I Love MC: Benarkah Makassar Kota Kreatif?

Beberapa waktu lalu saya diundang ke sebuah acara yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Makassar. Tajuk acara itu adalah Sosialisasi Pengajuan Makassar Sebagai Kota Kreatif ke Unesco.

Dalam pertemuan yang dihelat di sebuah hotel itu, tuan rumah mengundang beberapa komunitas dan juga pelaku industri dan ekonomi kreatif di Makassar.

Tema kegiatan ini adalah sosialiasi pengajuan Makassar sebagai kota kreatif namun saat acara berlangsung narasumber dari kementerian sepertinya sudah mengarahkan peserta memilih tema sebagai tema yang diusung oleh Makassar dalam proposal pengajuan ke Unesco. Tema itu adalah Literature, Folk and Craft Art dan Gastronomy. Dalam pertemuan itu, disepakati juga akan pembentukan tim kerja untuk pengajuan ini.

Lucunya, hanya berselang beberapa jam dari pertemuan itu beberapa portal berita sudah memberitakan bahwa telah terbentuk tim kerja yang diketuai langsung oleh Danny Pomanto, walikota Makassar. Tak jelas siapa-siapa yang terlibat dalam tim kerja itu, apalagi bagaimana mereka akan bekerja.

Sepertinya sosialisasi itu memang dirancang hanya untuk kepentingan dokumentasi kementerian bahwa mereka telah mengadakan sosialisasi. Jika mereka serius kenapa sosialisasi ini tidak diadakan jauh hari mengingat tenggat pengajuan proposal adalah Maret 2015? Salahkah jika saya kemudian berpikir bahwa acara ini hanya sekadar formalitas bahwa mereka sudah mengadakan sosialisasi? Atau, kegiatan ini sekadar untuk menghabiskan anggaran?

Ada satu hal yang menarik dari kegiatan itu. Beberapa kota yang telah memasukkan proposal pengajuan ke Unesco telah memiliki city branding sendiri. City branding adalah sebuah upaya ‘menjual kota’, membentuk merek dari satu kota untuk memudahkan dalam memperkenal kotanya kepada target pasar seperti investor atau wisatawan dll. City branding ini biasanya menggunakan kalimat positioning atau tagline, slogan, dan ikon.

Penerapan city branding di dunia diawali oleh New York pada tahun 1977. Adalah Milton Glaser yang menciptakan I Love New York atas permintaan New York State Department of Commerce. Logo itu kemudian dipakai oleh pemerintah New York dalam berbagai kampanye semisal pariwisata hingga gerakan seni dan budaya. Kampanye itu berhasil mendorong peningkatan pengunjung New York dan menyumbang pendapatan negara sebesar 1,6 miliar USD dari sektor pariwisata.

City Branding I-Love-NY

foto: google

Di Indonesia, city branding pertama kali dilakukan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2001 dengan brand The Never Ending Asia. Lalu disusul Semarang pada akhir tahun 2006 meluncurkan Semarang The Beauty of Asia. Pada tahun yang sama, Jakarta memperkenalkan Enjoy Jakarta. Ada pula Surakarta mengusung yang brand Solo: The Spirit of Java. Penggalan kata-kata atau tagline yang dipakai dimaksudkan untuk menggambarkan daerah mereka. City branding juga disertai logo-logo yang menarik agar banyak yang datang dan menikmati suguhan kota-kota mereka.

Lalu bagaimana dengan Makassar? Tadi malam, 3 November, bertempat di Mall Ratu Indah, Dinas Pariwisata Kota Makassar menggelar peluncuran jingle Makassar. Sebelumnya, Dinas Pariwisata Kota Makassar menggelar lomba pembuatan jingle untuk Makassar. Dalam acara pengumuman pemenang lomba jingle ini, pemkot Makassar juga memperkenalkan I Love MC sebagai city branding Makassar. Inilah tampakan I Love MC itu..

City Branding Makassar

Bandingkan dengan logo I Love NY. Sulit untuk mengatakan bahwa I Love MC itu tidak meniru, kalau tidak mau menggunakan kata ‘menjiplak’, trademark Kota New York dengan logo bentuk hati warna merah yang sangat melegenda itu. Beberapa kota juga meniru I Love NY ini tapi setahu saya belum ada yang menjadikannya sebagai city branding.

Apakah Makassar kekurangan desainer sehingga harus mengambil jalan pintas dengan meniru konsep NY? Tentu tidak, saya sangat percaya memiliki ratusan bahkan lebih desainer yang bisa menciptakan logo yang lebih keren dan sesuai dengan karakteristik Makassar. Kenapa tidak dilombakan saja seperti halnya jingle kota Makassar? Logo itu juga menggunakan kata Makassar City dengan singkatan MC. Selama ini singkatan Makassar adalah MKS. Kenapa tidak menggunakan singkatan yang mudah diingat dan sudah digunakan dimana-mana ini?

Begitu juga dengan penggunaan tagline Makassar Sombere’ dan Smart City, “terasa seperti mendengar Cinta Laura berbahasa Makassar” kicau seorang teman dalam akun twitternya. Kenapa tidak menggunakan bahasa Makassar saja kalau memang mau memasukkan kata ‘Sombere’? Dengan begitu, orang-orang akan bertanya dan tertarik untuk tahu lebih banyak.

Sekarang, coba bandingkan dengan logo-logo kota lain di Indonesia ini. Mereka mengangkat ciri khas dan karakteristik mereka masing-masing tanpa harus meniru konsep kota lain.

Logo-logo atau city branding kota kreatif lainnya di Indonesia

Logo-logo atau city branding kota kreatif lainnya di Indonesia

Sekarang, bisakah kita menyebut Makassar sebagai kota kreatif jika untuk logo saja kita harus meniru logo kota lain? Silakan jawab di kolom komentar 😀

Related Posts

About The Author

11 Comments

Add Comment