Kembali ke Rumah Nenek Moyang [1]

Sabtu siang, 29 Agustus, bersama teman Kelas Menulis Kepo, saya mengunjungi kawasan Belae. Kunjungan ini dalam rangka memenuhi ajakan Kak Iwan Sumantri, seorang arkeolog senior, yang mengajak peserta kelas menulis untuk mengunjungi gua – gua situs prasejarah yang ada di Belae, Kelurahan Biraeng, Pangkep.

Sebelum berangkat, terlebih dahulu kami mengurus perijinan pada Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar yang menaungi situs – situs tersebut. Hal ini diperlukan mengingat situs – situs tersebut tergolong ke dalam cagar budaya yang dilindungi negara. Kunjungan ini adalah kegiatan perdana Kelas Menulis Kepo yang diadakan dengan mengunjungi langsung sebuah tempat. Perjalanan ini kami namakan “Mengunjungi Rumah Nenek Moyang”

Sore hari, sekira pukul 16:00 tibalah kami di Leang Lompoa yang terletak di di kecamatan Minasate’ne, kelurahan Biraeng dan berada dalam gugusan karst bulu Matojeng. Situs ini tak jauh dari jalan raya, hanya berjarak sekitar 30 meter. Hamparan sawah yang baru saja dipanen menghias di sisi kanan jalan, di sisi kiri jajaran karst menjulang.

Hamparan sawah dengan latar pegunungan karst di Pangkep

Hamparan sawah dengan latar pegunungan karst di Pangkep

Setelah memarkir mobil yang kami tumpangi, kami menyusuri jalan setapak yang terbuat dari paving block menuju mulut gua. Secara umum, gua harus memiliki tiga bagian yaitu ceruk atau bagian yang masih terpapar matahari, bagian temaram dan bagian yang gelap abadi. Gua harus memiliki 2 (dua) dari 3 (tiga) bagian ini sebagai syarat untuk dapat disebut gua.

Leang Lompoa dan gua di Kawasan BelaE, dan juga kawasan Karst Maros – Pangkep, adalah gua – gua kapur atau Limenstone, yaitu gua yang terjadi di dalam daerah batuan kapur/limenstone. Gua – gua ini terbentuk akibat pengikisan air terhadap batuan kapur di dalam tanah. Di gua ini terdapat lukisan  cap tangan sebanyak 4 buah yang terletak pada bagian dalam dan luar gua.  Pada ceruk gua, sebelah kanan gua ada gambar matahari, gambar manusia 4 buah, perahu, babi berwarna hitam dan garis-garis merah dan hitam yang sudah tidak jelas bentuknya.

Gambar – gambar yang ada tampak mengalami kerusakan akibat tertutup oleh lumut. Pada lantai gua ditemukan alat serpih dan sampah dapur berupa filum moluska (kerang – kerangan) dan filum arthropoda. Di mulut gua ada pula drapery atau bagi arkeolog dan penjelajah gua disebut gorden karena bentuknya menyerupai tirai.  Ini terjadi karena air yang mengandung kapur menetes dan mengalami penguapan sehingga larutan kapur yang terkandung di dalamnya menempel pada sebuah celah (crack) yang memanjang pada atap gua lali membentuk bentukan yang tumpul menyerupai tirai-tirai seperti gorden jendela yang menggantung pada atap menuju ke bawah dengan lekukan-lekukannya.

Masuk lebih ke dalam, ke bagian zona temaram/senja, kita akan menjumpai stalaktit dan stalakmit. Stalaktit adalah ornamen yang menempel pada atap gua. Bentuknya menyerupai ujung tombak memanjang dan meruncing ke bawah. Stalaktit terjadi karena air yang mengandung larutan kapur yang tinggi menetes melalui titik kecil pada atap gua. Sebelum menetes jatuh, air mengalami penguapan sehingga larutan kapur yang terkandung di dalamnya menempel pada atap gua dan proses ini berjalan terus-menerus hingga akhirnya menjadi bentukan yang menyerupai pipa kecil dengan lubang straw. Pada tahap tertentu terjadi penyumbatan pada lubang-lubang sehingga air tidak lagi mengalir melalui ujung pipa tersebut, tetapi kembali merembes melalui pangkal pipa dan melewati bagian luar pipa menuju ujung pipa kembali dan menetes ke bawah. Akhirnya, bagian luar dari daerah pangkal pipa paling banyak mendapat tumpukkan atu tempelan larutan kapur, sehingga timbul bentukkan yang menyerupai ujung tombak runcing terbalik.

Sampah dapur berupa moluska atau kerang - kerang di Leang Lompoa

Sampah dapur berupa moluska atau kerang – kerang di Leang Lompoa

Sementara itu, stalakmit terbentuk dari proses terjadinya stalaktit. Ketika air menetes jatuh ke lantai gua terjadi penguapan air dan menyebabkan timbulnya penumpukan larutan kapur yang membentuk kerucut memanjang dan meruncing ke atas. Stalaktit dan Stalakmit yang ujungnya bertemu dan menyatu akan membentuk tiang yang biasa disebut pilar atau column.

Di area gelap abadi atau bagian yang tak terkena sinar matahari, kita bisa menjumpai kilauan yang berasal dari buliran – buliran fosfor serupa pasir. Kilauan ini tak begitu terlihat di dalam gelap namun akan memancarkan pesona saat terkena cahaya. Bergantian kami memotret, mengabadikan kilauannya. Tak terasa kami sudah menyusuri lorong gua sekira tak kurang dari 50 meter ke dalam. Di depan kami terdapat celah setinggi pinggang orang dewasa. Panjang celah itu mungkin ada 5 – 10 meter. Untuk melalui celah itu harus dengan merangkak. Setelah celah itu ada aula, sebutan bagi bidang lapang dalam gua, namun Kak Iwan memutuskan untuk tidak mengajak kami masuk. “Biar ada alasan lagi untuk mengajak kalian ke sini” katanya.

Lokasi situs Leang Lompoa ini agak jauh dari pemukiman penduduk dan kondisinya terpelihara baik. Di sekitar situs terdapat gazebo dan taman kecil yang bisa dipakai untuk beristirahat. Ancaman bagi gua ini timbul karena jaraknya yang tak begitu jauh dari jalan sehingga getaran dan polusi kendaraan bisa mengakibatkan kerusakan lukisan dinding gua. Belum lagi aksi – aksi vandal dari pengunjung yang datang. Situs ini memang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal. Saat kami meninggalkan gua, sepasang remaja yang masih mengenakan seragam sekolah duduk tak jauh dari mulut gua. Sepertinya menunggu kami berlalu. “Mereka lagi cartem” kelakar Kak Iwan. Cartem adalah singkatan ‘cari tempat’ yang merupakan istilah bagi pasangan yang mencari tempat untuk memadu kasih.

Setelah rehat beberapa jenak di depan gua kami lalu memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat peristirahatan yaitu salah satu rumah warga.  Perjalanan sekira satu kilometer kami manfaatkan dengan berfoto atau mengambil gambar. Hamparan sawah sehabis panen menjadi objek bagi mata kamera kami.

Bersambung ke Kembali ke Rumah Nenek Moyang [2]

Related Posts

About The Author

Add Comment