Kidung Bisu Komunitas Bissu’

Ipanippika’ engka maneng mappakkoe yase’na buaku. Namo tittiki de’na rebba  ero agagae”

Kata-kata itu keluar dari mulut Puang Salma, 39 tahun, sembari menunjuk pisang dan daun sirih di depan kami. Sekilas, secara fisik Salma adalah laki-laki. Namun suaranya pelan, lembut seperti suara perempuan. Gemulai.  Ia menjelaskan bagaimana ia memutuskan untuk menjadi Bissu’ karena menerima panggilan berupa mimpi. Puang Salma adalah seorang Bissu yang tersisa di komunitas Bissu’ di Segeri.

Berbeda dengan suku lain, masyarakat Bugis mengenal 5 (lima) gender; Orowane (laki-laki), Makkunrai (perempuan), Calabai (laki-laki yang keperempuanan) dan calalai (perempuan yang bersifat laki-laki), serta Bissu’.

Bagi awam,  masih banyak yang salah memahami pembagian gender utamanya mengenai Bissu’. Seringkali mereka menyamakan Bissu’ dengan calabai atau waria. Sekilas, dari segi penampilan keduanya memang nyaris serupa, laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan. Sebab itu pula Bissu’ dikenal juga sebagai para-gender.  Para-gender is a gender identity that is close to, but not exactly, a gender.

Puang Matoa Saidi salah satu pemimpin Bissu’ terdahulu, menceritakan pada Eko Rusdianto  yang kemudian ia tulis dalam majalah dalam Historia, tentang gendernya apakah sebagai laki-laki, perempuan, atau waria. “Tidak nak. Saya ini Bissu’. Bissu’ itu sendiri,” jawabnya kepada Historia. Saidi, Puang Matoa adalah gelar bagi pemimpin Bissu’, kemudian mengangkat tangannya. Membuka telapaknya, lalu memegang jempolnya. Jempol itu, kata dia, adalah bura’ne (laki-laki), kelingking adalah makunrai (perempuan), telunjuk adalah calabai (waria), jari manis adalah calalai (tomboi), dan jari tengah untuk Bissu’.

Sebagai penghubung manusia dan dewata, Bissu’ menggunakan bahasa tersendiri yang disebut Himme’, juga disebut Basa Bissu’ atau Basa Dewata.

Puang Salma menerima kami di Saoraja Arajang Segeri, Kab. Pangkep yang berjarak 72 kilometer arah utara Makassar. Saoraja itu berbentuk sebuah rumah panggung berwarna hijau dengan ruang kosong seluas tiga perempat dari luas rumah. Sepertiga bagian yang berada di bagian belakang berukuran sekira 2×10 meter, merupakan bilik di mana Puang Salma menerima kami.

Di bagian atas bilik itu, tergantung sebuah benda berukuran sekira tiga meter berbungkus kain putih. Di dalam bungkusan itu adalah alat bajak sawah atau dalam bahasa Bugis disebut rakkala yang merupakan arajang atau benda pusaka. Salah satu tugas yang tersisa kini adalah sebagai penjaga arajang.

Pertemuan kami diawali oleh pembacaan doa dengan aroma dupa yang menguar menambah kesan mistis. Arifin Mude, seorang pemangku adat, menyodorkan nama kami dalam secarik kertas pada Puang Salma. Mulut Puang Salma komat-kamit seperti sedang merapal mantra di depan sesajen berupa pisang dan daun sirih.

 

PROSESI--Beberapa bissu terlihat sedang menjalankan prosesi upacara Mappalili di Segeri, Pangkep, November 2010. (TEMPO/Irmawati)

PROSESI–Beberapa bissu terlihat sedang menjalankan prosesi upacara Mappalili di Segeri, Pangkep, November 2010. (TEMPO/Irmawati)

Setelah berdoa, Puang Salma melanjutkan kisah awal mula ia menjadi Bissu’. Dalam mimpi itu, ia melihat pisang dan daun sirih diletakkan di atas perutnya. Pisang dan daun sirih itu bergeming meski ia memiringkan badan. Mimpi itu, pisang dan telur adalah bagian dari persembahan dalam upacara adat suku Bugis, oleh Puang Salma ia artikan sebagai manase’  atau  panggilan untuk menjadi Bissu’.

