Kisah Arajang Segeri

“Tega tapileh, tello seddie atau tello maegae?” We Tenri Leleang menghadapi dua pilihan sulit. Baso Ali Bombong menceritakan Kisah Arajang Segeri.

Baso Ali Bombong, seorang pemangku adat Segeri, menceritakan kembali kisah Arajang Segeri ini kepada kami dan menjelaskan pilihan yang harus dihadapi We Tenri Leleang.  Tello seddi merujuk pada putranya yang bernama La Tenri Sessu atau tello maegae yang bermakna rakyat Luwu yang ia cintai. We Tenri Leleang Sultanah Aisyiah nama lengkapnya, saat itu adalah Pajung Luwu ke 23.

Sebuah pilihan yang tentu saja teramat sulit. Sebagai seorang ratu yang memerintah kedatuan Luwu tentu sulit melepaskan tahta. Tapi, ia juga seorang ibu yang sangat mencintai anaknya La Tenri Sessu. Sayangnya, La Tenri Sessu ini terkenal sebagai bangsawan yang temperamental dan suka kelahi. Berkali-kali ia membuat masalah hingga ia harus terusir dari kerajaannya. Sang ibu pun melepas tahta dan memilih pergi bersama anaknya.

Mereka kemudian berlayar ke selatan dan tiba pada negeri Tanete. Di Tanete, yang sekarang menjadi bagian Kab. Barru, kegemaran La Tenri Sessu berperang tidak hilang. Ia kemudian terusir lagi. We Tenri Leleang pun setia mengikuti ke mana anaknya pergi.

Dalam pelayaran ke negeri Segeri, di tengah lautan luas sekonyong-konyong sebuah  kayu terlempar naik ke perahu yang mereka tumpangi. Berkali-kali pengawal La Tenri Sessu membuangnya, berkali-kali pula ombak mengirimnya kembali ke atas perahu. La Tenri Sessu kemudian teringat pada mimpinya tentang sebuah arajang (benda pusaka kerajaan) yang akan datang menghampirinya. Ia pun memerintahkan pengawalnya untuk menyimpan kayu berbentuk bajak itu.

Setibanya di Segeri, La Tenri Sessu pun membangun sebuah perkampungan bernama Kalampangnge’. Tak lama kemudian, ia pun berpindah ke kampung Segeri di Belawae, tepi Sungai Segeri bersama arajang berupa bajak yang ia dapatkan di lautan.

Jauh dari Segeri, kerajaan Bone riuh oleh berita hilangnya salah satu benda pusaka kerajaan. Raja Bone pun memerintahkan 40 Bissu yang dipimpin oleh Sanro Laubba untuk mencari benda pusaka itu. Ke 40 penjaga arajang ini mendapat titah harus pulang bersama arajang itu. Jika tidak, nyawa mereka taruhannya.

Bukan hal mudah bagi Bissu Patappuloe (40 Bissu) itu untuk mengembalikan arajang ke Bone karena La Tenri Sessu terkenal sebagai orang yang memiliki kesaktian tinggi. Para Bissu itu menghadapi dua pilihan yang semuanya berujung kematian. Pulang tanpa membawa arajang berarti menghadapi hukuman mati dari raja mereka di Bone. Mengambil paksa arajang itu berarti kematian di tangan La Tenri Sessu. Untunglah La Tenri Sessu menawarkan pilihan ketiga: tinggal di Segeri menjadi penjaga benda pusaka itu. Ke 40 Bissu pimpinan Sanro Laubba pun memilih tawaran itu dan menetap di Segeri sebagai penjaga arajang yang berupa bajak sawah itu.

Bajak sawah atau dalam bahasa Bugis disebut Rakkala adalah arajang ketiga negeri Segeri dan masih tersimpan di Saoraja (istana) Arajangnge Segeri. Saoraja ini terletak di Kelurahan Bontomatene, Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep sekarang, 72 kilometer arah utara Makassar. Arajang ketiga ini sudah tak digunakan lagi karena patah dan digantikan oleh Arajang keempat.

Konon, kisah arajang Segeri, arajang keempat ini didapatkan di pegunungan Lantiangoro, di perbatasan Segeri – Pancana, setelah Puang Matowa Bissu (gelar pemimpin Bissu) mendapatkan mimpi untuk menjemput arajang tersebut. Dengan membawa sesajen berupa ayam berbulu putih, rombongan Bissu pun menuju ke tempat itu dan berhasil menemukan sebuah pohon berbentuk bajak. Mereka kemudian menebang dan membawa arajang itu ke Saoraja.

Sebagai benda pusaka, arajang itu hanya bisa dilihat oleh khalayak ramai setahun sekali pada saat ritual Mateddu Arajang (Bugis: Membangunkan Arajang) dan Mappalili atau ritual sebelum memulai musim tanam.

Sumber-sumber

Sex, Gender and Priest in South Sulawesi ~ Sharyn Graham, MA.

Wawancara dengan Andi Baso Ali Bombong, pemangku adat Segeri (16 Mei 2016)

Wawancara dengan Arifin Mude, tokoh masyarakat Segeri (16 Mei 2016)

Wawancara dengan Puang Salma, seorang bissu di Segeri (16 Mei 2016)

(Historia, EKO RUSDIANTO) Senin 11 Januari 2016 WIB)

Catatan: bagian ini ini dimuat juga di HelloMakassar.com

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment