Kembali Ke Rumah Nenek Moyang [3]: Lukisan Tertua Di Dunia Ada di Maros Pangkep

Tulisan terakhir dari 3 bagian. Baca tulisan sebelumnya di 

Kembali ke Rumah Nenek Moyang [2]: Kedatangan Nenek Moyang Indonesia 

 

Matahari sudah bersinar terang, sangat terang, saat kami mulai berjalan kaki menuju gua tujuan kami berikutnya: Leang Sakapao. Gua ini adalah salah satu dari sekian banyak situs yang menyimpan jejak peradaban manusia modern awal di Nusantara, dan juga lukisan tertua di dunia.

Gua ini terletak sekira 1 (satu) kilometer lebih dari tempat kami bermalam. Situs ini terletak jauh dari pemukiman penduduk, sekira 3 (tiga) kilometer dari jalan raya desa. Berada di ketinggian 25 mdpl, untuk mencapai mulut gua kami harus melalui sekira 50an anak tangga dan jalan setapak. Di sekitar situs masih terdapat banyak tumbuh-tumbuhan. Sayangnya, di mulut gua tidak terdapat pohon sehingga debu banyak tertiup angin ke dalam gua.
Situs ini terpelihara dengan baik, sudah ada pagar dan jalan setapak di bagian ceruk. Pada atap gua terdapat tinggalan arkeologi berupa cap tangan sebanyak 26 buah yang berwarna merah dan gambar binatang babi rusa yang mulai mengalami pengelupasan, juga ada sebuah gambar rusa berwarna hitam. Pada lantai Leang Sakapao banyak ditemukan sampah dapur dan artefak batu.

“Lukisan – lukisan itu dibuat dengan cara menyemburkan cairan merah dari mulut di tangan mereka yang diletakkan di dinding gua sehingga membentuk cap tangan.” Ungkap Iwan Sumantri. Cara lain membuat lukisan itu dengan menempelkan cat dengan tangan ke dinding dan langit-langit gua.

Sebuah hasil penelitian yang diterbitkan oleh Jurnal Nature menyebutkan bahwa lukisan – lukisan di kawasan karst Maros – Pangkep ini berusia 40.000 – 35.000 tahun yang lalu. Dalam penelitian yang dipimpin oleh Anthony Dosseto dari University of Wollongong, Australia, ini mereka meneliti tujuh gua di Sulawesi dengan 12 lukisan. Lukisan yang diteliti yaitu lukisan stensil tangan yang digambar dengan warna merah dan gambar binatang babirusa.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature, Rabu (8/10/2014), mengungkapkan lukisan itu dibuat dalam rentang waktu 17.400-39.900 tahun lalu. Lukisan-lukisan ini sebenarnya sudah ditemukan lebih dari 50 tahun yang lalu, namun belum pernah dilakukan penelitian rinci untuk menentukan umurnya.

Lukisan tertua berbentuk tangan manusia ditemukan pada ketinggian empat meter di langit-langit gua yang dikenal dengan sebutan Leang Timpuseng yang berusia 39.000 yang lalu. Lukisan di Leang Timpuseng ini menjadi bukti kehadiran manusia modern di Sulawesi, bahkan di Indonesia.

Usia Hand Stencil di Leang Timpuseng - Lukisan Tertua Di Dunia. Sumber: Jurnal Nature

Usia Hand Stencil di Leang Timpuseng – Lukisan Tertua Di Dunia. Sumber: Jurnal Nature

Lukisan lain yang diteliti adalah sebuah lukisan besar yang kemungkinan adalah lukisan babirusa di Leang Barugayya. Berdasarkan pengujian, usia lukisan ini berkisar 35.400 tahun yang lalu. Lukisan lebih tua juga ditemukan pada Leang Jarie yaitu hand stencil yang berusia paling tidak 39.400 tahun lalu.

“Pada awal tahun 1980an ketika saya datang pertama kali di Leang Jarie ada 200an lukisan tangan. Beberapa tahun kemudian saya datang lagi, yang tersisa hanya sekitar 20an. Sekarang tersisa makin sedikit” terang Iwan Sumantri tentang banyaknya lukisan stensil tangan yang rusak. Banyak penyebab kerusakan itu, di antaranya adalah aktifitas penduduk di sekitar situs dan juga aktifitas pertambangan.
Pengujian usia lukisan juga dilakukan pada dua hand stencil di Gua Jing. Usia dua lukisan ini berkisar 22.900 dan 27.200 tahun lalu. Lukisan hand stencil termuda ditemukan pada Leang Lompoa yang berusia 17.700 tahun lalu. Rentang waktu 39.900 hingga 17.700 tahun yang lalu ini paling tidak menunjukkan kemampuan melukis ini hadir selama kurun waktu 25.000.

Para arkeolog menguji uranium yg terdapat dalam gua tersebut dan membuktikan bahwa umur pembuat lukisan ini minimal 39.900 tahun yang lalu atau pada masa peroide pleistosin.
Penentuan umur lukisan di gua itu dilakukan dengan metode pengukuran uranium. Penghitungan dilakukan berdasarkan peluruhan unsur-unsur radioaktif. Dengan metode itu bisa ditentukan umur minimal lukisan yang berarti usia lukisan-lukisan itu mungkin saja lebih tua lagi.
BBC News melansir pernyataan Dr Maxime Aubert, dari Universitas Griffith di Queensland, Australia, yang meneliti umur lukisan itu. Aubert menerangkan bahwa salah satu di antaranya kemungkinan lukisan sejenis yang paling kuno. “Usia lukisan ini adalah 39.900 tahun, dan merupakan lukisan stensil tangan tertua di dunia.” Di samping lukisan ini adalah lukisan babi yang berumur paling tidak 35.400 tahun dan merupakan salah satu lukisan figur tertua di dunia.

Ada 2 (dua) pendapat di kalangan arkeolog mengenai keberadaan lukisan – lukisan gua. Pendapat pertama adalah bahwa lukisan – lukisan ini adalah pertanda sisi religiutas manusia prasejarah. Pendapat terakhir yang mengemuka adalah bahwa lukisan – lukisan itu menunjukkan menandakan adanya pemikiran abstrak dan berkesenian dari manusia modern awal.

“Saya lebih condong ke pendapat terakhir yang mengatakan bahwa lukisan ini adalah karya seni. Tinggalan ini adalah penanda awal berkesenian manusia modern.” kata Iwan Sumantri. Seni dan kemampuan untuk berpikir abstrak merupakan perbedaan utama manusia dengan binatang. Kemampuan ini mengantarkan manusia untuk menggunakan api, mengembangkan roda dan jenis teknologi lain.

Selama ini, lukisan stensil tangan dan binatang di dinding-dinding gua yang sebelumnya dipercaya sebagai karya seni lukisan tertua di dunia berada di Eropa, yaitu di gua El Castillo di utara Spanyol, yang diperkirakan berusia 37.300 tahun. Temuan lukisan binatang juga sebelumnya adalah di Gua Chauvet di selatan Perancis.
Hasil penelitian terbaru ini tentu mengubah pandangan tentang sejarah penyebaran dan peradaban manusia. Penelitian yang merupakan kerjasama Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Makassar, Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Makassar, University of Wollongong, dan Universitas Griffith ini memberi pemahaman baru bahwa Eropa tidak bisa lagi mengklaim bahwa mereka pihak yang pertama yang mampu mengembangkan lukisan abstrak.

Selain di Leang Timpuseng, ada pula penemuan lukisan gua yang berusia sekitar 27.000 tahun. Di kawasan Bone, sekira 100 kilometer di utara Maros, juga ditemukan lukisan – lukisan gua yang serupa namun lukisan-lukisan itu tidak dapat diteliti umurnya karena banyaknya stalaktit. Para peneliti meyakini usia lukisan itu kemungkinan sama dengan yang di kawasan Maros – Pangkep karena jenisnya mirip.

Temuan ini juga bisa mengubah pandangan selama ini yang meyakini bahwa ledakan kreativitas yang berujung pada munculnya seni dan sains yang ada sekarang bermula di Eropa. Jika melihat usia lukisan gua ini, bisa saja seni dan sains bermula dari Asia, bahkan Indonesia, tepatnya di Sulawesi.

**

Kelas Menulis Kepo di mulut Leang Sakapao Pangkep | Foto: Iqbal Lubis

Kelas Menulis Kepo di mulut Leang Sakapao Pangkep | Foto: Iqbal Lubis

Kunjungan Ke Rumah Nenek Moyang yang dilakukan oleh Kelas Menulis Kepo ini memberi pengetahuan bagi peserta yang sebagian besar mungkin tak menaruh perhatian pada tinggalan arkeologis. Transfer pengetahuan Kak Iwan, yang mendampingi kami, yang dilakukan dengan sangat menarik. Sesuatu yang asing bagi sebagian peserta menjadi mudah diserap. Belum lagi kehangatan dari keluarga kecil Kak Iwan, – yang datang bersama Kak Muli (istri) dan si sulung Chiquita,- menjadikan kelas begitu cair dan berlangsung menyenangkan.

Juga, sebagai pelaksanaan tagline Kelas Menulis Kepo yaitu; Belajar Di Mana Saja, Guru Siapa Saja dan Makan Apa Saja! 😀

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment