Kembali ke Rumah Nenek Moyang [2]: Kedatangan Nenek Moyang Indonesia

tulisan ke 2 dari 3 tulisan. baca Kembali ke Rumah Nenek Moyang [1]

Bagi Kak Iwan, begitu saya dan teman – teman di kampus memanggil beliau, kawasan BelaE ini tak ubahnya rumah kedua. Ia sudah jatuh hati sejak kedatangannya pertama kali ke kawasan pegunungan karst ini. Itu terjadi tahun 1981. 34 tahun silam. Saat itu ia masih mahasiswa baru jurusan Sejarah dan Arkeologi Fakultas Sastra Unhas.

Hingga kini, sudah lebih dari separuh hidupnya ia dedikasikan pada pegunungan karst Maros – Pangkep itu. Tak hanya melakukan penelusuran dan penelitian pada ratusan gua, ia juga getol mengkampanyekan pelestarian karst. Tahun 2009 silam, ia berada di balik gerakan masyarakat yang menolak pemberian ijin pertambangan marmer di kawasan itu. Meski ijin pertambangan tetap keluar, usahanya tak sia – sia, perusahaan tambang tak dibolehkan untuk menyentuh gua – gua yang berada di pegunungan karst itu.

Di BelaE, Iwan Sumantri juga rajin mengingatkan warga di kawasan itu untuk menolak kapitalisasi air oleh Perusahaan Air Minum Daerah. Kawasan karst ini memiliki sifat sponge yaitu menjadi tempat resapan air. Karst menyimpan dan mengeluarkan air secara perlahan. Di depan Leang Lompoa yang kami kunjungi terdapat sebuah telaga yang memiliki banyak ikan. Pertanda kalau air di kawasan itu bersih dan aman.

Sepanjang perjalanan dari Leang Lompoa menuju rumah H. Lembang, tempat kami bermalam, kami menjumpai banyak mobil tangki pengangkut air lalu lalang. Di musim kemarau panjang ini, di saat daerah lain dilanda kekeringan, Kawasan BelaE tetap memiliki deposit air yang cukup untuk kebutuhan air bagi warga sekitar, bahkan menjadi penyuplai air bagi Kabupaten Pangkep dan kabupaten tetangga, Maros.

Telaga di dekat Leang Lompoa Pangkep [foto: enalgattuso8.wordpress.com]

Telaga di dekat Leang Lompoa Pangkep [foto: enalgattuso8.wordpress.com]

“Saya selalu bilang ke masyarakat kalau PDAM masuk, mereka memang tak lagi mengangkat air dari mata air ke rumah tapi mereka juga tak lagi bisa memikul gabah” tuturnya sembari menggerakkan tubuhnya seolah sedang mengangkat sesuatu.

Haji Lembang yang turut dalam perbincangan malam itu mengiyakan. “Dulu, warga di sekitar Leang Kassi bisa panen 3 (tiga) kali setahun. Sekarang, sejak PDAM rajin ambil air, panen cuma bisa 2 (dua) kali setahun” ungkap pemilik rumah yang kerap menjadikan rumahnya sebagai basecamp penelitian mahasiswa arkeologi dan para arkeolog yang mengadakan penelitian di kawasan ini.

Selain sebagai penyuplai air, kawasan ini juga menyimpan bukti peradaban manusia purba. Jejak – jejak peradaban itu masih tersimpan di ceruk gua – gua yang di Kawasan Karst Maros – Pangkep. Menyimpan bukti migrasi manusia – manusia modern awal yang datang dan menyebar ke nusantara. Menjadi saksi datangnya nenek – nenek moyang kita ke tanah Sulawesi.

***

Rasanya tak berlebihan bila kunjungan ini kami sebut mengunjungi rumah nenek moyang mengingat di kawasan BelaE ini terdapat 27 situs gua yang menyimpan bukti kehadiran manusia – manusia modern Indonesia awal di Sulawesi Selatan berpuluh ribu tahun yang lalu di jaman plestosen.

Nenek moyang Indonesia rupanya datang secara bergelombang. Gelombang pertama adalah ras Austrolomelanesid, menurut teori Out of Africa, sekira 200.000 tahun lalu mereka keluar dari Afrika Utara melintasi Afrika Selatan kemudian sampai di Asia Tenggara. Untuk Indonesia, ras Austrolomelanesid masuk melalui Sumatera kemudian menyebar ke Sulawesi hingga Papua dan Australia.

Gelombang manusia dari ras Austro-Melanesia tiba di Sulawesi pada sekira 60.000 tahun lalu dengan menggunakan rakit sederhana. Mereka menjadikan gua sebagai tempat berlindung. Ras ini masih nomaden dan belum mengenal sistem cocok tanam. Hal ini ditandai dengan tinggalan perkakas alat batu.

