Kenapa Saya (Masih) Gondrong?

“Maaf Pak, saya kira tadi bapak intel. Dua hari ini saya liat ki beberapa kali lewat”

Pernyataan itu terungkap dari mulut seorang Kepala Desa Lembang di Kecamatan Kajang, Bulukumba beberapa tahun lalu saat saya mulai bekerja di salah satu NGO. Ternyata ia memperhatikan saya yang selama dua hari itu beberapa kali lewat depan rumahnya yang memang merupakan jalan poros di kecamatan itu. dua hari pertama penugasan saya itu memang saya manfaatkan untuk berkeliling dari desa ke desa untuk lebih mengenali lokasi bertugas.

Saat itu, Februari 2010, awal saya bertugas sebagai fasilitator lapangan kecamatan untuk sebuah program pengembangan masyarakat. Kerennya, biasa disebut Community Development. Posisi fasilitator ini sering juga disebut konsultan. Saya lebih memilih sebutan fasilitator karena fungsinya memang lebih pada fasilitasi dibanding sebagai tempat berkonsultasi.

Program kami saat itu bergerak di bidang pelayanan kesehatan. Kecamatan Kajang, tempat saya bertugas, terdiri dari 17 desa dan 2 (dua) kelurahan. Ada tiga Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Untuk kecamatan seluas 129,06 km ini, NGO yang merekrut kami menugaskan dua orang fasilitator. Saya kebagian di Puskesmas Kassi, ibukota kecamatan, yang wilayah kerjanya meliputi 7 (tujuh) desa dan 2 (dua) kelurahan.

Kajang, adalah sebuah wilayah terletak di kabupaten paling selatan pulau Sulawesi, sekira 50 km dari kota Bulukumba yang berjarak 160an km dari Makassar. Mendengar nama Kajang, bagi sebagian besar orang di Sulawesi Selatan, langsung mengidentikkan dengan sesuatu yang mistis. Juga terbelakang. Anggapan ini muncul karena adanya sebuah kawasan adat yang sangat bersahabat dengan alam dan cenderung menolak modernitas. Tak ada listrik. Tentu tak ada pula tehnologi modern yang datang bersama listrik itu. Juga sepeda, apalagi motor, tak ada di kawasan ini. Seperti suku Badui.

Nama kawasan ini Kajang Dalam. Merupakan bagian dari desa Tana Toa yang terdiri dari 7 (tujuh) dusun, ada 3 (tiga) dusun yang termasuk ke kawasan Kajang Dalam. Empat dusun lainnya yang merupakan bagian dari desa Tana Toa berada di Kajang Luar, sebutan warga setempat untuk mereka bermukim di luar kawasan adat.

Mungkin karena berambut panjang dan bertubuh gempal, bapak kepala desa yang saya temui itu mengira saya seorang intel. Anggota intelejen, tepatnya. Sepertinya, ciri-ciri fisik yang saya miliki juga dimiliki para intel pada umumnya. Barulah setelah memperkenalkan diri dan memperlihatkan surat tugas saya, bapak kepala desa itu percaya. “Saya kira betul ki tadi itu intel, Pak” ulang Pak Kepala Desa saat obrolan kami sudah cair.

Melihat penampilan saya yang ‘kurang rapi’, hanya berbaju kaos, bercelana jins dan berambut panjang alias gondrong, memunculkan keraguan orang pada saya sebagai seorang fasilitator atau konsultan program kesehatan. Hal serupa juga saya alami saat menumpang mobil angkutan umum yang biasa disebut ‘panther’ di Sulawesi – Selatan. Saat itu mobil yang kami tumpangi sudah memasuki kecamatan Kajang tapi berkeliling dulu untuk mengantar penumpang satu per satu. Supir memutuskan untuk mengantar saya paling belakangan.

