Ini Jus Buah Tala’ Bukan Ballo

Inne mi rikana Jus Buah Tala’, biasa tong nikana Jus Buah Lontar. Nampa pi se’re’ pabbalu na. Subair Sirua Daeng Ta’le arenna. Jai tala’ ri Jeneponto nampa lammoro ji punna ni ballukangngi tawwa jari kucobami pare ki’ Jus. Golla eja nira tala’ campuranna. Buah tala’ ngaseng toh.

Inilah yang disebut Jus Buah Tala’, biasa juga disebut Jus Buah Lontar. Saat ini baru satu orang yang menjualnya. Jeneponto kayak akan buah tala’ atau buah dari pohon lontar. Sayang harga jualnya sangat murah. Saya pun mencoba mengolahnya menjadi jus. Bahan lainnya adalah gula merah yang terbuat dari nira pohon lontar. Semuanya dari pohon lontar.

Saya membayangkan akan menuliskan kalimat di atas sebagai pembuka catatan saat duduk di depan Subair Sirua Daeng Ta’le. Lelaki muda berusia 31 tahun, yang lebih karib disapa Daeng Ta’le, inilah yang mencoba memanfaatkan potensi Jeneponto berupa buah lontar (buah tala’ dalam bahasa Makassar) menjadi minuman jus lontar. Bahan dasarnya adalah buah tala’ dicampur dengan gula merah yang juga berasal dari nira pohon lontar.

“Daeng, jang ki lupa besok singgah di Boyong. Mau ka kasi coba ki jus lontar” begitu pesan Daeng Ta’le begitu kami menutup sesi bincang-bincang kepenulisan bersama relawan Pustaka Ballak Kana. Keesokan paginya, ia kembali agar kami tak lupa mampir di Boyong sebelum pulang ke Makassar.

Awalnya, saya mengira Daeng Ta’le akan menyuguhkan kami Ballo, minuman tradisional Makassar yang terbuat buah lontar. Sejak semalam saya menduga akan diajak minum Ballo. Ternyata saya salah. Begitu jus lontar terhidang di meja, saya langsung mencicipinya. Jus-nya kental dengan rasa buah lontar yang khas ditambah rasa manis yang pas.

Lulusan Sekolah Perawat Kesehatan Bhayangkara ini sempat merantau ke Bekasi selama tiga tahun lalu pulang ke kampung halamannya. Di Jeneponto ia melihat banyak anak-anak kecil yang berjualan buah tala’ hingga ke Makassar. “Tiga bungkus itu mereka jual hanya Rp. 10.000,-. Paling banyak mereka bisa bawa 100 bungkus. Itu pun tidak bisa laku semua meski mereka jualan sampai larut malam. Berapa ji (keuntungan) mereka bisa dapat?” tutur Daeng Ta’le.

Subair Sirua dan Jus Buah Lontar olahannya

Subair Sirua dan Jus Buah Lontar olahannya

Berangkat dari kegelisahan itulah Daeng Ta’le mencoba memanfaatkan buah tala’ dengan mengolahnya. Ia pun mencoba membuat jus buah tala’ setelah ia meminum jus buah tala’ buatan seorang istri kawannya. Paling tidak ia meramu hingga lima kali lebih hingga mendapatkan komposisi yang pas. Ia memilih menggunakan gula merah dari nira pohon lontar, “manisnya lebih alami, juga terbuat dari pohon lontar yang banyak di Jeneponto” ungkapnya.

Bagi yang mau mencoba kesegaran Jus Buah Lontar, sila mampir di Kawasan Kuliner Boyong Jeneponto. Cari warung pertama dari pintu masuk yang berada di sisi kanan jalan arah dari Makassar. Sangat mudah menemukannya karena warung ini terletak di sisi paling kiri dari deretan warung yang ada. Warung ini oleh Daeng Ta’le yang juga kordinator Pustaka Ballak Kana ia sulap menjadi kafe baca dengan menyediakan buku bacaan bagi pengunjung.

Untuk Jus Lontar, harga per gelas hanya Rp. 10.000, dan Daeng Ta’le menyisihkan seribu rupiah dari penjualan per gelas untuk menghidupkan Pustaka Ballak Kana di Desa Bonto Tangnga Kec. Tamalatea Kab. Jeneponto. Jadi, selain bisa menikmati minuman khas Butta Turatea teman-teman juga turut membantu Daeng Ta’le dan relawan Pustaka Ballak Kana menghidupkan budaya membaca di Jeneponto.

Subair Sirua Daeng Ta’le sedang memikirkan cara agar jus ini dapat diproduksi dan dijual oleh orang-orang Jeneponto mengingat semua bahan ada di kabupaten ini. Ia sedih melihat anak-anak kecil yang menjajakan Buah Tala’ hingga larut malam di Makassar. Dengan mengolahnya menjadi jus, ia berharap anak-anak kecil itu tak perlu melakukannya lagi. Pun, Jeneponto yang kaya akan pohon lontar akan memiliki minuman khas selain Ballo, yang sering kali berkonotasi negatif.

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment