Hari Jadi Sulsel 347 dan Pertanyaan-Pertanyaan Yang Muncul

Hari ini 19 Oktober sebagian besar warga Sulawesi-Selatan, khususnya Pemerintah Provinsi, sibuk merayakan Hari Jadi Sulsel 347 dengan berbagai kegiatan.

Mulai dari kegiatan menyambut hingga pada Hari H yang akan diadakan di Hotel Clarion hari ini. Namun, saya tak akan membahas apa saja perayaannya. Mari fokus pada poster dan e-flyer yang beredar di media sosial hari ini.

Pagi ini saya membuka aplikasi tweetdeck untuk mengecek twitter dan tahu apa yang saya temukan? Sebuah poster peringatan Hari Jadi Sulsel ke 347 yang, mau tak mau, menarik perhatian.

Coba perhatikan poster di bawah ini baik-baik..

poster-hari-jadi-sulsel-347-dan-pertanyaan-pertanyaan-yang-muncul

poster hari jadi sulsel ke 347

 

Setelah memerhatikan poster ini apakah muncul pertanyaan-pertanyaan seperti yang ada di kepala saya?

1.       Angka  347 berwarna merah kuning hijau.

Mau tidak mau mengingatkan kita pada Bob Marley, nabi para Rastafarian dan idola penggemar musik reggae . Lalu apa hubungan antara hari jadi Sulsel dengan Rastafarian dan musik reggae?

2.       Tulisan ‘Sulselalu di hati’ di bawah angka 347.

Kita pasti paham bahwa yang dimaksud oleh desainer tersebut adalah ‘Sulsel di hati’. Mungkin, demi menghemat ruang di poster yang sudah sesak oleh tulisan dan gambar itu si desainer memberi warna lain pada huruf Sul untuk membedakan dengan ‘selalu di hati’ yang berwarna putih.

Penekanan dengan pembedaan warna pada ‘Sul’ itu justru menimbulkan tafsir dan pembacaan yang berbeda. Jadinya, ‘Sul selalu di hati’. Pertanyaannya: siapakah Sul yang selalu di hati itu?

 

3.       Tulisan tema hari jadi Sulsel ke 347 ini adalah Membangun Indonesia dari Sulsel,

Dengan salah satu sub tema ‘Dengan Semangat Hari Jadi Sulsel Ke-347 Kita Wujudkan Sulsel Modern, Maju, Mandiri Dalam Kebersamaan (3M+1B)’.

Sub tema ini dituangkan ke dalam poster dengan tulisan MAJU, MANDIRI, MODERN dalam ke BERSAMAAN. Dengan memisahkan memisahkan ‘ke’ dan ‘bersamaan’ tentu mengubah makna dari ‘kebersamaan’ yang dimaksud. ‘Bersamaan’ menjadi merujuk pada satu tempat karena mendapat preposisi kata depan ‘ke’.

Pertanyaannya: jika merujuk pada aturan bahasa kita, ‘bersamaan’ itu di mana? Apakah si desainer tak mengerti tata bahasa? Atau, kenapa melabrak tata bahasa demi singkatan 3M+1B? Begitu sakralkah 3M+1B itu?

 

4.       Pada bagian bawah terdapat banyak gambar demi menunjukkan pembangunan di Sulsel.

Salah satunya adalah gambar kereta api dengan logo Sulsel di depan kereta tersebut. Semua orang tahu bahwa proyek pembangunan rel kereta api di Sulsel belum selesai. Lalu, gambar kereta api itu dicomot dari mana?

 

5.        Dari semua pertanyaan di atas, muncul pertanyaan besar dari poster dan logo Hari Jadi Sulsel ke 347 tersebut.

Tak adakah desainer di Makassar atau Sulsel yang bisa membuat poster dan logo yang lebih baik?

catatan: saya juga pernah menuliskan tentang logo Makassar di I Love MC, Benarkah Makassar Kota Kreatif?

Bagi yang tahu atau memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul di atas, sudilah menjawab di kolom komentar..

 

Related Posts

About The Author

4 Comments

Add Comment