Galau Yang Kacau

Tahukah kamu? Kata galau yang populer di sosial media pada tahun 2012 telah dijadikan judul lagu oleh Candra Darusman 30 tahun lalu. Yup, pada tahun 1982.

 

Bahasa memiliki banyak sifat, di antaranya adalah arbiter dan konvensional. Arbiter disini adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut (Chaer 1994:45). Yang dimaksud dengan arbiter adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya.

Dengan kata lain, hubungan antara bahasa dan wujud bendanya hanya didasarkan pada kesepakatan antara penurut bahasa di dalam masyarakat bahasa yang bersangkutan. Kesepakatan ini juga merupakan salah satu sifat bahasa yaitu konvensional, yaitu  berdasarkan kebiasaan, kesepakatan atau persetujuan masyarakat yang didahului pembentukan secara arbiter.

Sifat arbiter dan konvensional bahasa memungkinkan hadirnya kosa kata baru.  Pada tahun 2006 misalnya, salah satu presenter, Ruben Onsu atau Olga (saya lupa tepatnya), mempopulerkan kata ‘lebay’ pada acara yang ia bawakan.  Berasal dari kata kata ‘lebih’ dengan logat keinggris-inggrisan pada huruf ‘i’ (dibaca ‘ai’), ‘lebay’ kemudian dipahami sebagai ‘melebih-lebihkan sesuatu’. Lebih dibaca ‘lebai’, jadilah kosa kata baru ‘lebay’.

Sifat bahasa yang luwes ini juga memungkinkan munculnya kembali lema lama dengan makna baru.  Contohnya adalah ‘galau’. Kalaulah ada kata paling populer di sosial media semacam Facebook dan Twitter, bisa jadi kata itu adalah ‘galau’. Kata ini muncul dan hampir setiap hari digunakan utamanya di  Twitter.

Hampir setiap hari kata ‘galau’ melintasi timeline akun twitter saya. ‘Galau’ ini hadir dengan berbagai makna; stress, risau, resah, bimbang, bingung, aratu gelisah. Suasana penyebab ‘galau’ ini pun beragam;  sedih, ditinggal pasangan,  bertengkar dengan pacar,  kelamaan menjomblo, diomelin orangtua atau atasan. Pun jatuh cinta bisa bikin ‘galau’. Sms tak terbalas pun bisa menjadi penyebab orang ‘menggalau’ di Twitter atau Facebook.

Baca Juga: Bagaimana Menyusun Paragraf?

Lalu apa sebenarnya kata galau itu?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV (2008) halaman 407, dikatakan “galau” berarti kacau (tentang pikiran); “bergalau” berarti (salah satu artinya) kacau tidak keruan (pikiran); dan “kegalauan” berarti sifat (keadaan hal) galau. Menurut defenisi kamus itu keadaan galau adalah saat pikiran sedang kacau tak keruan. Orang galau karena pikirannya sedang kacau. Kacau dalam kamus diartikan (salah satunya, terutama berkaitan dengan pikiran) kusut (kalut) tidak keruan. Contoh kalimatnya: Pikirannya bertambah kacau mendengar berita itu.

Jadi, ‘galau’ bukan kata yang pas untuk menunjukkan sebuah keadaan pikiran yang tengah tidak dalam keadaan baik. Kata ‘kacau’ yang terdapat dalam makna “galau” lebih tepat dengan suasana kalang kabut dan kusut. Kamus Indonesia-Inggris John M. Echols dan Hasan Shadily, padanan bahasa Inggris untuk ‘galau’ adalah hubbub dan confusion. Artinya, galau lebih dekat dengan suasana pikiran yang tengah bingung.

Untuk menggambarkan ‘galau’ yang selama ini dipahami orang-orang yang sering ‘menggalau’ di media sosial, Bahasa Indonesia menyediakan kata lain yang lebih tepat, yaitu ‘gundah’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘gundah’ berarti sedih, bimbang, gelisah. Jika ditambahkan dengan ‘gulana’  jadi ‘gundah gulana’ maknanya berarti keadaan sangat sedih atau sedih dan lesu.