Iwan Sumantri dan Alat Batu Neolitikum yang ditemukan di Leang Sakapao

Iwan Sumantri dan Alat Batu Neolitikum yang ditemukan di Leang Sakapao

Sumber makanan bagi mereka sangat melimpah. Mereka hidup dengan mencari kerang dan makan umbi – umbian. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada masa kedatangan masyarakat prasejarah, garis pantai mencapai wilayah Leang-leang. Kota Maros kala itu masih lautan. Kondisi alam ini menyediakan sumber makanan berupa kerang – kerangan bagi penghuni gua. Tinggalan sampah dapur berupa moluska kerang – kerangan menunjukkan hal tersebut.

“Lautan saat itu lebih tinggi 20 meter dari sekarang. Gua tak jauh dari garis pantai sehingga mereka mudah mencari kerang. Umbi – umbian juga melimpah karena tanah subur” jelas Iwan Sumantri sambil menunjuk ke bawah ketika kami berada di Leang Sakapao. Leang Sakapao sendiri sekarang berada di ketinggian 25 meter dari permukaan laut.

Gelombang kedua nenek moyang Indonesia adalah pendukung bahasa Austronesia yang merupakan ras Mongoloid. Kedatangan gelombang kedua ini didukung oleh teori Out of Taiwan, dimana teori ini menyatakan bahwa awal mula manusia di Asia Tenggara berasal dari Formosa (sekarang Taiwan). Dari Taiwan menuju Filipina bagian utara. kemudian terus bergerak ke selatan menuju Kalimantan, Sulawesi hingga Maluku.

Ras Mongoloid ini tiba sekira 3.800 tahun lalu. Salah satu pintu masuk ras ini ke Sulawesi ini adalah di Kalumpang, Sulawesi – Barat. Mereka kemudian menyebar ke Luwu hingga ke Sulawesi Tenggara dan masuk ke karst Maros – Pangkep. Masa kedatangan ras Mongoloid ini dikenal dengan masa neolitikum.

Ras Austrolomelanesid atau negroid berkulit gelap dan berambut keriting. Kedatangan gelombang kedua yaitu ras Mongoloid membawa tehnologi pertanian dan domestifikasi babi. Masa neolitikum ini, menurut Iwan Sumantri, adalah revolusi terbesar, yaitu revolusi pertanian. “Revolusi terbesar sebenarnya adalah pada masa neolitikum itu, bukan saat revolusi industri, dimana orang mulai mengenal tekhnologi pertanian, memproduksi beberapa peralatan rumit, anak panah bergerigi dan tembikar.” Ungkap Iwan Sumantri dalam diskusi bersama peserta kelas menulis malam harinya.

Lukisan Babi di Leang Sakapao Pangkep. Juga ada lukisan perahu yang menunjukkan peradaban mereka mengenal perahu,

Lukisan Babi di Leang Sakapao Pangkep. Juga ada lukisan perahu yang menunjukkan peradaban mereka mengenal perahu,

Lebih lanjut, Iwan Sumantri menegaskan bahwa pada masa itu terjadi surplus pangan dan ledakan penduduk. Ras Melanosoid atau Negroid yang belum mengenal sistem cocok tanam dan masih mengandalkan pola berburu dan meramu ini kemudian terdesak hingga ke Papua dan Australia. Suku Papua dan Aborigin di Australia termasuk keturunan langsung ras Negroid ini.

Hal ini menjelaskan mengapa orang Indonesia memiliki ciri fisik yang beragam. Ada yang berkulit putih dan berambut lurus yang merupakan penutur bahasa Austronesia atau bangsa Melayu. Ras ini mendiami Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Ras Negroid lebih banyak mendiami Maluku, Papua dan Nusa Tenggara.

“Ada masa ketika 2 (dua) ras ini bertemu. Kemungkinan di bagian timur, sekitar Maluku dan Ternate. Itu yang menjelaskan kenapa fisik orang Ambon menyerupai perpaduan dua ras itu” jelas Iwan Sumantri.

Bukti arkeologis interaksi ini juga ditemukan pada Gua Harimau di Desa Padang Bindu, Semidang Aji, Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan. Dalam eskavasi selama 2009 – 2014 tersebut, Tim Penelitian Arkeologi Gua Harimau menemukan 4 (empat) kerangka ras manusia Australomelanesid dan ras 74 kerangka ras Mongoloid di dalam gua tersebut.

Tinggalan arkeologis yang mengindikasikan interaksi ini juga bisa dijumpai dalam gua – gua di Kawasan Karst Maros – Pangkep. Di Leang Lompoa misalnya, terdapat beberapa lukisan yang berwarna merah menyala yang menjadi ciri khas lukisan ras Melanosoid dan juga lukisan berwarna merah hitam yang merupakan lukisan ras Mongoloid.

bersambung ke Kembali ke Rumah Nenek Moyang [3]: Lukisan Tertua Di Dunia

Related Posts

About The Author

Add Comment