Love For Sale dan Film Tentang Cinta Lainnya

Di sela waktu luang saya sering menyempatkan diri untuk menonton film, utamanya film tentang cinta. Dari sekian (kalau tak mau bilang sedikit) film ada beberapa yang membuat saya jatuh cinta. Salah satunya adalah Love For Sale yang saya tonton kemarin.

Nah, saya ingin mengulas sedikit tentang Love For Sale dan beberapa film tentang cinta lainnya yang telah saya tonton. Khusus artikel ini, saya hanya akan membahas film Indonesia saja. Kita mulai yah …

Love For Sale

Seorang Joko Anwar, -tahu kan siapa doski? Kalau belum tahu silakan googling,- pun memuji acting Gading Marten dalam film ini. Iya, Gading Marten yang pernah jadi pembawa acara Inbox itu!

Saya tidak akan membahas tentang bagaimana Gading Marten memerankan Richard Ahmad dalam Love For Sale ini. Cukuplah kicauan Joko Anwar yang mewakili bagaimana bagusnya suami Gisella itu memerankan karakter pria single berusia 41 tahun dalam menghadapi kesendirian dan kesepiannya.

Jaman sekolah dulu, kalau ada guru perempuan yang killer, hal pertama yang kita tanyakan adalah “dia sudah menikah belum?” karena biasanya guru yang begitu adalah perempuan yang belum menikah padahal usianya sudah lumayan. Dulu, kita menyebutnya pratu alias perawan tua. Sampai sekarang saya belum tahu kenapa bisa begini.

Nah, untuk Richard, lelaki yang belum menikah di usia 41 ini, tetangganya menggelarinya sebagai bujang lapuk. Seperti guru killer pada siswa, Richard juga sering marah-marah pada karyawan perusahaan percetakannya. Richard terkenal tegas dan disiplin, utamanya soal waktu, telat sedikit karyawannya pasti kena semprot.

Selain fokus pada perusahaannya, untuk mengatasi kesendirian dan kesepiannya, oleh sutradara Andibachtiar Yusuf, Richard digambarkan lewat beberapa adegan, seperti nonton bola, nongkrong atau nonton bareng teman-temannya, meminta saran kepada teman hingga berbicara sendiri pada Kelun, kura-kura peliharaannya.

Masalah datang saat salah satu teman Richard akan menikah. Teman-temannya bertaruh apakah Richard bisa membawa pasangan ke acara pernikahan temannya itu. Taruhannya, harga diri! Dan, Richard hanya punya waktu dua minggu saja. Richard kemudian menggunakan segala cara, mulai dari mencari pada daftar pertemanan di Facebook dan menghubungi teman-teman perempuan lamanya. Namun, usahanya gagal. Ada yang begini juga?

Hingga kemudian Richard menemukan aplikasi Love.Inc dimana dia bisa menyewa pasangan untuk menemaninya ke acara pernikahan Rudy. Cerita kemudian berkembang, karena kesalahan teknis, Arini (diperankan oleh Della Dartyan) pasangan sewaannya tak mau pergi karena harus mengikuti kontrak yaitu menemani Richard selama 45 hari.

Film yang diproduseri Angga Dwimas Sasongko dan Chicco Jerikho ini mengalir dengan menyuguhkan kisah cinta yang natural, apa adanya, tidak dibuat-buat, dan sangat dekat dengan kehidupan dan emosi penonton. Kedekatan antara Richard dan Arini terbangun dari hal-hal sederhana seperti sarapan pagi bersama, melakukan hobi yang sama, jalan berdua bersama pasangan, atau makan durian berdua diiringi pengamen. Hal-hal kecil yang dilakukan oleh orang-orang yang jatuh cinta.

Kekuatan lain dari film ini adalah chemistry Richard dan Arini yang berhasil diperankan dengan baik oleh Gading Martin dan Della Dartyan. Coba perhatikan mata keduanya saat sedang bersama. Juga, bagaimana Gading Marten memerankan sosok laki-laki yang terlalu lama sendiri tapi kemudian harus berbagi ruang dan waktu dengan seorang perempuan. Della berhasil memerankan sosok perempuan too good to be true, yang pandai memasak, suka bola dan mau mengikuti hobi Richard, tapi tetap anggun.

Keduanya patut mendapat acungan jempol, padahal Love For Sale adalah film pertama mereka sebagai pemeran utama. Gading Marten memang sudah berakting di beberapa film namun sebatas pemeran pembantu. Pun, Della Dartyan, film ini adalah film pertamanya. Sebelumnya, kita hanya mengenal Della sebagai finalis Puteri Indonesia tahun 2013 dan tampil menjadi pembawa acara My Trip, My Adventure.

Poin lain dari film ini adalah pada pilihan original soundtrack yang hanya satu lagu yaitu Hidupku Sunyi.  Tembang lawas milik The Mercys ini,pernah dinyanyikan ulang oleh Tantowi Yahya dan Boomerang, tampil mengiringi film dengan beberapa aransemen berbeda sesuai suasana Richard. Aransemen berbeda ini juga sukses.

Film Love for Sale bisa jadi pilihan film tentang cinta yang layak tonton bagi kamu yang ingin melihat romansa asmara dari sisi yang berbeda. Seperti kata Richard, “sungguh mencintai adalah pekerjaan yang berat dan penuh resiko karena selalu melibatkan perasaan, tapi kukira, mengambil resiko tak pernah ada salahnya.”

