Dua Hari Kepo di Bone

Selama dua hari (30-31 Juli), Kepo Initiative menghabiskan akhir pekan di Bone dalam rangka kegiatan workshop menulis bekerja sama dengan komunitas Rumah Baca Bukuta Philosophia Watampone. Dalam dua hari itu kami mendapat kehormatan untuk berbagi dan belajar bersama anak-anak muda Bone tentang menulis, blogging, dasar fotografi, etika dan optimasi media sosial.

Hal pertama yang kami lakukan setiba di Watampone, ibukota Kabupaten Bone, adalah mengisi perut. Perjalanan selama 5 (lima) jam lebih dari Makassar membuat perut kami meminta diisi. Kami tiba tepat pada saat makan siang. Mobil kami langsung mengarah ke rumah makan Latanete. Rumah makan ini terkenal memiliki pisang ijo yang enak. Tentu saja kami memesan es pisang ijo, setelah menu makan berat berupa bakso.

Usai mengisi kekosongan perut, kami menuju sekretariat Rumah Baca Bukuta Philosophia untuk beristirahat sebentar sebelum workshop dimulai pada pukul 15:00 wita. Saya memulai pelatihan hari pertama dengan perkenalan tentang internet, media sosial dan jurnalisme warga. Dalam kesempatan ini saya memaparkan perkembangan internet, media sosial dan alasan kenapa kita harus mengambil peran sebagai jurnalis warga.

Setelah itu giliran Daeng Ipul yang meninjau tulisan 20an peserta yang sebelumnya memang sudah diminta oleh panitia. Tinjauan hanya dilakukan sepintas, sekadar mencari tahu kemampuan menulis para peserta yang berasal dari beberapa sekolah dan kampus di Bone. Di antara peserta, beberapa ada yang memang sudah sering menulis sementara lebih banyak yang belum terbiasa, utamanya peserta yang berasal dari SMA. Daeng Ipul kemudian menutup sesi hari pertama dengan materi tentang apa itu blog dan apa gunanya ngeblog.

Pelatihan hari pertama selesai sekira pukul 17:00 wita lewat. Kesempatan mengunjungi Kabupaten Bone yang berada di pesisir timur Sulawesi Selatan dan memiliki panjang pantai 130,45 km yang berbatasan langsung dengan Teluk Bone ini kami gunakan untuk mengunjungi salah satu destinasi wisata yaitu Tanjung Palette.

Kawasan wisata Tanjung Pallette ini terletak di Kelurahan Pallette, 12 km dari kota Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan Indonesia. Perjalanan ke kawasan wisata ini sekitar 30 menit jam dari kota Watampone. Sepanjang jalan kita bisa menikmati aktifitas masyarakat dan juga hamparan sawah para penduduk.

Biaya masuk ke Tanjung Palette sebesar Rp. 5.000,- per orang. Karena kami berlima, jumlah yang kami bayarkan sebesar Rp. 25.000,- Hitungannya benar kan? Biaya itu sudah termasuk biaya parkir mobil kami loh. Harga yang murah untuk sebuah kawasan wisata dengan berbagai fasilitas yang ada di dalamnya.

Kawasan Tanjung Palette Bone

Kawasan Tanjung Palette Bone

 

Di balik keindahan pemandangan yang dimilikinya, menurut cerita rakyat yang turun temurun, Tanjung Palette sejatinya adalah tempat mallabu tau, yang dalam bahasa Bugis berarti tempat menenggelamkan orang.  Pada masa kerajaan Bone, Tanjung Palette ini menjadi lokasi untuk menenggelamkan orang-orang yang melakukan pelanggaran yang berat yaitu melakukan perselingkuhan. Mereka yang telah berkeluarga namun berselingkuh akan diikat bersama lalu dibuang di sana. Cerita itu saya dapatkan dari seorang teman setelah kami berkunjung.

Dalam perjalanan pulang, kami mampir pada sebuah rumah yang disulap menjadi toko cap karung (cakar). Gairah berbelanja kami langsung meninggi begitu menemui begitu banyak barang cakar. Toko cakar ini termasuk lengkap karena menyediakan hampir semua pakaian sehari-hari seperti sepatu, tas, celana panjang dan pendek, kaos, kemeja hingga jaket jins. Saya sendiri membeli 3 (tiga) tas dan dua kemeja dan memutuskan pulang sebelum pemilik toko ini membuka beberapa bal karung yang berisi celana kargo. Kami takut tergoda dan merogoh kocek lebih dalam.

Puas maccakar, kami sudah ditunggu oleh panitia yang sudah menyediakan makan malam olahan tangan teman-teman Rumah Baca Bukuta Philosophia. Sayang sekali saya tak ikut menikmati makanan mereka karena sepasang sahabat yang berdomisili di Bone menjemput dan membawa saya keliling kota Watampone sekaligus mencari makan malam. Rencananya, mereka mengajak saya makan di salah satu rumah makan legendaries di Bone namun rumah makan yang kami tuju ternyata tutup. Jadilah kami melewatkan malam di kawasan Samsung alias Samping Sungai kota Bone.

Hari kedua kami memulai pelatihan pada pukul 09:00 wita dengan materi seputar tips dan trik menulis oleh Daeng Ipul. Dalam materinya pemilik blog daenggassing.com ini memberikan tips yang didapatkannya dari pengalaman hampir 10 tahun menjadi blogger. Setelah Daeng Ipul, giliran Iqbal Lubis membawakan materi dasar-dasar fotografi. Kali ini,  jurnalis foto dan video salah satu media nasional ini berbagi metode EDFAT yang merupakan panduan dasar untuk menghasilkan sebuah karya foto yang menarik. Materi fotografi ini kami anggap penting untuk menyempurnakan kemampuan menulis, utamanya di blog pribadi.

Selepas makan siang, saya melanjutkan pelatihan dengan tinjauan tulisan yang merupakan tugas para peserta yang saya berikan sehari sebelumnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk meninjau beberapa tulisan peserta, memberi masukan dan koreksi untuk kesalahan-kesalahan penulisan dan memberi semangat untuk terus meningkatkan kemampuan menulis para peserta. Setelah itu, saya maparkan etika-etika media sosial yang tujuannya agar para peserta bisa menggunakan media sosial secara bijak dan mengambil banyak keuntungan darinya.

Sekira pukul 15:00 wita, Feri Pebriari, Kepala Sekolah Kelas Menulis Kepo berbagi materi optimasi blog dan etika blogging. Feri memberikan tips bagaimana supaya blog bisa dikunjungi orang, salah satunya adalah dengan menjaga konsistensi pemuatan artikel dan memilih tampilan yang sederhana dan tidak terlalu ramai.

Pelatihan hari kedua ini ternyata berakhir lebih cepat dari jadwal yang kami susun. Usai sesi penutupan kami mendapat undangan untuk ngopi dari salah seorang peserta. Kami langsung mengiyakan. Kami pun segera meluncur ke coffee shop yang terletak tak jauh dari Pelabuhan Bajoe. Kami lalu menuju ke arah Pelabuhan Bajoe yang jaraknya sekira 7 (tujuh) kilometer dari arah kota Watampone.

Labuan Coffee Bar Bone

Labuan Coffee Bar Bone

Jarak itu kami tempuh tak lebih dari 15 menit hingga kami tiba di sebuah deretan rumah toko (ruko) yang berada di sebelah kiri jalan menuju Pelabuhan Bajoe. Pada deretan ruko itu terdapat sebuah ruko yang menyita perhatian saya saat kami turun dari mobil. Sebuah coffee shop dengan konsep menarik dengan unsur full kayu sebagai interior ruangan dan luar.

Sebuah tagar #ngopidibajoe menyapa kami begitu berdiri di depan kafe ini. Setidaknya ada 12 meja yang masing-masing memiliki 4 (empat) kursi di bagian luar bangunan. Di bagian dalam, ada 4 (empat) meja  dengan 4 (empat) kursi. Ada pula satu meja kecil dengan dua kursi. Di depan bar setinggi dada lelaki dewasa ada empat kursi. Di dua dinding, kiri dan kanan, terdapat papan-papan tulis hitam kecil bagi pengunjung yang ingin menuliskan pesan atau sekadar berfoto. Ada pula gambar-gambar kutipan tentang kopi. Coffee shop yang bernama Labuan Coffee Bar ini sangat instagramable, tentu saja kami tak melewatkan kesempatan untuk berpose sebagus mungkin.

Waktu yang terbatas membuat kami harus beranjak dari coffee shop ini dan segera menuju sekretariat Rumah Baca Bukuta Philosophia untuk mengemas pakaian. Setelah berpamitan, kami pun menuju ke rumah orang tua salah satu tim Kelas Menulis Kepo yang merupakan orang Bone. Di rumah ini, suguhan makanan dan keramahan orang tua teman itu membuat kami menyantap makan malam dengan lahap.

Sekira pukul 21:00 wita, kami harus meninggalkan Bone, kota yang terletak sekira 174 km arah timur Makassar ini. Dua hari tentu tak cukup untuk menciptakan jurnalis warga sesuai harapan kami. Kami hanyalah pemantik dari api semangat anak-anak muda Bone yang mengundang kami. Semoga selepas pelatihan ini, mereka mampu menuliskan dan mengabarkan hal-hal positif yang telah mereka lakukan demi kota mereka.

Related Posts

About The Author

Add Comment