Kisah Ismail, Si Pencari dan Pencuri Ide

Ismail gelisah. Ia harus segera menemukan sesuatu. Besok ia harus sudah menemukan sesuatu itu kemudian mengubahnya menjadi sebuah sesuatu yang lain lagi. Malam – malam yang ada tak lagi bisa ia lalui dengan nyaman. Kerap kali ia terbangun hanya demi memikirkan sesuatu itu. Sesuatu itu benar – benar mengganggunya.

Lelaki berusia awal duapuluhan tahun itu tak menyesali keputusannya bergabung dengan sekumpulan orang – orang yang baru dia kenal itu. Ia hanya terganggu dengan tugas yang ia terima. Selama melepas status jadi mahasiswa, ia tak pernah lagi mendapatkan penugasan seperti kali ini. Hidup tanpa tugas bukankah sesuatu yang mewah? Kini, kemewahan itu terenggut darinya. Tapi ia tak pernah menyesali keputusannya.

Keputusan untuk bergabung dengan sekumpulan orang yang baru dikenalnya itu ia ambil setelah membaca pengumuman yang melintas suatu hari di timelinenya. Tak mudah untuk bergabung dengan perkumpulan itu. Ia beruntung termasuk ke dalam bagian sebelas orang yang diterima padahal pendaftar ada tujuhpuluhan orang. Sebelas dari tujuhpuluhan. Sungguh beruntung, bukan?

Ismail membuka gawai yang menemaninya sehari – hari, tepatnya membuka lagi dan lagi. Sudah berkali – kali ia membukanya namun ia tidak menemukan apa yang ia cari. Sesuatu itu entah menghilang ke mana.  Ia semakin gelisah. Pertemuan kedua semakin dekat. Itu berarti dia harus segera mengumpulkan tugas yang diberikan kepadanya.

Sudah semenjak pertemuan pertama ia terganggu dengan sesuatu yang begitu sulit ia temukan itu. Dalam perjalanan pulang dari pertemuan pertama itu matanya tak henti mencari. Matanya terus berpindah dari objek yang satu ke objek yang lain. Sudah ia susuri semua yang bisa terjangkau oleh mata. Hanya tempat sampah saja yang tak sempat ia periksa. Tetap saja tak berhasil menemukan apa yang ia cari.

Malam ini, tugas yang dibebankan padanya menjelma menjadi burung – burung kecil yang beterbangan di dalam kepala. Sayangnya, burung – burung kecil itu tak mampu membantunya menemukan apa yang ia cari. Matanya tak mampu merekam sesuatu yang selama ini mengganggu pikiran dan malam – malamnya.

Hingga pada suatu malam, ia terjaga dari tidur. Keringat bercucuran. Malam yang gerah. Burung – burung kecil di kepala bernyanyi. Sesuatu membimbingnya ke sudut kamar. Pelan – pelan ia menarik kursi plastik di depan meja lalu duduk. Khidmat. Serupa hamba yang taat menuju altar pemujaan. Mungkin juga seperti seorang bawahan yang menghadap atasan yang sedang berada di puncak amarah.

Telapak tangannya basah. Keringat. Ismail duduk tegap, peluh di tangan berpindah ke paha yang ia usap. Pelan, sangat perlahan ia membuka laptop, seperti seorang pendamba yang membuka surat cinta yang telat tiba. Burung – burung kecil di kepalanya terus bernyanyi dan mulai menari. Di atas tuts laptop, jemarinya menari. Menuliskan sebuah cerita tentang apa yang selama ini ia cari.

Sim Salabim, Abrakadabra, Kun Fa Yakun, apa yang terjadi, terjadilah. Burung – burung kecil di kepalanya terus bersahutan dan bernyanyi. Jemarinya terus menari, tak bisa berhenti.  Tak terasa ia sudah mengetikkan sembilan ratus  tiga puluh tujuh kata. Ia berhenti sejenak. Senyum tipis mengembang dari bibirnya. Peluh yang membasahi kini membawa rasa sejuk. Membasuh wajah di malam yang gerah. Saatnya, menuliskan judul: Mencuri Ide dari ‘Lelaki Bugis’.

Kisah Ismail Mencuri Ide dari Lelakibugis

Kisah Ismail Mencuri Ide dari Lelakibugis

 

***

Ismail adalah salah seorang peserta Kelas Menulis Kepo angkatan kedua. Kisah Ismail yang saya tulis adalah rekaan belaka. Tak lebih dari cara saya mencoba menuliskan sesuatu dengan gaya berbeda. Juga, untuk memanjangkan tulisan. Apa yang saya gambarkan di atas adalah tebakan kejadian – kejadian apa yang melatarbelakangi ia menuliskan sebuah postingan yang ia beri judul seperti di atas. Tulisan itu ia setorkan sebagai jawaban untuk tugas pertama yang kami berikan.

Tulisan ini sebenarnya saya niatkan sebagai pertanggungjawaban saya karena telah memilih tulisannya sebagai Tulisan Terbaik Pekan ini di blog Kelas Menulis Kepo. Saya dan Daeng Ipul, sebelumnya, telah sepakat untuk berbagi tugas dalam memilih dua tulisan yang kami anggap terbaik dari semua peserta kelas. Daeng Ipul memilih tulisan dari ‘Kakak Kelas’, sebutan kami untuk peserta angkatan pertama. Saya harus memilih satu dari tiga belas tulisan peserta angkatan kedua. Kami sepakat mengadakan pemilihan ini untuk memicu dan memacu peserta untuk terus menulis. Juga sebagai bentuk penghargaan pada semangat menulis mereka.

Lalu kenapa saya memilih tulisan Ismail itu sebagai tulisan terbaik untuk pekan ini? Apa istimewanya tulisan itu? Apa karena ia memakai judul yang memasukkan nama (akun) saya?

Sebelum memilih, terlebih dahulu saya membaca dua belas tulisan lainnya. Seperti dugaan saya, hampir semua dari peserta menuliskan sesuatu yang tak jauh dari kehidupan mereka. Tak sedikit yang menceritakan kegiatan yang mereka ikuti. Ada pula yang menulis tentang binatang kesayangannya. Ada yang menyembunyikan curahan hati  berbungkus tulisan fiksi. Ada pula yang menuangkan pertanyaan di kepalanya tentang bagaimana ia tiga bulan ke depan setelah mengikuti kelas ini, saya hampir memilih tulisan ini sampai akhirnya saya membaca tulisan Ismail yang membuat saya menuliskan kisah Ismail ini.

Kami sengaja membebaskan mereka dalam menentukan tema tulisan. Tujuannya, tak lain tak bukan, adalah kami ingin tahu sejauh mana mereka menemukan ide lalu menuangkannya ke dalam tulisan. Tak ada yang mengejutkan dari tulisan mereka. Ide tulisan mereka datang dari hal terdekat, keseharian mereka. Begitulah semestinya ide tulisan berasal.

Ismail berbeda. Ia menyadari bahwa ide itu melimpah ruah di sekitarnya tapi ia tak menemukan satu pun untuk ia tuangkan menjadi sebuah tulisan. Apakah ia menyerah? Tidak. Ia berhasil dalam kegagalannya. Ketak-mampuannya menemukan ide tulisan ia tuangkan menjadi sebuah tulisan. Tak ada ide adalah sebuah ide!

***

*Sebenarnya Ismail membuat sebuah tulisan lagi setelah ‘Mencuri Ide dari ‘Lelaki Bugis’’ yaitu sebuah surat cinta untuk ibunya. Surat cinta ini, akunya, adalah bentuk ‘pencurian’ ide tulisan dari Surat Cinta Yang Telat. Andai ia menyetorkan tulisan ini sebagai tugas pertamanya, yakinlah, saya tak akan memilihnya sebagai Tulisan Terbaik Pekan Ini.

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment