Keripik Pisang dan Kita*

Kisah di bawah ini adalah kisah nyata yang ditulis oleh seorang teman di status FB-nya. Bagi saya tulisan ini menyentuh keseharian kita, untuk itu saya merasa perlu membaginya di sini.

Tadi ketemu dengan seorang Tunatera yang berjualan Kripik Pisang, sebungkus krupuk pisangnya seharga 10 ribu, saya beli satu, kemudian dia berlalu.

Mata saya terus mengikuti kepergian tunatera tersebut, saya kagum sama dia, dengan keterbatasannya, dia tetap berusaha mencari nafkah, berjalan meter demi meter hanya bermodalkan tongkat yang menjadi matanya, dengan menggoyangkan-goyangkan tongkatnya, dia bisa tau harus melangkah kemana, getaran yang merambat melalui tongkat yangdia gunakan seperti sebuah petunjuk yang secara cepat berubah menjadi langkah hingga tak menabrak apapun, bahkan di sebuah jalan yang lalu lintasnya ramai,
Sudah 20 meter si tunatera ini berlalu, pandangan mata saya belum terlepas darinya, saya masih takjub, orang ini tidak bisa melihat tapi tidak hanya duduk diam mengeluh dan menyalahkan keadaan, tapi dia berusaha dengan menjual kripik pisang, mungkin dia mengerti bahwa apapun yang terjadi pada dirinya adalah sebuah pemberian dari Allah yang siapapun tidak bisa menolaknya, dan Life must go on.

Nah kita yang normal, kadang tidak sadar dengan “kesempurnaan” fisik dan fasilitas yang kita punya, tapi tetap saja mengeluh.

20 meter berlalu saya menyaksikan kejadian yang membuat saya tercengang, si Tunatera ini terbentur pada sebuah truk yang parkir di bahu jalan, mungkin karena tongkatnya hanya meraba di bagian bawah, sehingga dia tidak tahu apa yang ada di depannya, dia nampak seperti kesakitan dia tapi tetap berjalan dan lanjut menjajakan dagangannya, yang membuat saya tercengang dan tidak habis pikir bukan karena tunatera ini menabrak truk, tapi saya heran dengan tingkah seorang pemuda (kira-kiraa umur 18 thn) yang berdiri di pinggir jalan tidak jauh dari lokasi truk itu, bukannya malah kasian atau membantu, dia malah tertawa terbahak-bahak sesaat setelah tunanetra ini berlalu. Dia tertawa sejadi-jadinya bahkan sampai memukul-mukul temannya sama seperti kita saat melihat kejadian yang lucu sekali.

Melihat itu saya rasanya murka, rasanya ingin kudatangi pemuda tadi dan membenturkan kepalanya ke truk kemudian gantian menertawakannya, tapi bukannya saya dan dia sama saja kalau saya melakukan itu?
Mungkin rasa empati pemuda itu sudah dikuasai dengan rasa humorisnya, mungkin pemuda itu tidak tahu bagaimana rasanya tidak bisa melihat tapi tetap harus mencari uang untuk makan, mungkin pemuda itu orang kaya, tidak pernah susah hingga tidak tau arti dari perjuangan. Mungkin pemuda itu belum terbuka mata hatinya, mungkin saja.

Semoga tunanetra tadi di akhir dunia bisa melihat surga. Dan pemuda tadi bisa “melihat” dengan mata hatinya. Amin.

 

Pemuda di atas bisa jadi adalah kita sendiri. Berapa sering kita menertawakan ketakberuntungan orang lain?  Betapa kita sering merasa lucu dan merasa perlu tertawa melihat kesialan menimpa orang lain?  Kita bisa juga mencoba menempatkan diri pada posisi Bapak Tunanetra penjual kripik itu. Terus bertahan dan tak mengeluh menjalani hidup dengan segala kekurangan yang kita miliki. 

 

 

*tulisan ini adalah tulisan seorang teman bernama Ardian Adhiwijaya. judul dan tambahan yang tertulis miring dari saya.

Related Posts

About The Author

Add Comment