Maraknya penggunaan sosial media seperti Twitter dan Facebook pun turut andil dalam melebih-lebihkan sesuatu alias lebay. Masalah sedikit langsung galau, sedikit-sedikit galau. Tahun 2012 pun timeline dan facebook dipenuhi dengan status-status galau. Kata ‘galau’ akhirnya populer di kalangan pengguna media sosial.

Kata galau sendiri sebenarnya sudah terpakai sejak lama sebelum sosial media mempopulerkannya. Dalam album Indahnya Sepi tahun 1982, Candra Darusman sudah menggunakan kata itu sebagai salah satu judul lagunya. Jadi, 31 tahun lalu kata galau sudah hadir di kalangan pecinta musik. Hanya saja, teknologi informasi dan komunikasi belum secanggih saat ini. Internet belum dikenal khalayak umum sehingga persebaran lagu dan kata itu tidak semarak dan semassif sekarang. Kata itu pun belum sepopuler saat ini.

Selain lagu Galau – Candra Darusman ada beberapa lagu lain yang menggunakan kata galau sebagai judul lagu. Pada tahun 1996, 12 tahun sebelum ‘galau’ populer, grup nasyid Suara Persaudaraan juga sudah mendendangkan lagu berjudul Galau. Di era 90-an pula, Kuntet Mangkulangit menciptakan lagu berjudul Galau yang dinyanyikan oleh Cici Paramida. Lagu yang berdurasi cukup panjang; 6 menit 43 detik berkisah tentang kekecewaan seorang wanita setelah ditinggal kekasihnya begitu saja. Uniknya, tidak ada kata ‘galau’ dalam lagu ini.

Tahun 2007, Titi DJ merilis album “The Best of” yang beris 10 lagu populer miliknya, ditambah dua lagu baru. Salah satu lagunya berjudul Galau. Lagu ini diciptakan sendiri oleh Titi DJ dan dijadikan soundtrack sinetron Janji (2007. Penggalan liriknya: “Aku jatuh lagi / sekali lagi jatuh / untuk kesekian kali / namun kali ini aku galau”

Baca Juga: Jangan Baca! Kamu Bisa Kepo, Terus Baper Lalu Galau

Yovie & Nuno juga menciptakan lagu berjudul Galau pada tahun 2012. Lagu ini terdapat dalam album kompilasi OST Negeri 5 Menara.  Pada tahun yang sama, Five Minutes juga memperkenalkan lagu “Galau”. Lagu beraliran pop-rock ciptaan Ricky FM ini digunakan sebagai lagu tema sinetron Monyet Cantik 2 yang tayang di SCTV. Ada pula Citra Scholastika yang memakai 3G alias Galau Galau Galau sebagai judul singlenya.

Stanza, sebuah boyband beranggotakan 5 ABG: Dayat Simbaia, Eldwin Nugraha, Raiga Denindra, Rohan Simbolon, dan Sion Simbolon juga tak mau ketinggalan. Tahun 2012, mereka merilis single berjudul Galau. Pedangdut yang melejit lewat lagu Cinta Satu Malam, Meilinda, mengawali 2013 dengan single baru berjudul Galau. Lagu ini bercerita tentang seorang perempuan yang menyukai dua laki-laki dan bingung memilih. “Aku galau / aku galau / pikiranku lagi kacau / aku galau / aku galau / pilih dia atau engkau”.

Ah.. sepertinya saya terlalu ‘lebay’ dalam membahas kata galau yang kacau ini. Sebaiknya kita akhiri saja. Semoga sehabis membaca tulisan ini, teman-teman tak ikutan galau alias pikiran jadi ramai. Bisa ikutan kacau jadinya, 😀   (@lelakibugis)

cat: tulisan ini dimuat di Opium Magazine edisi 42 September 2013.

Related Posts

About The Author

Add Comment