Panggilan berupa mimpi itu ia dapatkan saat ia sudah lulus SD. Salma pun kemudian berguru pada Sanro Seke’ selama sembilan tahun bersama tiga temannya. Seperti Puang Salma, ketiga temannya pun berhasil menjadi Bissu’ melalui proses yang tidak mudah. Sebuah ritual agar mereka mampu menekan hasrat biologis dan melepas kodrat seksual.

Untuk menjadi Bissu’, Puang Salma harus melalui ritual irrebba (dibaringkan). Dalam ritual irrebba itu, calon Bissu’ dimandikan dan dikafani atau dalam bahasa Bugis disebut wuju. Selama proses itu ia tak boleh melakukan apa pun termasuk makan dan minum selama 3-7 hari. Proses ini untuk menghilangkan nafsu duniawi sebelum mereka menjadi Bissu’.

Dahulu kala, pada masa Bugis pra Islam Bissu’ memiliki tempat tersendiri  dalam masyarakat Bugis. Kehadiran Bissu’ sama tuanya dengan kebudayaan Bugis. Dalam Sureq I La Galigo, saat sang penguasai langit Patoto’e memutuskan mengirimkan anaknya Batara Guru untuk mengisi dan memakmurkan dunia tengah (bumi), ia juga mengirimkan dua Bissu’ untuk menemani.

Dua orang Bissu’ ditugaskan untuk mendampingi Batara Guru dalam mengatur semuanya. Mulai dari menciptakan bahasa, adat istiadat dan apapun yang dibutuhkan Batara Guru. Dalam Sex, Gender and Priest in South Sulawesi, Sharyn Graham, MA, seorang peneliti dari University of Western Australia di Perth, Australia mengisahkan sebuah narasi yang ia dapatkan dari lontara’ yang berasal dari tradisi lisan masyarakat Bugis.

Kisah itu menceritakan betapa pentingnya Bissu’ dalam kehadiran manusia. Tersebutlah, saat Sawerigading ingin menikahi We Cudai yang tinggal di sebuah pulau di sebuah danau. Sawerigading membutuhkan sebuah perahu untuk menyeberang ke pulau di mana We Cudai tinggal. Untuk itu ia membutuhkan kayu. Sayangnya, Sawerigading tak mampu menebang pohon untuk membuat perahu.

Sawerigading pun menangis semalaman hingga seorang Bissu’ di dunia atas (langit) mendengar tangisannya. Sang Bissu’ pun turun dan menebangkan pohon yang oleh Sawerigading dibuat menjadi perahu. Dengan perahu itu, Sawerigading pun menemui dan menikahi We Cudai. Keturunan merekalah yang dipercaya sebagai awal mula manusia Bugis.

 “Banyak calabai tapi bukan Bissu’. Kalau ini, calabai sambil dia Bissu’ juga. Tidak semuanya calabai itu Bissu’” terang Arifin Mude sembari menyentuh lutut Puang Salma.

Selain Puang Salma, saat ini tersisa delapan Bissu’ di Segeri dengan Puang Juleha sebagai Puang Matoa yang didampingi oleh Puang Nani sebagai Puang Lolo. Bissu’ lain yang tersisa hanya Bissu’ Wa’ Matang, Bissu’ Ahmad, Bissu’ Usman, Mak Tenni, Puang Salma, Bissu’ Eka dan Muharram. Puang Salma dan dua nama terakhir tergolong Bissu’  generasi muda. Muharram, atau Harrang (panggilan sesuai kebiasaan Bugis yang mengganti akhiran ‘n’ dan ‘m’ menjadi ‘ng’) saat ini berusia 17 tahun.

Bissu memimpin upacara adat di Segeri tahun 1933 foto potretlawas

Bissu’ memimpin upacara adat di Segeri tahun 1933 | foto @potretlawas

Komunitas Bissu’ di Segeri mengenal dua tingkatan Bissu’, yaitu Bissu’ Tanre’ (tinggi) dan Bissu’ Pance’ (pendek).  Bissu’ Tanrre’ ini dianggap memiliki kemampuan dan pengetahuan tinggi. Biasanya mereka berjumlah 40 orang dan hadir dalam ritual-ritual penting seperti Matteddu Arajang dan Mappalili.  Bissu’ Pance’ dianggap memiliki kemampuan dan pengetahuan lebih rendah dan hanya hadir pada upacara kerajaan biasa. Jumlah mereka biasanya hanya enam orang.

Para Bissu’ ini dipimpin oleh seorang Puang Matoa yang biasanya dipilih dari Puang Lolo atas kesepakatan dan persetujuan Raja. Puang Lolo adalah pendamping Puang Matoa sebagai pimpinan Bissu’. Puang Lolo biasanya dipilih oleh komunitas Bissu’ itu sendiri dan tentu saja harus melalui persetujuan Raja. Selain Puang Matoa dan Puang Lolo, Bissu’ lain disebut Bissu’ biasa.

Pemimpin Bissu’ pertama di Segeri adalah Sanro Laubba yang memimpin komunitas Bissu’ pada masa pemerintahan La Tenri Sessu Opu Cenning Luwu Arung Pancana Karaeng ri Segeri Matinroe ri Belawae yang memerintah tahun 1776–1842. Dari namanya, La Tenri Sessu aslinya adalah keturunan bangsawan kerajaan Luwu yang pernah memerintah di Pancana dan Segeri dan dimakamkan di Belawae.

Sanro Laubba adalah pemimpin 40 Bissu’ dari Bone yang ditugaskan untuk mencari Arajang kerajaan Bone yang hilang. Mereka mendapat perintah untuk membawa pulang Arajang tersebut. Jika gagal, nyawa mereka taruhannya. Mereka mendengar kabar bahwa Arajang yang mirip dengan yang mereka cari ada di Segeri. Sampailah mereka ke Segeri dan menemukan apa yang mereka cari.

Ke 40 Bissu’ di bawah pimpinan Sanro Laubba itu pun menghadapi posisi sulit. Untuk membawa pulang Arajang itu berarti mereka harus berhadapan dengan La Tenri Sessu yang terkenal sebagai raja yang memiliki kesaktian. Melawan La Tenri Sessu berarti menyerahkan nyawa, pulang tanpa Arajang pun berarti mati. Mereka pun kemudian memilih tawaran La Tenri Sessu untuk tinggal menjadi Bissu’ kerajaan Segeri dan menjadi penjaga Arajang tersebut.

Setelah Sanro Laubba, komunitas Bissu’ di Segeri berturut-turut memiliki Puang Matoa antara lain; Sanro Sipatotto, Sanro Baddolo, Puang Nure’, Sanro Sauke’ (Seke’), Sanro Dg Baji, Puang Saidi dan Puang Juleha.

Puang Matoa Saidi pernah berkeliling Asia, Eropa, Australia dan Amerika Serikat mementaskan  I La Galigo sejak tahun 2004 hingga pementasan terakhir di Makassar pada tahun 11 April 2011. Puang Matoa Saidi berpulang pada 28 Juni 2011 tak lama setelah pementasan terakhir. Pementasan ini disutradarai oleh Robert Wilson.

Pada masa kerajaan, posisi Bissu’ adalah di sisi raja, menjadi penasehat dan mengurusi segala terkait adat – istiadat dan benda pusaka, serta bertugas sebagai tabib pengobatan. Mereka tak perlu mengurusi kebutuhan duniawi karena seluruh pembiayaan upacara dan keperluan hidup komunitas Bissu’ menjadi tanggungan istana. Belum lagi sumbangan dari para dermawan yang secara rutin memberikan sedekahnya.

Masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan membuat peranan  Bissu’ mulai ditinggalkan. Mereka tak lagi berperan sebagai pemimpin spiritual. Peranan mereka sebagai penasehat kerajaan pun menghilang seiring meleburnya kerajaan-kerajaan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Segala fasilitas yang dulu mereka dapatkan pun kini tak ada lagi.

Ritual Maggiri’ yang dilakukan oleh Puang Matoa Juleha /Antara foto

 

Jumlah Bissu’ semakin menyusut saat terjadi pemberontakan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar pada tahun 1951 hingga 1965.Pengikut Kahar Muzakkar yang ingin mendirikan negara Islam menganggap praktik Bissu’ adalah perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu Bissu’ harus disingkirkan. Banyak Bissu’ dibunuh atau dipaksa kembali menjadi laki-laki. Ada pula yang memilih melarikan diri untuk mempertahankan keyakinan mereka.

Peristiwa G30S juga memberi sumbangsih pada berkurangnya jumlah Bissu’. Mereka dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mendapat tuduhan praktik atheis yang tidak memercayai adanya Tuhan. Karenanya harus ditumpas.

Komunitas Bissu’ di Segeri pun mengalami hal yang sama.  Pada tahun 1966 sejumlah anggota ormas Pemuda Pancasila menyerang Saoraja Arajangnge dan ingin menghancurkan  semua benda pusaka.

“Kenapa (Bissu’) Segeri bisa bertahan? Pertanyaannya kan itu, kenapa bisa bertahan? Pada saat Pemuda Pancasila ini naik ke Saoraja, begitu dia naik, banyak sekali orang naik, dilihatnya sebuah ular besar keluar memakannya semua itu dan orang-orang berlarian” cerita Baso Ali Bombong tentang keajaiban dan kejadian mistis yang menyelamatkan keberadaan Arajang dan komunitas Bissu’.

Saat ini untuk bertahan para Bissu’ terpaksa harus mencari sumber penghidupan sendiri. Sebagian besar mereka memilih untuk menjadi indo botting (ibu pengantin) yang mengatur segala keperluan pernikahan. Mulai dari merias pengantin hingga mengatur keperluan makanan tetamu. Sebagian lainnya bekerja sebagai salon kecantikan.

Beberapa Bissu’ juga masih bertahan dengan penghasilan yang mereka dapatkan dari kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan wisata budaya. Biasanya pemerintah kota atau pelaksana event mengundang mereka untuk tampil maggiri. Sebuah ritual yang memperlihatkan kemampuan mereka yang kebal terhadap benda tajam.

Keberadaan komunitas Bissu’ ini masih bertahan berkat sinkretisme dalam masyarakat Bugis. Sebagian besar suku Bugis masih mempertahankan kepercayaan dan tradisi lama mereka meski Islam sudah masuk sejak ratusan tahun lalu. Untuk beberapa hal, Bissu’ masih memiliki peranan sebagai tempat konsultasi spiritual bagi mereka yang ingin naik haji misalnya.

Kehadiran Bissu’ juga masih tampak pada beberapa pelaksanaan ritual berdasarkan tradisi semisal tradisi Mappalili. Sebuah tradisi yang dilangsungkan saat para petani Bugis ingin memulai musim tanam di mana arajang berupa bajak sawah itu diturunkan dan diperlihatkan pada khalayak ramai.

Baca Juga 5 Cendikiawan Terkenal Bugis

*

Sumber-sumber

Sex, Gender and Priest in South Sulawesi ~ Sharyn Graham, MA.

Wawancara dengan Andi Baso Ali Bombong, pemangku adat Segeri (16 Mei 2016)

Wawancara dengan Arifin Mude, tokoh masyarakat Segeri (16 Mei 2016)

Wawancara dengan Puang Salma, seorang Bissu’ di Segeri (16 Mei 2016)

(Historia, EKO RUSDIANTO) Senin 11 Januari 2016 WIB)

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment