Jangan Baca! Kamu Bisa Kepo, Terus Baper Lalu Galau

Kepo, Baper dan Galau. Kalau kamu sudah baca judul di atas tapi tetap memutuskan untuk mengklik tautan, – yang saya bagikan di beberapa media sosial,- Selamat! Itu berarti kamu masih memiliki rasa penasaran alias kepo, kata atau istilah kekinian.

Selamat? Selamat untuk apa? Kepo kok diberi ucapan selamat? Aneh!
Aneh? Tentu saja tidak! Mari kita telisik asal – usul dan makna kata ‘kepo’ itu. Kata ‘kepo’ berasal dari Bahasa Hokkien yang banyak dipakai oleh warga Singapura ‘Kaypoh’ yang berarti rasa ingin tahu. ‘Kaypoh’ ini kemudian diserap ke dalam Bahasa Singlish (Singaporean English) dan sampai pada lidah Indonesia kita menjadi ‘kepo’. Istilah ‘kepo’ sendiri mulai sering terdengar, jika tak salah, sejak tahun 2012.

Fira Basuki, seorang penulis perempuan ternama, dalam sebuah kicauannya tentang ‘kepo’ mengatakan seperti ini “Utk kt kaypoh lbh lanjut bs baca novel Jendela2. It’s not negative word, artinya hanya: ingin tahu. Bukannya setiap org nanya itu ingin tahu?” Ingin tahu lebih lanjut tentang kata ‘kaypoh’? Silakan cari novel novel Jendela – Jendela karya Fira Basuki 

Seperti yang dibilang Fira, kepo itu bermakna ‘ingin tahu’. Tak lebih. Hanya saja dalam perkembangannya, penggunaan kata ini mengalami distorsi makna, menjadi sebuah kata yang cenderung negatif. Orang yang kepo dianggap memiliki rasa ingin tahu yang berlebihan.

“Ih, kamu kok kepo sih?” atau dalam dialek Makassar “Ih kepo na inie” sering kali kita dengar atau kita ucapkan ketika seseorang bertanya tentang sesuatu. Respon seperti ini menandakan bahwa tindakan bertanya adalah sesuatu yang salah. Padahal, bertanya karena rasa ingin tahu akan sesuatu bukan hal negatif bukan?

Tanpa rasa ingin tahu, Thomas Alva Edison, Einstein, Alexander Graham Bell dan kawan – kawan tidak akan bisa menemukan dan menciptakan karya – karya mereka yang akhirnya mengubah dunia hingga menjadi sekarang. Coba bayangkan bagaimana bisa seorang Mark Zuckerberg bisa menciptakan Facebook jika ia tidak kepo untuk membuat direktori mahasiswa baru di kampusnya.

Lain soal jika kamu bertanya hal – hal bersifat sangat pribadi pada orang yang baru kamu kenal atau belum akrab. Semisal mengajukan pertanyaan “kamu sudah pernah make love belum sama pacarmu?” pada seseorang yang baru kamu jumpai di kedai kopi. Kalau ini sih, yakin dan percaya, paling tidak kamu akan dipelototin oleh orang yang kamu tanyai. Syukur – syukur kalau ia, dan teman – temannya, tidak menabokmu.

Baca Juga: 5 Alasan Kamu Harus Menulis

Sampai di sini kamu masih kepo? Yakin mau lanjut baca?

Baper. Apa itu Baper? Istilah ini baru saja muncul. Belum lama. Mungkin baru setahunan kita akrab dengan istilah ini. Baper sendiri adalah singkata dari ‘bawa perasaan’, sering ditujukan pada orang yang terlalu serius menanggapi atau melibatkan perasaan pada suatu hal atau sebuah pembicaraan, umumnya candaan. “Ah baru dibilangin begitu, sudah baper” biasanya kita mendengar kalimat itu atau lontarkan saat teman kita tersinggung pada candaan kita.

Banyak di antara kita berlindung dengan menggunakan kata ‘baper’ ini saat tanpa sengaja (atau dengan sengaja) melukai perasaan kita dengan candaan. Kita akan dengan mudah mengecap bahwa teman kita terlalu sensitif padahal bisa saja apa yang kita lontarkan menyentuh titik paling peka dalam dirinya. Kita tak tahu semua perjalanan dan pengalaman hidup yang mereka punya kan? Tentang ‘baper’ ini dituliskan dengan apik oleh teman saya @ardianadw dalam blognya ‘Berlindung di Balik Qoute’

Sejatinya, baper ini adalah hal yang biasa saja. Sebagai manusia yang dianugerahi perasaan sejak kita lahir, bawa perasaan ketika melihat, mendengar dan merasakan sesuatu sepatutnya dianggap wajar saja. Bukan sesuatu yang negatif. Bahkan, banyak hal besar dalam sejarah terjadi karena pelaku ‘baper’ loh.

Ambil contoh, andai Soekarno dan pejuang – pejuang kemerdekaan kita tak baper melihat bagaimana penderitaan rakyat Indonesia akibat penjajahan mungkin kita belum merayakan Peringatan Hari Kemerdekaan RI yang ke 70. Andai Virgiawan Listanto tak baper melihat fenomena sosial di sekitarnya mungkin kita tak akan pernah mengenal nama Iwan Fals sebagai legenda hidup musik Indonesia.

Akan sangat banyak nama dan contoh tokoh yang bisa kita kenali sekarang karena mereka baper pada kondisi sosial lingkungannya dan kemudian melakukan sesuatu untuk perubahan yang mereka yakini akan lebih baik. Sebut saja misalnya; Mahatma Gandhi, Mother Theresa, Slank, Soe Hok Gie dan lain – lain.

Setelah Kepo dan Baper, semoga tak galau dan tetap melanjutkan membaca tulisan ini. Soalnya, ketika teman – teman galau, tentu akan bingung dan meninggalkan tulisan ini. Lalu apa ‘galau’ itu sebenarnya?

Berbeda dengan ‘kepo’ dan ‘baper’ yang baru bermunculan di era media sosial, kata ‘galau’ sebenarnya sudah lama ada dan tercatat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata ini bahkan sudah dipakai sebagai judul lagu oleh Candra Darusman di tahun 1982 dalam album bertajuk Sepi. Sebuah grup nasyid, Suara Persaudaraan juga sudah mendendangkan lagu berjudul Galau pada tahun 1996, jauh sebelum ‘galau’ populer. Selain itu,ada banyak lagu yang menggunakan kata ‘galau’ sebagai judul lagu atau di dalam liriknya, baik itu sebelum atau pun sesudah lema ini populer kembali berkat media sosial. Tentang penggunaan kata galau saya sudah pernah membahasnya di ‘Galau Yang Kacau’.

Makna ‘galau’ dalam KBBI edisi IV (2008) halaman 407, dikatakan “galau” berarti kacau (tentang pikiran); “bergalau” berarti (salah satu artinya) kacau tidak keruan (pikiran); dan “kegalauan” berarti sifat (keadaan hal) galau. Menurut defenisi kamus itu keadaan galau adalah saat pikiran sedang kacau tak keruan.

Makna itu sekarang sudah bergeser dan cenderung lebih diartikan sebagai keadaan seseorang yang sedang bimbang, bingung menentukan pilihan, gelisah atau sedih. Untuk menggambarkan ‘galau’ yang selama ini dipahami orang-orang di media sosial, Bahasa Indonesia menyediakan kata lain yang lebih tepat, yaitu ‘gundah’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘gundah’ berarti sedih, bimbang, gelisah. Jika ditambahkan dengan ‘gulana’ jadi ‘gundah gulana’ maknanya berarti keadaan sangat sedih atau sedih dan lesu.

Baca Juga: 8 Cara Menarik Pengunjung Blog

Ketiga kata atau istilah ini; Kepo, Baper dan Galau ini pun mengalami distorsi makna menjadi sesuatu yang berlebihan dan cenderung negatif. Di media sosial, kepo dimaknai sebagai sifat terlalu ingin tahu dan mencampuri urusan orang. Akibatnya, kita kadang enggan bertanya akan sesuatu karena takut dicap kepo. Padahal, kepo yah sekadar ingin tahu. Tak lebih dari itu.

Kita juga kadang malu menunjukkan perasaan kita, – entah itu haru, bangga atau emosi lain,- karena dengan mudah teman kita melabeli kita dengan ‘baper’. Parahnya lagi, dalam konteks lain, kita seringkali harus pasrah menerima candaan teman yang sudah kelewatan hanya karena kita tak mau dicap ‘baper’. Pun dengan kata ‘galau’ yang mengalami penyempitan makna seperti tergambarkan di atas.

Rasa ingin tahu, kepekaan perasaan dan pikiran, sejatinya adalah anugerah Tuhan yang melekat pada kita sebagai manusia. Tanpa rasa ingin tahu, kita tak akan bisa ke mana – mana dan tak akan melakukan apa – apa. Manusia tanpa perasaan, tak akan lebih dari sebuah robot. Pun, tanpa pikiran yang terus – menerus bekerja, kita hanyalah seonggok daging. Kepo, Baper dan Galau adalah penanda bahwa kita manusia normal.

Jadi, jangan pernah takut Kepo, Baper dan Galau!

Related Posts

About The Author

4 Comments

Add Comment