Keluar dari studio CGV, rasa-rasanya saya ingin memeluk diri sendiri dan berbisik “Selesaikan dulu masa lalumu lalu atur masa depanmu, karena tak seorang pun mampu hidup sendiri”

Baca Juga:

7/24

Saya menonton film ini, awalnya karena tidak mau kouta Hooq saya terbuang percuma. Melihat daftar pemainnya: Lukman Sardi dan Dian Sastro, dua nama yang bagi saya menjadi jaminan bagusnya film yang mereka bintangi.

Tania (Dian Sastro) dan Tyo (Lukman Sardi) dalam ruang perawatan yang sama. Di sini, konflik rumah tangga mulai hadir.

7/24 (baca: tujuh hari 24 jam) besutan Fajar Nugros ini adalah film tentang cinta yang dewasa. Bagaimana sepasang suami istri, Tyo (Lukman Sardi) dan Tania (Dian Sastro) yang sama-sama memiliki kesibukan luar biasa padat dalam mempertahankan rumah tangga mereka. Kebahagiaan mereka mulai diuji ketika Tyo divonis sakit Hepatitis A.  Tania kemudian harus mengurus rumah, Ayla, menyelesaikan tugas-tugas kantornya, dan menjaga sang suami di rumah sakit. Tania pun ikutan sakit dan didiagnosis kena gejala tipes. Oleh dokter, Tyo dan Tania ditempatkan dalam kamar rumah sakit yang sama. Bukannya jadi makin dekat, konflik malah hadir di ruang rawat itu.

Film ini jadi menarik, -juga penting,- karena rata-rata film tentang cinta di Indonesia adalah kisah-kisah untuk remaja. Dalam film ini Fajar Nugros menampilkan selalu ada masalah dalam hubungan pasangan suami-istri meski tampak baik-baik saja jika dilihat dari luar.

 

Aach, Aku Jatuh Cinta

Aach, Aku Jatuh Cinta berkisah tentang Rumi, -yang diperankan dengan apik oleh Chicco Jerickho,- dan Yulia, -Pevita Pierce, sangat manis di sini-. Garin membuka film dengan adegan Yuli mengunjungi sebuah tempat rahasia dan membuka sebuah botol berisi pesan dari Romi di dalamnya.

Chicco Jerikho dan Pevita Pearce dalam Aach, Aku Jatuh Cinta. Sebuah film tentang cinta nan puitis

Melalui adegan itu dan buku harian Yulia, kisah Aach Aku Jatuh Cinta mengalir. Rumi dan Yulia bertetangga sejak kecil dan tumbuh bersama. Rumi selalu menjadi sumber kekacauan cinta Yulia. Namun kekacauan yang ditimbulkan Rumi  justru sangat membekas di hati Yulia. ketika beranjak dewasa hubungan tersebut terasa lebih dekat. Rumi secara intensif mendekati Yuli karena menurutnya dia telah jatuh hati pada Yuli. Namun, Yuli malah berusaha keras untuk menjauhi Rumi agar terhindar dari masalah-masalah.

Garin Nugroho terkenal sebagai sutradara yang memiliki keunikan dalam bertutur tanpa melupakan estetika yang memanjakan mata. Di tangan Garin,  Aach… Aku Jatuh Cinta menjadi sebuah film tentang cinta yang kacau tak terurus tetapi indah.

 

Posesif

Posesif bukan film tentang cinta yang biasa. Film ini mengisahkan kisah cinta antara Lala (diperankan oleh Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken), berawal dari perkenalan antara Lala dengan si anak baru Yudhis akibat mendapat hukuman yang sama karena warna sepatu yang melanggar peraturan sekolah.

Lala (Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken dalam Posesif, sebuah kisah cinta remaja yang tak biasa.

Lala dan Yudhis kemudian menjadi dekat dan berkembang menjadi cinta. Cinta pertama bagi Lala ini awalnya indah. Ada Yudhis dalam keseharian Lala. Menemani di sekolah, latihan loncat indah dan hang out. Namun, adegan demi adegan, Edwin sang sutradara membawa kita menyaksikan hubungan percintaan mereka yang mengerikan karena sifat posesif Yudhis.

Saat menonton film ini saya butuh jeda untuk mendinginkan emosi yang muncul karena sikap Yudhis. SAYA TAK BISA TERIMA KALAU ADA COWOK YANG KASAR PADA CEWEK! Satu jam pertama bawaannya marah dan serasa ingin tampol si Yudhis, nanti pada sepertiga bagian akhir dari durasi 104 menit saya baru bisa memahami kenapa Yudhis seperti itu.

Film ini menghadirkan sudut pandang yang berbeda dari film remaja kebanyakan, tak ada gombalan alay. Juga ceritanya yang sangat dekat dengan keseharian kita. Hampir dari semua kita memiliki teman yang posesif pada pacarnya, teman yang terkekang karena pacar posesif, atau justru kita sendiri yang posesif pada pasangan. Karena itulah, film ini penting untuk kita tonton.

 

Dilan (1990)

Menulis catatan tentang film Dilan itu berat, biar orang lain saja…

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.