The Floating School Berlayar Mewujudkan Mimpi

“Tidak ada orang yang jatuh miskin hanya karena memberi” Anne Frank.

“Ambil mi nak. Anakku sudah bilang ji kasi mi kalau ada yang mau” kata Daeng Ta’le pada saya. Daeng Ta’le adalah seorang nenek berusia sekira di atas 60 tahun. Ia berdomisili di pulau Satando, salah satu wilayah dampingan The Floating School.

Saya menghampiri Daeng Ta’le ketika ia merapikan hamparan jemuran ikan hasil tangkapan anaknya. Jemuran ikan keringnya tak banyak. Hanya ada dua gelaran tikar yang masing-masing hanya sekiri satu meter kali dua meter. Di antara ikan-ikan yang ia jemur, terselip beberapa cumi. Selebihnya, jemurannya adalah ikan-ikan yang tak layak konsumsi. “Orang di sini bilang buntala’, beracun ki beng” terangnya. Jemuran buntala’ ini jauh lebih banyak Buntala’ ini ia pakai sebagai pakan bebek.

Daeng Ta’le meminta saya memanggilnya dengan panggilan Mama’ Ta’le saja saat kami ngobrol. Melihat ada cumi yang dikeringkan, saya yang sangat suka makan cumi, berniat membelinya. Awalnya, Daeng Ta’le tak mau menjualnya karena cumi itu rencananya buat menantunya. Anak Daeng Ta’le ingin membawa cumi kering itu untuk istrinya yang bekerja di Pangkep daratan.

Entah karena kebaikannya, Daeng Ta’le kemudian berubah pikiran. Ia mengatakan kalau anaknya pasti tak keberatan jika dia memberikan cumi kering pada orang padahal sebelumnya berkali-kali ia bilang mau menanyakan pada anaknya dulu. Dengan sedikit memaksa, Daeng Ta’le meminta saya untuk mengambil dan membawa pulang cumi-cumi kering itu. Tak perlu beli. Gratis.

Saya menolak. Cumi-cumi itu sudah diniatkan oleh seorang suami (anak Daeng Ta’le) untuk sang istri. Apalagi, berdasarkan pengakuan Daeng Ta’le, anaknya tak punya pekerjaan. Belum lagi saat kami ke pulau itu hasil tangkapan nelayan sedang tak bagus. Tentu cumi-cumi itu saat berharga bagi anak Daeng Ta’le dan istrinya. Saya tak tega.

Saya memutuskan untuk beranjak pergi meski sebenarnya ingin ngobrol lama dengan Daeng Ta’le. Ia terus mendesak saya untuk menerima cumi-cumi itu. Kami mengakhiri pertemuan siang itu dengan sebuah janji. Saya harus ke rumah Daeng Ta’le jika berkunjung ke pulau itu lagi dan harus membawa pulang cumi kering.

*

Keceriaan relawan dan anak-anak Pulau Satando - Dokumen The Floating School

Keceriaan relawan dan anak-anak Pulau Satando – Dokumen The Floating School

Pulau Satando adalah salah satu dari tiga pulau yang menjadi wilayah dampingan The Floating School. Sebuah program pendidikan non-formal di bidang pengembangan minat dan bakat bagi anak-anak dan pemuda di pulau. Dua pulau lainnya adalah Sapuli dan Saugi. Ketiga pulau ini secara administrasi termasuk ke dalam Kecamatan Liukang Tumpabiring Kab. Pangkep.

The Floating School lahir dari inisiasi tiga orang; Nur Al Marwah Asrul (Nunu), Rahmat HM (Mato) dan Rahmiana Rahman (Ammy). Mereka bertiga kemudian merekrut fasilitator sesuai kebutuhan kelas yang mereka buka. Ada tujuh kelas yang mereka buka; kelas menulis, komputer, fotografi, menyanyi, menari, menggambar dan prakarya atau kerajinan tangan. Meski bersifat sekolah non formal namun perekrutan diadakan dengan serius.

“Di akhir program nanti, semua peserta akan tampil dan menampilkan karyanya di acara pameran yang rencananya akan kami gelar di Pulau Camba-Cambang.” Ungkap Rahmat HM. Rahmat HM juga menambahkan bahwa The Floating School juga berhasil terpilih sebagai salah satu dari 20 Program penerima dana pelaksanaan dari YSEALI Seed for The Future. YSEALI Seeds for The Future sendiri merupakan salah satu program dari YSEALI (Young South East Asia Leaders Initiative).

Indira, salah satu fasilitator, awalnya mengira ia bisa langsung bergabung karena telah mengenal dan akrab dengan dua penggagas The Floating School, Nunu dan Ammy. Mereka bertiga memang tergabung dalam Sahabat Indonesia Berbagi (SIGI) Makassar. “Awalnya liat ji postingannya kak Ammy dan Kak nunu tentang TFS seliweran di medsos. Ternyata lewat seleksi juga jadi kirim cv dan wawancara, ternyata lolos” ungkap Indira yang menangani kelas prakarya.

Begitu pun ketika program berjalan, delapan fasilitator yang ada diharuskan membuat silabus pembelajaran untuk enam bulan. “Saya kira kelas nonformal kayak yang biasa saya ikuti di komunitas, ternyata jadi fasil serius ini pale” tutur Indira.

Lain lagi pengakuan Fitriani, relawan yang menangani media sosial dan dokumentasi. Relawan yang juga aktif di salah satu komunitas edukasi ini, Sokola Kaki Langit, mengaku bergabung dengan The Floating School karena sosok ketiga penggagas, “Saya ingin belajar dari kakak-kakak founder yang memiliki wawasan luas dan punya pengalaman” katanya.

Para penggagas dan fasilitator-fasilitator The Floating School adalah talenta-talenta profesional dari Kabupaten Pangkep dan Kota Makassar. Hampir semua dari mereka juga aktif dalam komunitas –komunitas yang bergerak di bidang sosial dan edukasi lainnya. Mungkin karena itu, mereka bisa tetap kompak dan solid dalam gerakan yang memiliki visi meningkatkan kualitas pemuda di kepulauan melalui workshop kreatif yang dapat meningkatkan kemampuan mereka berdasarkan minat dan bakat.

Kelas Menulis The Floating School Pulau Satando - Dokumen The Floating School

Kelas Menulis The Floating School Pulau Satando – Dokumen The Floating School

Selain itu, sistem dan suasana belajar yang dibangun oleh penggagas membuat para fasilitator dan adik-adik merasa nyaman. “Baru ketemu sekolah yang sistem belajarnya kayak gini. Meski masih sekolah nonformal sih, tapi cara kakak founder arahkan fasilitator caranya memfasilitasi adik-adik, kayak bikin nyaman adik2 belajar, membebaskan mereka mau belajar apa, dimana, tapi tetap terarah” aku Indira.

Tantangan yang mereka hadapi boleh dibilang tak mudah. Sebagian besar adik-adik dampingan The Floating School adalah anak-anak dari keluarga miskin. Banyak di antara mereka yang bersekolah sekaligus bekerja membantu orang tua dalam bekerja. Tak sedikit pula yang putus sekolah karena ketiadaan biaya.

Adalah lumrah bagi fasilitator menjumpai kelas yang mereka ampu tak pernah dihadiri oleh semua peserta. Semisal Fitri, salah seorang peserta kelas prakarya yang diampu Indiria, setiap hari Ahad harus selalu ikut ibunya berjualan di Pulau Camba -Cambang yang tak jauh dari Pulau Satando. Pulau Camba -Cambang adalah pulau destinasi wisata. “cuma bisa ikut kelas kalau lagi nda menjual padahal dianya semangat sekali ikut kelas,” ungkap Indira sedih.

Tantangan lain yang The Floating School hadapi adalah perkara kapal. Setiap pekan mereka harus menyeberangi lautan menuju pulau – pulau damping. Selain mengangkut relawan, mereka juga harus menjemput adik-adik dampingan di pulau lain. Namun, kapal Fitra Jaya 03 milik nelayan lokal yang mereka gunakan sekarang belum memadai. Kapal
Saat ini mereka menggalang dana untuk membuat kapal yang cukup besar yang mampu membawa mereka berlayar demi membangun mimpi-mimpi pemuda-pemuda pulau terluar di Pangkajene dan Kepulauan serta wilayah kepulauan lainnya.
Bagi yang ingin berpartisipasi mewujudkan mimpi mereka bisa berdonasi melalui Kapal Untuk Sekolah Terapung
*
Tak semua relawan dari The Floating School mungkin tak mengenal Anne Frank, apalagi Daeng Ta’le. Namun mereka mengejawantahkan semangat Anne Frank: berbagi dengan apa yang mereka punya. Para relawan berbagi pengetahuan dan keahlian pada adik-adik dampingan, Daeng Ta’le berbagi hasil tangkapan anaknya.

Hari itu saya tak berhasil membawa cumi kering, salah satu makanan kesukaan. Tapi, saya membawa satu makanan bagi jiwa; kebaikan ada di mana-mana, ia mewujud dengan semangat berbagi dari orang-orang yang saya jumpai. Tak peduli meski mereka sendiri termasuk orang (yang sebenarnya) tak mampu.

 

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment