Gagal Paham Valentine dan Darurat LGBT

Minggu ini ada dua hal yang bikin saya bingung dan  gagal paham.

 

Pertama: Valentine katanya ajang seks bebas dan karena itu Satpol PP harus turun tangan.

Saking khawatirnya Pemerintah Kota Makassar pada perayaan Valentine ini, Walikota Makassar sampai menugaskan Satpol PP untuk melakukan razia pada kos – kosan, wisma dan hotel kelas melati untuk mencegah terjadinya seks bebas.

Yang namanya seks bebas, biar lebih mudah memahami kita pakai kata ‘zinah’ saja. Soalnya, ‘seks bebas’ bisa membuat kita memiliki pemahaman berbeda. Dalam bayangan saya, seks yah harus bebas. Memang enak melakukan seks dengan tangan dan kaki terikat? Tentu tidak asik. Tak banyak variasi gaya dan gerakan. Jadi susah menikmatinya.

Eh kok jadi bahas sampai gaya dan gerakan yah? Mari kembali membahas niat mulia Pemerintah Kota Makassar untuk mencegah perzinahan. Ingat, perzinahan. Perkimpoian di luar nikah. Saya sih setuju – setuju saja sama tindakan itu asalkan Pemkot mau konsisten MELAKUKAN SETIAP SAAT, bukan hanya pada moment Valentine.

Ah, pasti ada yang bilang: Valentine kan identik dengan perzinahan! Saya mau balik tanya: yakin? Bukankah perzinahan bisa terjadi setiap saat? Asalkan kedua belah pihak sama – sama, maksud saya pihak lelaki dan perempuan, sedang nafsu dan punya tenaga, plus ada kesempatan dan tempat, maka terjadilah. Mau pagi, siang atau malam, perzinahan akan terjadi jika memenuhi semua unsur itu. Jadi, duhai Satpol PP, berjagalah setiap saat. Jangan menjaga moral hanya pada momen tertentu saja, seperti malam Valentine.

Etapi, apa pemkot punya nafas panjang untuk melakukannya? Apa tak ada urusan lain yang lebih penting? Menciptakan kondisi aman dan nyaman, misalnya. Biar para netizen cerewet dan talekang itu tidak membuat tagar #MakassarTidakAman lagi.

Satu lagi, kenapa walikota Makassar hanya menginstruksikan Satpol PP untuk melakukan razia malam Valentine pada kos – kosan, wisma dan hotel melati? Kenapa tidak semua hotel saja sekalian? Kesannya kok jadi pemkot Makassar ini diskriminatif yah?

Maka beruntunglah kaum – kaum berduit yang bisa berbuat mesum demi melampiaskan syahwat tanpa harus takut kena razia Satpol PP. Toh, para penegak moral itu tak akan mengunjungi hotel berbintang. Kebijakan ini bisa membuat kita mengambil kesimpulan asal – asalan, bahwa boleh kok kita berbuat mesum asalkan kita mampu membayar sewa kamar yang lebih mahal dari kamar wisma atau hotel melati. Dengan kata lain: Orang Miskin Dilarang Mesum!

Menjaga moral warga jangan setengah – setengah dong. Pak Wali harusnya memerintahkan juga Satpol PP untuk mengunjungi hotel berbintang. Sesekali beri kesempatan anggota Satpol PP menikmati hembusan angin sejuk yang berasal AC hotel bintang lima. Jangan cuma disuruh maju saat penggusuran pedagang kaki lima dan penggerebekan di wisma dan hotel ecek – ecek saja.

Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ada dalam kepala mengenai razia Valentine ini, tapi ah.. sudahlah. Saya sih berharap ini hanya pemanasan atau langkah awal dari pemerintah kota Makassar dalam memberantas perzinahan. Kalau bisa, saya ingin membayangkan Danny Pomanto mengambil tindakan seperti Risma yang menutup Dolly atau Ahok yang punya rencana menutup kawasan Kalijodoh. Kalau bisa…

Darurat LGBT

 

Kedua: Kaum LGBT itu berbahaya.

 

Beberapa malam lalu sebuah status bergambar melintas di timeline twitter saya. Gambar itu berupa himbauan betapa berbahayanya kaum LGBT bagi anak – anak. Sebuah tagar berbunyi #DaruratLGBT menyertai status itu. mungkin untuk menegaskan bahwa kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender itu sangat berbahaya dan keberadaan mereka sekarang sudah menjadi ancaman dan momok menakutkan.

Saking parnonya sebagian besar orang di twitter, tagar #DaruratLGBT sempat jadi trending topik. Sungguh, ketakutan mereka ini membuat saya berpikir keras. Apa yang harus saya takuti dari orang – orang yang memiliki orientasi seksual berbeda dengan orang kebanyakan itu?

Sejak sma, saya punya banyak teman gay. Pun saat saya menginjak bangku kuliah. Saya memiliki seorang sahabat yang gay.  Aktifitas perkuliahan semacam mengerjakan tugas atau urusan organisasi kemahasiswaan kadang mengharuskan saya menginap bersama. Baik itu di rumahnya atau pun di sekretariat kami. Tak sekali pun, sahabat saya itu menyentuh saya secara seksual.

Pun saat bekerja di sebuah lembaga donor. Saya memiliki teman kantor yang gay. Urusan kantor membuat kami sering bepergian keluar kota. Hampir setiap kunjungan itu kami sekamar. Tak sekali pun teman itu menggoda saya untuk melampiaskan syahwatnya. Tak pernah pula kelamin saya jadi tegang melihat teman itu tertidur.

Jadi, kalau ada yang bilang LGBT itu menular, saya hanya bisa tepok jidat. Alhamdulillah, sampai sekarang saya tak tertular jadi gay. Libido saya tak bergerak naik jika melihat lelaki tampan atau kekar misalnya. Teman – teman saya yang gay itu tak pernah mengajak, membujuk atau mengancam saya untuk menjadi gay. Kami tetap berteman tanpa harus saling mencampuri urusan orientasi seksual masing – masing.

Dalam gambar pada status itu katanya LGBT mengancam anak – anak kita. Ancaman seperti apa?

Sepanjang pengalaman dan sependek pengetahuan saya, tak ada teman – teman yang lesbian, gay, biseks dan transgender, yang tertarik pada anak kecil, apalagi sampai memperkosa mereka.

Para pemerkosa anak – anak atau pedofil itu, biasanya justru berasal dari kalangan terdekat. coba deh googling kasus pemerkosaan anak. Akan muncul berita pemerkosaan anak oleh paman, tetangga atau bahkan guru ngaji mereka. Dan, hampir semua pelaku adalah kaum heteroseksual alias bukan lesbi, gay, biseks apalagi transgender (waria). Sepertinya, yang menggaungkan #DaruratLGBT itu rabun alias tidak bisa membedakan LGBT dan PEDOFIL.

Bahaya terdekat bagi anak – anak kita sebenarnya ada di rumah kita sendiri. Yap, di layar televisi kita. Sinetron – sinetron yang mempertontonkan anak – anak melakukan adegan kekerasan, membantah orang – tua hingga mesra – mesraan padahal masih berseragam SD atau SMP itu juga lebih berbahaya.

Dengan sikap permisif kita membiarkan anak – anak kita menonton adegan – adegan yang tak semestinya mereka lihat itu, akan membuat anak – anak berpikir bahwa semua hal itu adalah sah – sah saja. Toh kita membiarkan mereka melihat dan kemudian berpikir bahwa apa yang mereka tonton bukanlah hal yang salah.

Jangan kaget jika suatu saat mereka meniru dan melakukan hal – hal tersebut; melakukan kekerasan pada teman atau memamerkan kemesraan selayaknya orang dewasa, misalnya. Apa anak – anak kecil bermesraan, meski dengan lawan jenis, bukan hal yang mencemaskan kita? Kalau hal itu tidak mencemaskan kita, bisa jadi mereka akan menjurus lebih jauh dan melakukan perzinahan di usia belia.

Demi melindungi anak – anak kita, bukankah lebih baik kalau kita melakukan gerakan mendesak pemerintah, dalam hal ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), untuk mengumpulkan keberanian agar bisa menghentikan tayangan – tayangan yang berbahaya itu. Jika berhasil, mungkin kita tak perlu lagi khawatir akan moral anak – anak kita kelak. Satpol PP pun tak perlu melakukan razia pada malam Valentine.

 

*catatan ini dibuat karena gagal paham pada dua isu di atas, juga sambil menunggu kiriman coklat, dari siapa saja yang bersedia mengirimkan J

featured image dari rakyat.com

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment