tahun dan Indonesia selama 2 tahun 9 bulan. Di Indonesia, Kabir sudah pernah mengungsi di beberapa kota antara lain; Sukabumi, Bandar Lampung, Pekanbaru, Medan, Tanjung Pinang dan Makassar. Di kota – kota selain di Makassar, Kabir mengaku menjalani hari – harinya dalam penjara. “Nanti di Makassar saya bebas seperti ini” akunya.

Bebas yang dimaksud oleh Kabir adalah tinggal dalam sebuah wisma dan bisa beraktifitas. Selama 8 (delapan) bulan di Makassar, Kabir tinggal di sebuah wisma di bilangan Kumala Makassar. Wisma ini disediakan oleh United Nation Human  (UNHCR) untuk pengungsi Rohingya dan pengungsi dari negara lain. Badan PBB yang mengurusi pengungsi ini juga membantu para pengungsi dengan uang bulanan sebesar Rp. 1.250.000,- per bulan.

Di dapur berukuran 1.5 m x 2.5m ini Kabir Ahmad menceritakan kisahnya, kisah pengungsi Rohingya

Di dapur berukuran 1.5 m x 2.5m ini Kabir Ahmad menceritakan kisahnya, kisah pengungsi Rohingya

 

Uang ini, oleh Kabir, dikumpulkan untuk ia kirimkan ke keluarganya yang ia tinggalkan di wilayah Messop, daerah pedalaman yang dekat dengan perbatasan Thailand. Untuk biaya makan, ia bekerja serabutan membantu tetangga sekitar wisma mengerjakan apa saja. “Saya bisa perbaiki pintu, lemari, jadi kuli bangunan sampai masak” ujarnya.

“Pak Kabir ini serba bisa, ia bisa memperbaiki apa saja. Ia juga cepat akrab dengan warga sekitar sini. Ia tak malu menawarkan diri jika melihat ada tetangga yang sedang memperbaiki atau membangun sesuatu” ungkap Hatib, seorang tetangga yang ia ajak untuk makan siang setelah shalat berjamaah di mesjid dekat wisma.

Saat saya berkunjung ke wisma yang ia tempati, Kabir sedang memasak Kari Ikan, Ikan yang ia masak hari ini ia beli di pasar tradisional tak jauh dari wisma. Begitu pula dengan kebutuhan sehari – harinya seperti beras dan pakaian, ia beli dengan menggunakan uang hasil bekerja serabutan itu. Tentu saja ia melakukannya diam – diam, status sebagai pengungsi membuatnya tidak boleh bekerja di negara yang ia tempati.

“Uang dari PBB itu haram, saya tidak mau memasukkannya ke dalam perut” tutur lelaki yang pernah bekerja di salah satu bengkel di Makassar. Saat itu pemilik bengkel tidak tahu status Kabir sebagai pengungsi sehingga mau mempekerjakannya. “Saat tahu kalau saya pengungsi, dia memecat saya. Mungkin ia tidak mau bermasalah dengan pemerintah” kata lelaki yang juga pernah bekerja sebagai koki di sebuah restaurant di Malaysia ini.

Nasib yang membuatnya berpindah – pindah tempat ini menjadikannya menguasai hampir semua bahasa lokal daerah yang pernah ia tempati sebagai pengungsian. Selain bahasa Indonesia, Ia mengaku bisa berbahasa Bangladesh, India, Thailand dan Malaysia. “Tidak susah mempelajari bahasa Indonesia karena hampir sama dengan Malaysia”

Mata Kabir menerawang saat saya menanyakan kemungkinan ia kembali ke Myanmar. “Tidak mungkin, mereka orang Budha akan membunuh saya. Sudah 3 juta warga muslim Rohingya yang mereka bunuh. Mereka tidak mau melihat kaum muslim berkembang” tuturnya. Menurut penuturan Kabir, etnik Rohingya tak bisa berkembang di Myanmar karena pertikaian agama.

Terpisah jauh dari keluarga setelah sekian lama membuatnya memendam kerinduan. Untuk saat ini, yang ia inginkan adalah berkumpul kembali dengan keluarganya. Kabir berharap, kalau bisa, keluarganya bisa ke Makassar karena tak mungkin ia kembali ke Myanmar. Ia juga punya satu keinginan lain, “Seandainya bisa, saya ingin membuka rumah makan” ungkapnya sambil tertawa saat kami menyelesaikan makan siang dengan menu Kari Ikan dan Nasi yang baru saja ia masak.

tulisan versi lain dari kisah pengungsi Rohingya Kabir Ahmad ini dimuat di Portal Rappler dengan judul Kisah Pilu Pengungsi Rohingya di Makassar

Catatan: saya mewawancarai juga Salim Muhammad Ibrahim, pengungsi dari Sudan. Tulisan tentang Salim akan saya susulkan kemudian.

 

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment