Imonk In Memoriam

Diah, tolong sampaikan ke Simon tiketnya sudah ada. Kita akan mengulang sejarah 20 tahun lalu, dan kamu akan turut menyaksikan kedahsyatan Metallica. Prepare yourself young lady

 

Begitulah bunyi pesan yang dikirimkan oleh kawan pamanku dari ibukota. Namanya Igor , singkatan dari Iwan gondrong. Aku yang saat itu sedang berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di kotaku seketika terduduk lemas tidak berdaya.

Perasaan haru dan marah menyelimutiku. Terharu karena apa yang telah temannya lakukan untuknya. Dan marah karena jika ia membercandaiku, candaannya kali ini sangat keterlaluan. Simon sudah pergi beberapa bulan lalu, tepatnya di akhir Desember menutup akhir tahunku dengan warna suram.

Tanpa pertimbangan akhirnya kuputuskan berangkat menunaikan salah satu cita-cita Simon semasa hidupnya, dulu. Umur kami beda jauh, bahkan saat ia dan kawan-kawannya menyaksikan konser Metallica untuk pertama kalinya, aku belum lahir. Tentang kepergiannya pun belum berani kukabarkan kepada om Igor.

Hari berlalu, hari yang dinanti telah datang. Senja menyapaku di ibu kota saat benda berbahankan besi dilengkapi baling-baling membawaku dari kota daeng sore itu. Baru kali ini aku tak menikmati perjalananku yang dulu sering kali kurangkaikan dengan acara belanja ala perempuan pada umumnya.

Tak berselang lama, om Igor menghampiriku di salah satu outlet yang ada di bandara Soekarno-Hatta. Dia menanyakan keberadaannya, Simon sudah tiada kataku. Mimik mukanya seketika dirundung pilu, air matanya menetes. Aneh, lelaki berbadan kekar berambut gondrong itu ternyata tak sesangar perawakannya.

Setelah berbincang dan sudah bisa menguasai emosinya, ia mengajakku beranjak untuk menyusul kawan almarhum lainnya yang sudah menuju Gelara Bung Karno. Bukan ibukota namanya jika macet tak menjadi kawan yang paling setia menyertai perjalananmu. Sepanjang perjalanan om Igor hanya termenung, entah apa yang ada dalam benaknya. Lagi, aku mencoba bijak, mungkin dia butuh waktu menerima kenyataan pahit akan kepergian sahabatnya yang pergi tanpa pamit.

Setali tiga uang, pertanyaan yang sama juga diajukan oleh kawan Simon yang lainnya. Dan tak ada jawaban lain selain menjawab dia sudah berada di tempat yang lebih tinggi dari kami semua yang masih menapakkan kaki di bumi.

Gelora Bung Karno di dominasi warna hitam, selaras dengan suasana hati kami malam itu. Di dalam GBK kami berpencar. Aku akhirnya berada di tribun sedangkan mereka di bagian festival. Untungnya om igor menemaniku, anggap saja aku buta- buta akan metallica-.

 

Selama konser itu berlangsung Om Igor lah yang dengan sabar memberi tahuku beberapa lagu yang dilantunkan oleh James Hetfield.

Menangis di konser semeriah dan sepadat ini bukan pilihan yang tepat. Musik bergenre keras tentu saja tak memberi kesan mellow, namun suasana hatiku yang terlanjur hitam sehitam suasana GBK lah yang memprakarsai air mata ini. Ada rasa tak percaya menginjakkan kaki di sini tanpa sang empu mimpi yang sedang menjadi nyata ini.

Andai Simon masih ada, dia tentu akan berdecak kagum. Konser kali ini sangat berbeda dengan suasana panas (red: kerusuhan) yang terjadi pada kali pertama mereka mengadakan konser di Indonesia pada tahun 1993. Bahkan kau bisa melihat  lautan lampu handphone menghiasi GBK tanpa ada suasana ricuh dan kurangnya orang yang berjingkrak heboh layaknya suasana konser rock yang kusaksikan dari layar tv.

Persiapan konser ini sungguh luar biasa, termasuk persiapan kawan-kawan Simon. Walau niat hati ingin memberi kejutan namun akhirnya mereka sendirilah yang terkejut akan kejutan yang diberikan oleh dia yang akan mereka kejutkan.

Mereka , pecinta musik rock juga ternyata mempunyai hati selembut pecinta jazz. Dari mereka kupetik pelajaran penting “tak ada masa kadaluarsa untuk sahabat, sejauh apapun fisik sahabatmu pergi, sahabat akan hidup selamanya di sanubarimu“.

Tunai sudahlah mimpimu. Kini aku akan bertolak ke kotaku kembali, kembali menghadapi realita menunaikan tugasku sebagai mahasiswi. Lelah menderaku di sekujur tubuhku. Sembab memberi efek letih yang teramat sangat di kedua mataku.

Simon – Andi Panca Putra-, terima kasih untuk pelajaran yang kau tinggalkan. Terima kasih untuk mereka yang mengajariku beberapa point penting tentang hidup. Terima kasih akan semua kenangan indah semasa hidupmu dulu.

Tak ada yang melupakanmu, tak seorang pun.

Masing-masing dari kami menyimpan cerita indah nan bersejarah denganmu.

Kepulanganku kali ini ditutup dengan lantunan Al- Fatihah untukmu dari kami yang menyayangimu.

Semoga di alam sana kau menyaksikan kekhidmatan ini sembari tersenyum.

Titip Om-ku Ya Rabb , kataku .

Titip sahabat kami, kata Om Igor yang di-amin-kan oleh para kawannmu yang lainnya.

 

Langkahku memasuki gerbang keberangkatan diiringi lambaian tangan.

Perpisahan idealnya seperti ini ucapku dalam hati.

Ada yang melangkah pergi dan ada yang melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.

Namun perpisahan kami denganmu berbeda, di lain waktu aku dan mereka bisa saja bertemu, namun tidak denganmu.

Kau pergi untuk selamanya.

Kau pergi meninggalkan kami semua.

–end–

 

tulisan di atas adalah catatan kecil seorang gadis manis berjilbab pemilik akun @dhiiediah. saya harus menyertakan kata ‘manis’ di antara ‘gadis berjilbab’ karena ia memang manis. saya tak begitu mengenal, atau belum?, gadis manis ini. perjumpaan kami baru terjadi 2 (dua) kali. pertama, saat saya bertemu dengan seorang gadis manis lainnya berakun @premous, seorang pejalan yang ingin mengelilingi Indonesia dan mengibarkan bendera merah putih di setiap tempat yang ia datangi. Diah dan Prem berteman. pertemuan kami sangat singkat saat itu karena ia harus segera pulang. ia tak ingin sampai di rumah setelah pukul 11 malam. tak ada interaksi setelah itu.

saat melaksanakan ibadah umrah Metallica [baca di sini] Prem mengirimkan sms dan mengabarkan bahwa Diah juga melaksanakan hal yang sama, menyaksikan konser Metallica. sayang, saat itu kami tak sempat bertemu. Diah langsung pulang subuh hari setelah konser. setelah pulang ke Makassar, interaksi kami pun terjalin via twitter. jujur saya penasaran padanya. gadis seusia dia menonton konser Metallica? tentu ia masih sangat kecil saat dewa musik cadas ini berjaya. saya penasaran lebih pada alasan di balik ia nonton konser itu.

pertemuan kedua kami terjadi tanpa sengaja. ternyata, kami berada di mall yang sama saat chatting via LINE. Diah pun menceritakan kenapa ia rela ke Jakarta seorang diri untuk menyaksikan Metallica. menarik! saya banyak mendengar alasan kenapa orang rela melakukan apapun demi Metallica, tapi benang merah dari semuanya adalah karena mereka memang penggemar Metallica.

nah! Diah berbeda. saya pun memintanya menuangkannya ke dalam tulisan. awalnya ia merasa tak bisa mampu. tak bisa menulis katanya. lama tak mendengar kabar tentang tulisannya, saya kemudian lupa. sampai pada suatu saat saya membuka email dan menemukan lampiran berisi tulisan di atas. saya hanya melakukan penyuntingan minor.

bulan depan, dua band lawas; Steelheart dan Firehouse akan tampil di Makassar. saya tentu saja menantikan kehadiran konser mereka agar mabrur menjadi generasi 90an. akankah konser itu akan menjadi pertemuan ketiga kami? who knows 🙂

 

 

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.