Seorang penumpang, ibu-ibu, tak percaya saat saya menyebut rumah dinas di Puskesmas sebagai tempat tujuan saya. “Serius ki kerja di Puskesmas?” cecar ibu itu tak percaya. “Dokter ki?” tanya ibu yang lain, juga dengan nada tak percaya. Saya lalu berusaha menjelaskan pekerjaan saya, dengan bahasa sesederhana mungkin yang bisa mereka pahami. Bahwa saya ditugaskan untuk memfasilitasi warga dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan layanan kesehatan bagi mereka. Setelah itu mereka tak menimpali lagi. Namun, saya sempat mendengar seorang ibu berbisik pada ibu yang lain yang kira-kira begini maksudnya “tidak mungkin dia dokter atau perawat, rambutnya panjang”.
*

Dalam laman kbbi.web.id, gondrong didefinisikan seperti ini: gondrong/gon·drong/ a panjang karena lama tidak dipangkas (tentang rambut orang laki-laki):

Tak ada penjelasan lebih lanjut tentang berapa lama atau berapa panjang rambut dalam ‘lama tidak dipangkas’ itu. Tapi bagi marhumah Ibu Punu, guru Bahasa Indonesia saya di SMP Negeri 2 Ujung Pandang (sebelum berganti nama jadi Makassar), gondrong berarti rambut yang panjangnya telah melampaui telinga. Ibu Punu ini pernah menghukum saya dan beberapa teman karena memiliki rambut yang melewati telinga. Bersama empat teman lain, kami diminta berjejer di depan kelas. Saat itu tahun 1993 atau 1994, saya lupa persisnya, yang jelas kami sudah kelas 3 SMP. Satu per satu, kepala teman saya membentur papan tulis hitam karena didorong oleh Ibu Punu. Saya yang berdiri paling kiri dekat pintu kelas harus merelakan kepala terbentur dinding karena  tak ada papan tulis yang menghalangi. Sakit? Tentu saja. Sejak saat itu saya berniat memanjangkan rambut jika memungkinkan.

Setamat SMP, saya kembali bertemu Ibu Punu. Beliau ternyata mengajar juga pada Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) Sandhy Putra, (pernah berganti nama menjadi SMK Sandhy Putra 1 dan sekarang bernama Telkom School), sekolah lanjutan tingkat atas tempat saya melanjutkan sekolah. Di sekolah yang mencetak tenaga kerja pelaku industri pariwisata saya mengambil jurusan perhotelan. Sebuah pilihan yang saya ambil setelah tak lolos masuk ke sekolah negeri. Juga, pada saat pengurusan ijazah SMP saya menemukan brosur sekolah ini dan mendapati tak ada pelajaran Fisiki, Kimia dan Matematika dalam mata pelajaran yang diajarkan. Kelak, saya tertipu. Mata pelajaran itu semua ada dan diajarkan meski mungkin tak serumit yang dipelajari di sekolah umum. Alasan lain saya memilih sekolah ini adalah keinginan saya untuk menjadi bartender. Saat itu pekerjaan ideal bagi saya adalah bekerja di belakang bar dan meracik minuman. Entah dari mana cita-cita ini berasal.

salah satu bentuk diskriminasi terhadap gondrong, yaitu dilarang masuk ke perpustakaan.

salah satu bentuk diskriminasi terhadap gondrong, yaitu dilarang masuk ke perpustakaan.

Sebagai sekolah yang mempersiapkan lulusannya untuk bekerja di jasa pelayanan pariwisata dan perhotelan tentu saja sekolah menuntut siswa-siswinya untuk selalu rapi dan disiplin. Setiap hari kami harus menjalani apel pagi dan apel siang. Apel pagi dilaksanakan 15 menit sebelum pelajaran dimulai dan apel siang sebelum pulang. Pakaian pun selalu dituntut untuk rapi. Senin hingga Rabu para siswa memakai baju seragam putih abu-abu dan topi abu-abu seperti sekolah menengah atas pada umumnya. Yang membedakan hanyalah bahwa kami harus selalu memakai dasi panjang atau dasi kupu-kupu berwarna abu-abu senada dengan celana panjang kami. Hari Kamis sekolah mewajibkan para siswa untuk memakai baju batik berwarna biru bermotif logo yayasan dengan celana panjang abu-abu. Pada hari Jumat kami mengenakan baju olahraga dan celana training olahraga. Untuk hari Sabtu kami mengenakan kemeja berwarna merah muda pudar nyaris putih yang berpadu dengan celana panjang berwarna coklat. Untuk dasi, kami memakai dasi panjang berwarna merah marun bermotif kotak-kotak. Setiap pagi dan siang, saat apel, guru memeriksa kelengkapan dan kerapihan pakaian kami.

Hal ini saya lalui selama dua tahun. Awal kelas tiga saya menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di salah satu hotel selama dua bulan sehingga tak perlu lagi mengikuti apel pagi dan siang itu. Entah dari mana sumbernya, beredar rumor bahwa anak-anak kelas tiga yang sudah mengikuti PKL pasti akan lulus semua. Bermodal rumor itu, saya mulai jarang mengikuti apel pagi alias selalu datang terlambat dan pulang lebih awal. Absensi kehadiran saya pun mulai lebih banyak alpa tanpa alasan yang jelas. Selama kelas tiga hingga lulus, saya hanya punya beberapa buku tulis tak lebih dari lima buah. Satu buku saya masukkan di tas selempang Alpina, yang banyak dipakai anak sekolah dan kuliahan saat itu, selebihnya saya simpan di laci bangku kelas.

Masa SMA saya lalui dengan menjadi langganan ruangan guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP), sekarang disebut Bimbingan dan Konseling (BK), berkali-kali saya harus menghadap guru BP untuk masalah yang saya terlibat didalamnya. Masalah itu beragam; mulai dari tuduhan mau membakar sekolah padahal saat itu saya bolos bersama seorang teman lalu membakar daun-daun kering di samping kelas sehingga asapnya memenuhi kelas, pernah pula saya dan teman-teman diminta menghadap ke kepala sekolah dengan tuduhan melakukan pesta seks saat malam tahun baru, yang lucunya, laporan itu masuk beberapa bulan setelah malam pergantian tahun.

Ada juga kejadian saya terkunci di dalam musalla hingga sore, saat itu saya bolos dan tertidur di dalam musalla, pas terbangun ternyata pintu musalla dikunci oleh guru BP dan saya dibiarkan di dalamnya hingga sore hari. Puncaknya adalah saat kepala sekolah mengeluarkan surat Drop-Out untuk saya dan beberapa teman. Saat itu kami sudah menjalani hukuman membersihkan ruang guru karena kedapatan merokok di wc sekolah namun kedapatan lagi merokok di tempat yang sama. Sialnya, tak sekadar merokok, saya tak sengaja menghembuskan asap rokok pada muka guru olahraga yang tiba-tiba muncul. Hukuman tambahan pun diberikan. Bersama seorang teman saya dijemur sambil menghormat bendera plus harus menghisap enam batang rokok yang sudah warnanya sudah coklat karena kelamaan disimpan. Setelah itu, surat DO pun keluar. Untunglah, kepala sekolah kami mencabut surat itu setelah teman tadi menangis dan merengek untuk tidak dikeluarkan dari sekolah.

Panggilan menghadap guru BP pun kadang datang jika ada masalah, meski tidak terlibat, karena dianggap mengetahui masalah atau siapa yang terlibat. Kepala sekolah pun sempat menyebut saya sebagai sampah masyarakat setelah puas menampar. Saya lupa kejadian apa saat itu. Tak hanya saat bersekolah, pernah ada masa di mana saya dicekal masuk sekolah oleh Satuan Pengamanan (Satpam) PT Telkom (sekolah kami berada di dalam area PT Telkom Jl. Pettarani) karena dianggap memengaruhi adik-adik untuk melakukan demonstrasi mempertanyakan kebijakan kepala sekolah saat itu. Tuduhan itu muncul setelah adik-adik serentak menuju lapangan sekolah sesaat setelah melihat kedatangan kami, apalagi semalam sebelumnya mereka berkumpul di tempat kami, seniornya, sering berkumpul.

Dari berbagai masalah yang pernah muncul, tak sekali pun saya bermasalah dengan rambut. Keinginan untuk memanjangkan rambut nyaris terlupakan. Pun, tak pernah ada lagi hukuman dari Ibu Punu.

 

*bersambung..

**tulisan ini diniatkan sebagai tulisan otoetnografi, juga sebagai tugas Kelas Otoetnografi Kepo Initiative. dalam tulisan ini berusaha melihat fenomena ‘gondrong’ dalam konteks sosial di lingkungan sekitar saya dengan menjadikan diri sendiri sebagai bagian dari objek penelitian.

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment