For Whom Metallica Sings?

For Whom Metallica Sings?

*Sebuah catatan perjalanan #UmrahMetallica

10 April 1993, Jakarta Membara! Kerusuhan besar terjadi, 55 orang luka-luka dan 58 mobil terbakar. Setidaknya, 88 orang ditangkap saat kerusuhan itu yang terjadi di sekitar Stadion Lebak Bulus saat Metallica menggelar konser.  Bisa jadi kerusuhan itu jauh lebih besar mengingat bagaimana perlakuan orde baru pada media.

Konser Metallica itu sendiri berlangsung selama dua hari, 10 – 11 April 1993 dengan jumlah penonton mencapai 100an ribu. Pada hari kedua, konser berjalan lancar. Setahun sebelumnya, pada 1992 grup cadas lainnya, Sepultura, menggelar konser di Surabaya yang juga berakhir rusuh. Apa yang terjadi pada konser Sepultura dan Metallica ini kemudian membawa pengaruh besar pada skena musik metal di tanah air kelak.

Jauh dari Jakarta, sekira 1400 km, seorang bocah sekolah menengah pertama hanya mampu membaca berita tentang konser itu dari majalah musik langganannya. Melihat langsung aksi James Hetfield, Kirk Hammett, Lars Ulrich dan Jason Newsteed di atas panggung adalah sebuah keajaiban. Tak pernah terbayangkan!

ID Paspor #UmrahMetallica

ID Paspor #UmrahMetallica

Dan, 20 tahun kemudian, bocah itu tak mampu menahan perasaan yang campur aduk di dalam dada. Ada haru, tak percaya, bahagia dan rasa yang sulit yang ia bahasakan. Semuanya menyatu saat ia duduk di tribun khusus media Gelora Bung Karno menyaksikan cahaya lampu panggung yang membentuk bendera merah putih.

Bendera raksasa itu menyapu lautan manusia saat Raisa menyanyikan Indonesia Raya diiringi puluhan ribu Tallica’s (sebutan bagi penggemar Metallica) yang memadati lapangan bola dan tribun Gelora Bung Karno.  Merinding! Raisa membuka hajatan Throuh The Never  – Jakarta dengan manis namun membakar semangat dan nasionalisme para metalhead yang hampir semuanya mengenakan baju dan celana hitam.

Semangat Tallica’s yang sudah membara kemudian disiram oleh hentakan musik dari Seringai band. Band yang digawangi Arian13 – Vocal, Ricardo Siahaan – Guitar, Kemod/ Domekide – Drums, Sammy Bramantyo – Bass ini membawakan lagu-lagu terkenal mereka seperti Serigala Militia, Individu Merdeka, dan Akselarasi Maksimal.

Alhasil, band yang menjadi salah satu ikon metal Indonesia ini sukses merebut hati metalhead yang sudah memadati GBK sejak pukul 15:00 WIB. Bahkan, penonton itu membuat mall FX Jl Sudirman, yang tak jauh dari GBK, menjadi sesak dan dipenuhi oleh mereka yang pakaian mengenakan hitam-hitam.

Kerennya, mereka mengundang beberapa nama yang sudah tak asing dalam skena musik metal Indonesia, di antaranya Stevy ‘Deadsquad’ Item, dan Eben Burgerkill, untuk berbagi  panggung  seluas 60 x 20 meter yang dikerjakan oleh lebih 1000 orang yang terdiri dari teknisi dan ahli. Tak semua artis dan band yang bisa tampil di Gelora Bung Karno yang jarang sekali digunakan sebagai venue konser ini.

Stadion kebanggaan masyarakat Jakarta ini memang tak bisa sembarangan tuk dijadikan sebagai tempat konser demi menjaga rumput lapangan bola. Blackrock Entertainment selaku promotor menggunakan 7000 grass cover yang menutupi lapangan bola demi menjaga agar rumputnya tidak rusak meski penonton melompat-lompat. Penggunaan grass cover ini adalah pertama kalinya di Indonesia.

Pihak promotor merilis jumlah penonton mencapai 56.000, termasuk di dalamnya Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, yang membeli 6 (enam) tiket Festival B. Pria yang akrab disapa Jokowi datang sekira pukul 19:35 sebelum konser Metallica dimulai. Ia berbaur dengan para penonton yang mengelu-elukan kedatangannya. Stadion pun bergemuruh menyebut nama mantan walikota Solo ini.

antrian jamaah #UmrahMetallica

antrian jamaah #UmrahMetallica

 

Suasana semakin panas dengan teriakan penonton saat kru Metallica mengetes alat sebelum manggung. Meski terjadi kekosongan setengah jam setelah itu, para penonton tetap bersabar menunggu kehadiran para dewa metal itu. Sesekali terdengar teriakan menyebut nama Jokowi.

Panggung gelap, dan tiba-tiba dua LCD di sisi kiri kanan panggung menyala. Adegan seorang lelaki berlari seperti dikejar sesuatu di tengah nisan-nisan. Mengingatkan pada cover album Master of Puppets. Sontak, para Tallica’s jadi histeris dan berteriak menyebut nama-nama The Four Horsemen itu.

Teriakan para penonton semakin riuh ketika lampu panggung menyorot ke empat personil Metallica. Mereka langsung menghentak dengan membuka konser lewat lagu ‘The Ecstasy of Gold’ dan ‘Hit The Lights’ yang selalu menjadi lagu pembuka konser-konser mereka. Gelora Bung Karno makin memanas ketika mereka memainkan ‘Master of Puppets’ dan ‘Fuel’. Puluhan ribu penonton pun ikut bernyanyi membuat suasana stadion menjadi riuh.

“Are u missing your friends, Metallica? I can’t believe after 20 years we are here (again). Are u with us, are you with us?” tanya James Hetfield, sang frontman Metallica itu begitu antusias melihat sambutan penonton yang begitu meriah. Wajah bahagia tampak dari senyuman James Hetfield yang tak pernah lepas saat menyapa penonton yang begitu enerjik malam itu.

Seakan tak mau mengecewakan para Tallica’s yang yang telah menanti lama sejak konser pertama mereka 20 tahun lalu, para pengendara petir ini tampil all out. Usia yang sudah menginjak 50 tahun tak menghalangi performa mereka. James Hetfield mampu menyajikan  vokal yang terdengar garang. Gebukan drum Lars Ulrich pun masih bertenaga. Begitupun dengan cabikan gitar Kirk Hammett dan betotan bass Rob Trujillo yang tetap cadas.

Sepanjang konser, lautan penonton berbaju hitam tak henti-hentinya bersorak dan berjingkrak apalagi saat Metallica menyajikan lagu-lagu legendaris seperti ‘Ride The Lightning’, ‘Sad But True’, ‘Sanitarium’ dan ‘For Whom the Bell Tolls’.

Setelah ‘Orion’ lampu panggung tampak padam sesaat, lalu suara rentetan tembakan dan tata cahaya lampu panggung menampilkan visualisasi seakan-akan panggung diberondong tembakan. Ini berlangsung sekira  10 menit. Inilah intro ‘One’ lagu sakral Metallica yang terdapat dalam album Justice For All.

jamaah #UmrahMetallica di depan altar konser GBK Senayan Jakarta

jamaah #UmrahMetallica di depan altar konser GBK Senayan Jakarta

Dari atas tribun, lapangan bola berubah menjadi lautan cahaya handphone dan gadget para penonton yang mengabadikan aksi-aksi panggung nan memukai dari Metallica. Pun saat lagu ‘Nothing Else Matters’ mengalun, Gelora Bung Karno jadi bermandikan cahaya. Penonton pun larut dalam lagu yang tergolong ‘lembut’ ini.

Teriakan membahana kembali terdengar saat Metallica memainkan  ‘Enter Sandman’, penonton histeris. Setelah lagu itu, Metallica seakan mengakhiri penampilan mereka. Tanpa suara, James kemudian meminta para penonton untuk pulang dengan menunjuk (arloji di) pergelangan tangannya. Ia juga menempelkan kedua tangannya di pipi seakan mengatakan “sudah saatnya istirahat”. Tentu saja puluhan ribu metalhead menolak. Mereka bergeming dan tak mau beranjak pergi.

Senyum tak mau lepas dari wajah James Hetfield, ia tampak senang sekali melihat loyalitas dan sambutan penggemar mereka. Setelah berganti gitar, band yang mengeluarkan album pertama mereka pada tahun 1983 bertitel Kill ‘Em All ini, kemudian menggeber ‘Creeping Death’ dan ‘Fight Fire With Fire’ sebagai encore.

“I want this be the loudest song tonight. You all have to sing” teriak James sesaat sebelum menyanyikan lagu pamungkas ‘Seek And Destroy’. Dan, stadion pun bergetar! Lampu panggung kemudian menyorot para penonton yang berada di depan panggung yang tentu saja tak pernah berhenti bersorak, bernyanyi dan berjingkrak hingga konser usai.

Usai membawakan lagu terakhir, para personil Metallica kemudian menghampiri para penonton yang menyambut meriah saat mereka membagikan pick gitar dan stik drum. Bergantian mereka maju dan menyampaikan rasa terima kasih pada para penonton yang telah setia menonton hingga akhir konser.

Slank: Ini Baru Pemanasan, Tunggu Kami di Konser Berikutnya!

“Jakarta kau membuat kami merasa senang, kami mencintai Jakarta,” ujar Robert. “we will back soon” janjinya. “You are the fifth player of Metallica, you are our family” ungkap James Hetfield pada penonton yang tak jua hendak beranjak meninggalkan stadion. Yap, Metallica bernyanyi untuk semua. Untuk keluarga mereka yang bernama ‘Tallica.

Saya, bocah kecil yang 20 tahun lalu hanya mampu membaca berita tentang konser mereka, seakan masih tak percaya bisa berada di antara kerumunan penonton. Di atas tribun media, yang diperuntukkan khusus bagi para peliput, sekali lagi saya tergetar melihat bendera merah putih raksasa membentang di atas panggung. Seorang penggemar Metallica asal Solo berhasil menyelundupkan dan membawa bendera itu hingga ke atas panggung.

Sebelum beranjak, saya menyapukan pandang pada seluruh isi stadion. Ini keajaiban! Sebuah mimpi yang mewujud. Rasanya enggan untuk meninggalkan suasana di mana para Tallica’s ini memuaskan kerinduan setelah 20 tahun menanti kehadiran Metallica. Tunai sudah kewajiban #UmrahMetallica. Rawk!

And.. Metallica For All!

Catatan: Terima kasih tak terhingga untuk kak @ikomd dan @madamaradio 87.7 FM Makassar yang mewujudkan mimpi masa kecil ini. (tulisan ini juga dimuat di web Madama Radio)

 

Related Posts

About The Author

Add Comment