Kahayya, Sekali Lagi

“Kalau na ambil ki juga kayu dan bambunya pos itu, terpaksa saya keluarkan parang” ucap Fery dengan geraml. Di atas puncak bukit Tanjung, Kahayya, belasan remaja tanggung tampak berkumpul di sekitaran api unggun. Sesekali nyala api meredup lalu berkobar tinggi setelah mereka menambahkan kayu.

Kemarahan Fery sangat wajar. Bersama teman – temannya di Indonesia Movement Project, Fery membuat pos dan gerbang serta beberapa bangku di pinggiran bukit Tanjung itu. Bangku – bangku itu, tentu saja, mereka buat agar para pengunjung bisa menikmati pemandangan indah dari Tanjung sembari duduk manis.

Sungguh sayang, tangan – tangan jahil dan bertanggung jawab menjadikan bangku – bangku itu sebagai bahan api unggun. Tak bersisa lagi bangku di sana. Saya memaklumi kekesalan Fery. “Mereka memang aneh, tak mau kedinginan tapi ke puncak bukit seperti ini’ timpal saya, turut mengomentari kelakukan remaja – remaja tanggung itu. Belakangan kami tahu, mereka berasal dari salah satu sekolah menengah atas di Bulukumba.

Bukit Tanjung, warga lebih karib menyebutnya Tanjung, adalah sebuah bukit yang terletak pada ketinggian 1.600 meter dari permukaan laut, lembah perbukitan yang tak jauh dari dua pegunungan; Gunung Lompobattang dan Gunung Bawakaraeng. Tepatnya, di Dusun Tabbuakkang, Desa Kahayya, Kecamatan Kindang, sebelah utara Kota Kabupaten Bulukumba.

Menikmati pemandangan di Bukit Tanjung Kahayya. Saat ini tak ada lagi bangku - bangku itu. Habis oleh ulah orang - orang bertanggungjawab.

Menikmati pemandangan di Bukit Tanjung Kahayya. Saat ini tak ada lagi bangku – bangku itu. Habis oleh ulah orang – orang bertanggungjawab.

 

Nama Tanjung ini mulai dikenal pada tahun 2002 saat Dusun Kahayya memenangi lomba kebersihan dusun tingkat kecamatan Kindang. Sejak itu, orang – orang mulai berdatangan untuk berekreasi. Bukit ini memang ini sangat cocok untuk berkemah atau sekadar untuk menikmati pemandangan dan kesegaran udaranya. Saat ini, Kahayya sudah menjadi desa dan Tanjung atau Donggia secara administrasi masuk pada Dusun Tabbuakkang.

Jauh sebelum nama Tanjung, warga dusun Tabbuakkang dan Desa Kahayya lebih sering menyebutnya Donggia. “Dulu warga menyebutnya Donggia. Donggia sendiri adalah sebutan bagi dua batu yang menyerupai tiang gerbang, tak jauh dari bukit tersebut.” Ungkap Fery. Kini dua tiang batu itu hampir tak terlihat karena tertutup lumut dan tumbuhan merambat.

Bagi saya, ini kedatangan untuk kesekian kali. Pertama kali mengunjungi tempat ini adalah pada tahun 2011. Saat itu saya bekerja sebagai konsultan lapangan, pada sebuah program community development bidang kesehatan, untuk Kecamatan Kajang, sebuah kecamatan lain di Bulukumba. Bersama seorang teman yang merupakan konsultan Kecamatan Kindang pada program yang sama, kami mengunjungi seorang bayi pengidap hydrocephalus. Pada kesempatan lain, bersama teman itu dan seorang kawan lain, kami menyempatkan untuk berkemah di bukit Tanjung.

Kedatangan saya berikutnya adalah saat memenuhi ajakan Fery untuk mengikuti kegiatan Senandung Kopi Kahayya pada Agustus 2015 lalu. Sebuah pengumpulan dana yang dilakukan oleh Indonesia Movement Project (IMP) untuk pembangunan sarana dan prasana desa.  Hasil dari kegiatan itu digunakan oleh IMP untuk membuat bangunan Mandi Cuci Kakus sederhana. Bangunan MCK ini terletak di belakang rumah Ibu Fira, pemilik lahan bukit Tanjung.

Catatan tentang kegiatan itu saya tuliskan di Senandung Kehangatan Kopi Kahayya

Lebih lanjut, Fery menceritakan bahwa pernah ada sebuah kejadian di mana ada sekelompok pengunjung yang membuka paksa gembok dan bermalam di rumah Ibu Fira. Ada juga yang seenaknya mengambil kayu bakar yang tersimpan di kolong rumah Ibu Fira untuk mereka jadikan kayu api unggun. Kejadian ini kemudian yang membuat beberapa tokoh masyarakat memutuskan untuk menunjuk Ismal, suami Ibu Fira, untuk menjadi pengelola Tanjung.

“Sebenarnya Tanjung itu kepemilikan pribadi, milik Ibu Fira. Berdasarkan diskusi dan kesepakatan beberapa tokoh masyarakat, mereka membuat pos dan gerbang di bukit dan menunjuk Pak Mail, suami Ibu Fira, untuk mengelolanya” tutur Fery.

Hasil kesepakatan lainnya adalah menetapkan biaya sebesar Rp. 2.000,- per pengunjung dan juga pengelolaan diserahkan sepenuhnya kepada pemilik lahah, dalam hal ini Ibu Fira dan Ismail. Biasanya, Pak Ismail akan berjaga di pos gerbang hingga semua pengunjung berhenti beraktifitas di malam hari. Namun, tak setiap saat Pak Ismail ada dan menjaga pos itu. Ada kalanya, pengunjung bisa bebas masuk tanpa membayar jika kebetulan Pak Ismail ada urusan lain.

Seperti saat kedatangan kami akhir pekan awal Februari kemarin. Saat itu, salah satu keluarga Ibu Fira sedang dirawat di rumah sakit. Ibu Fira dan Ismail harus berjaga di rumah sakit di kota Bulukumba. Kami dan pengunjung lain, saya perkirakan ada 30an orang malam itu, masuk tanpa membayar sepeserpun.

Jika kedatangan saya sebelumnya selalu melalui jalur Kahayya, kali ini kami memilih untuk melewati jalur Sinjai. Memang agak jauh memutar karena kami harus melalui jalan poros Bulukumba – Sinjai dan memotong melalui Desa Palampang, Kecamatan Rilau Ale kemudian masuk ke Kecamatan Sinjai Borong. Meski terkesan jauh, kami memilih jalur ini karena jalur jalan kaki lebih dekat dibanding jika melalui jalur Kecamatan Kindang, Bulukumba. Melalui jalur ini, kami hanya butuh berjalan kaki tak lebih dari satu kilometer karena kendaraan bisa sampai sisi Sungai Balangtieng yang menjadi perbatasan Bulukumba dan Sinjai.

Jika memilih jalur Kindang, untuk mencapai Tanjung, kita harus berjalan kaki sejauh sekira tiga kilometer karena kendaraan hanya bisa sampai pada Dusun Gamaccaya. Tahun 2011, saat pertama kali ke sana, saya dan teman bahkan harus berjalan kaki sejauh lima kilometer karena kendaraan hanya bisa mencapai Dusun Sapayya.

Kami meninggalkan rumah Fery setelah makan siang, sekitar pukul 12 siang, dan tiba di tepi sungai pada pukul 14 lewat. Kami tak langsung melanjutkan perjalanan karena terhalang hujan. Menjelang pukul 15 barulah kami melanjutkan perjalanan. Tak lebih dari 30 menit, tibalah kami di Bukit Tanjung. Kami memutuskan untuk tidak langsung memasang tenda sesampainyanya kami di sana. Tenda kami titipkan di rumah Ibu Fira.

Kami memilih untuk mengunjungi salah satu rumah warga yaitu Pak Marsan. Di rumah salah satu staf Bidang Pemerintahan Desa Kahayya itu, kami kemudian mengolah bahan makanan yang kami sebelumnya di Pasar Cekkeng, Bulukumba. Pagi hari sebelum berangkat, kami memang menyempatkan untuk ke pasar, selain untuk membeli keperluan makan, tujuan kami lainnya adalah berburu pakaian cap karung (cakar). Sayang, saya tak menemukan pakaian bagus untuk dibeli. “Stok barang sedikit dek, susah barang (masuk) sekarang” ujar salah seorang ibu penjual cakar yang saya temui.

Bahan makanan yang kami beli di pasar itulah yang kami olah di rumah Pak Marsan. Sementara itu, Fery menemani Enal memasang 3 (tiga) tenda untuk kami berenam. Selepas makan malam kami pun kembali ke bukit Tanjung.

Tak banyak yang kami lakukan malam itu, hanya menikmati bergelas – gelas kopi dan pisang peppe’ yang kami goreng di depan tenda. Juga menikmati permainan biola Windah. Saya memang sengaja memintanya membawa biola. Alunan suara biola di bawah jutaan bintang, hmm.. Bayangkan sendiri yah J

Satu per satu kami terbangun seiring matahari pagi menyembul dari timur. Setelah menikmati sarapan berupa kopi hangat dan snack yang kami bawa, kami pun membereskan tenda untuk segera kembali ke rumah Pak Marsan. Sebelumnya, kami sudah berjanji pada anak – anak yang menemui kami kemarin sore. Mereka meminta kami untuk membuka kelas di taman baca yang berada di depan rumah Pak Marsan.

seusai mengisi kelas di Taman Baca Kahayya

Pukul 09 lebih, Fery, Windah, Enal dan Rara, sudah berada taman baca. Saya sendiri baru turun dari rumah Pak Marsan sesaat setelah mereka selesai di kelas. Saya keasyikan ngobrol dengan staff pemerintahan desa itu. Kami membincangkan bagaimana pengelolaan Anggaran Dana Desa (ADD) yang begitu besar. Juga, bagaimana konsekuensi yang bisa terjadi pada kepala desa nantinya.

Saya sendiri khawatir, jumlah ADD yang besar itu bisa menjebloskan kepala desa ke dalam penjara. Ada dua penyebab; kepala desa tergiur dengan angka yang besar dan melakukan penyimpangan dalam pengelolaannya, yang kedua, kepala desa tak begitu memahami aturan sehingga melakukan kesalahan dalam penggunaan ADD itu. Pak Marsan sendiri menekankan pentingnya pendampingan bagi aparat desa dalam penggunaan anggaran itu. Belakangan, Fery memberitahu saya bahwa Pak Marsan adalah salah satu kandidat kepala desa Kahayya pada pemilihan berikutnya.

Pukul 11.00 setelah sarapan, kami pun turun ke tepi sungai tempat memarkir mobil. Tentu saja kami tak langsung pulang, kesegaran air sungai tentu sayang jika dilewatkan begitu saja. Pasang hammock, mandi dan menyeduh kopi ala V 69 pun kami pilih sebagai cara menyegarkan badan. Gerimis yang turun jadi pengingat untuk kami segera mengakhiri bermain air di sungai yang airnya sangat jernih ini.

Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan singgah di salah satu titik yang oleh warga sering menyebutnya sebagai pintu angin. Beberapa daerah pegunungan yang pernah saya datangi, selalu terdapat satu titik yang disebut pintu angin. “Pintu angin adalah sebutan bagi tempat pertemuan arus angin” jelas Enal menjawab rasa penasaran saya.

Saat pulang, kami singgah di rumah Windah yang terletak di Kecamatan Tanete untuk mengisi perut. Main – main di sungai ternyata membuat perut kami minta diisi kembali. Suguhan konro sudah menanti kami. Windah memang sudah mengabari orang di rumahnya akan kedatangan kami. Kenyang makan konro, 4 (empat) biji durian menjadi santapan berikutnya. Saya tak suka mencium bau durian akhirnya memilih mangga sebagai sajian penutup.

Perut kenyang usai makan di rumah Windah ternyata harus (baca: terpaksa) diisi lagi. Sesampai di rumah Fery, makanan sudah tersaji di meja makan. Ayah Fery tak mengijinkan kami pulang ke Makassar tanpa menyantap makanan yang sudah tersedia. Saya yang pura – pura tertidur tak bisa mengelak ketika Fery, yang membangunkan saya untuk kesekian kalinya, bilang: “kak, dipanggilki Etta makan”. Yah, sudah. Siapa yang bisa menolak jika Hokage bertitah?

Dalam perjalanan pulang, tak lupa kami mampir di pusat keramaian kota Bantaeng yang kami lalui, yaitu kawasan Pantai Seruni. Di pusat kuliner yang tertata rapi ini kami hanya memesan minuman dan makanan ringan. Teman – teman memesan salad buah dan saya sendiri hanya memesan teh hangat untuk meringankan perut yang terasa mules karena kekenyangan.

Jalan – jalan ke Kahayya ini ternyata tak menuntaskan apa – apa. Keinginan untuk kembali ke sana selalu ada meski baru beberapa hari berkunjung ke sana. Semoga akan ada kunjungan ke Kahayya, sekali lagi.

Related Posts

About The Author

Add Comment