Istirahatlah Kata-Kata: Jalan Sunyi Wiji Thukul

“Aku ra pengen kowe lungo, aku yo rapengen kowe teko. Aku mung pengen kowe ono.” Aku tidak pernah mau kamu pergi. Tapi aku juga tidak mau kamu pulang. Aku hanya ingin kamu ada.

 

Wiji Thukul dikenal sebagai penyair yang menyerap denyut nadi kehidupan rakyat kecil dan menyuarakannya kembali melalui puisi-puisi. Penggalan puisi perlawanannya yang paling monumental dan banyak dikutip orang adalah bait “Hanya ada satu kata: Lawan!”

Bait dari puisi ‘Peringatan’ ini seakan menjadi mantra wajib dan hadir dalam orasi-orasi untuk menaikkan semangat perlawanan para demonstran terhadap rezim Orde Baru dan rezim setelahnya.

Penyair kelahiran Solo, 26 Agustus 1966 ini merasa perlawanan terhadap tirani orde baru melalui kata-kata tak akan cukup. Untuk itu, Wiji Thukul yang bernama asli Wiji Widodo, terjun langsung mengorganisir aksi massa.

Pada 1994, terjadi aksi petani di Ngawi, Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer. Sebelumnya, pada tahun 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo.

Pada tahun 1994, ia juga mendirikan dan aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker) bersama seniman lainnya. Ia turut pula dalam pendirian dan deklarasi Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 22 Juli 1996. Sesuatu yang bertentangan dengan undang-undang yang saat itu hanya membolehkan tiga partai.

Beberapa hari setelah deklarasi PRD, meletus kerusuhan 27 Juli 1996, Ia yang aktif sebagai Kepala Divisi Propaganda Partai Rakyat Demokratik (PRD), bersama aktivis PRD lainnya Wiji Thukul dijadikan tersangka pemicu kerusuhan 27 Juli itu. Beberapa di antara mereka ditangkapi. Wiji Thukul memilih melarikan diri ke Pontianak, Kalimantan Barat.

Penggalan kisah pelarian inilah yang menjadi fokus dari film Istirahatlah Kata-Kata. Alih-alih mengangkat sisi heroisme dan perlawanan Wiji Thukul, Yosep Anggi Noen (sutradara dan penulis naskah) memilih untuk menampilkan sisi lain dari Wiji Thukul.

Dia yang selama ini jadi simbol perlawanan karena keberanian dan kegagahannya menentang Orde Baru digambarkan menjalani masa-masa penuh ketakutan, kesepian, kebosanan dan kerinduan pada keluarga yang ia tinggalkan.

“Hidup jadi buronan ternyata lebih menakutkan dari menghadapi sekelompok ‘kacang ijo’ kala demonstrasi,” ujar Thukul.

Berbeda dengan Gie besutan Riri Reza yang menampilkan semangat perlawanan melalui adegan rapat, diskusi dan aksi demonstrasi, Istirahatlah Kata-Kata memilih cara lain. Sosok  aktivis bernama Wiji Thukul dihadirkan sebagai manusia biasa yang memiliki rasa takut. Ke mana-mana wajahnya ia tenggelamkan dalam topi.

Ia tetap menulis untuk melawan, juga untuk mengusir kebosanan yang mendera.

Ketakutan atau teror sebagai buronan Orde Baru yang dialami Wiji dan keluarga tersaji melalui gambar dan simbol. Istirahatlah Kata-Kata menjadi sebuah film biopic tanpa dramatisasi untuk menggambarkan sosok seorang penyair cum pemberontak, Wiji Thukul.

Tak ada penggambaran heroik bagaimana Wiji Thukul membacakan puisi di depan aksi massa buruh menuntut hak. Jangan berharap ada adegan di mana ia dengan berani lantang menentang aparat dan negara. Hanya puisi “Bunga dan Tembok’ yang hadir melalui suara lantang Fajar Merah di akhir film.

Dalam film ini, hanya sekali ia menampakkan kemarahan. “Negara ini bangsat. Takutnya sama kata-kata,” kata Wijil sambil melahap nasi bungkus. Itu pun tanpa amarah yang menggelegak.

Kesunyian seorang Wiji Thukul dalam masa pelarian tergambar melalui film yang minim dialog dan musik. Pun, sang sutradara seakan memaksa kita untuk terdiam dalam suasana muram dan memaknai gambar-gambar dan simbol dalam film yang berdurasi 97 menit ini.

Film ini juga meski tanpa adegan kekerasan yang dilakukan oleh aparat, namun berhasil menggambarkan bagaimana kekuasaan negara bisa menciptakan kesunyian dan keterasingan bagi yang menentangnya. Kisah pelarian  Wiji Thukul mampu memberikan rasa mencekam dan tidak tenang kepada penonton sehingga dapat merasakan apa yang dialami oleh penyair telah memiliki beberapa buku puisi ini.

Buku-buku puisi Wiji Thukul antara lain; Puisi Pelo dan Darman dan Lain-lain (keduanya diterbitkan Taman Budaya Surakarta pada 1984), Mencari Tanah Lapang (Manus Amici, Belanda 1994) dan Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000), Nyanyian Akar Rumput (Gramedia Pustaka Utama, 2014).

Wiji Thukul dan Sipon - foto koleksi Wahyu Susilo adik Wiji Thukul.

Wiji Thukul dan Sipon – foto koleksi Wahyu Susilo adik Wiji Thukul.

 

 

Di luar buku-buku, itu sebenarnya masih banyak lagi karya Wiji Thukul yang tersebar di berbagai selebaran, majalah, koran mahasiswa, jurnal buruh dan media lainnya sejak tahun 1980an. Termasuk puisi-puisi yang ia ciptakan dan sebarkan dengan nama pena lain selama dalam masa pelarian.

Beberapa puisinya hadir dalam bentuk narasi dan dibacakan dengan lirih oleh Gunawan Maryanto yang berhasil memerankan sosok Wiji Thukul dengan sangat baik. Ia mampu menghadirkan sisi lain Thukul, manusia biasa yang mengalami kecemasan dan juga rasa kangen yang teramat sangat kepada kerabat, anak, dan istri.

Marissa Anita yang memerankan Sipon (istri Thukul) pun layak mendapat jempol. Presenter sebuah tv swasta nasional yang aktif berteater di Jakarta Players ini mampu membawa penonton ke dalam suasana hati dan batin seorang istri kejaran aparat. Begitu pula pemain-pemain lainnya, berhasil memerankan karakter dalam film ini dengan apik.

Selepas pelariannya selama delapan bulan di Pontianak, Wiji Thukul kembali ke Jakarta dan melanjutkan perlawanannya hingga dinyatakan hilang. Terakhir kali ia terlihat pada April 1998, sebulan sebelum kerusuhan Mei 98 terjadi. Sebuah peristiwa yang mendorong rezim yang ia lawan jatuh.

Bagi yang belum mengenal sama sekali sosok Wiji Thukul dan ingin mengenalnya melalui film ini, tentu akan kecewa. Istirahatlah Kata-Kata adalah kisah jalan sunyi yang ditempuh oleh Wiji Thukul dalam pelarian. Pun, bagaimana ia mampu menahan beban tak tertanggungkan dan mengatasi masa-masa sulit.

Istirahatlah Kata-Kata hadir di tengah bising deras informasi sebagai penanda dan pengingat bahwa pernah ada masa di mana orang bisa ditangkapi hanya karena berbeda pendapat dengan penguasa. Dan, masa itu belum terlalu lama lewat.

Juga, sebagai pengingat pada kita semua, termasuk Jokowi yang sekampung dengan Thukul, bahwa Wiji Thukul dan belasan orang lainnya yang dihilangkan oleh aparat negara hingga kini belum jelas keberadaannya.

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment