Di Makassar, Ramang Masih dan Akan Terus Hidup

“Eh, itu film Dono yah?” seru seorang lelaki sembari menunjuk televisi.

“Beh, film jadul. Toa mi Ramang dih” teman lelaki itu menimpali.

Percakapan di atas terjadi di sebuah warkop siang tadi saat sebuah TV nasional menyiarkan salah satu film Warkop DKI yang berjudul Setan Kredit. Warkop DKI sendiri adalah akronim dari Warung Kopi Dono Kasino Indro, grup lawak papan atas yang menghiasi panggung, layar kaca dan layar film negeri ini pada era 80an hingga 2000an. Berawal dari sebuab acara di Radio Prambors puluhan film, kaset lawakan dan juga sinetron, telah mereka hasilkan. Dua personel Warkop DKI kini telah berpulang, menyisakan Indro yang masih sering kita saksikan kehadirannya di layar tivi kita hingga sekarang.

Lalu, siapa Ramang? Ini sebuah pertanyaan yang sebenarnya kurang ajar jika yang bertanya adalah warga Makassar. Nama Ramang telah lekat dengan Makassar itu sendiri. Ramang legenda PSM Makassar. Ramang adalah pahlawan. Ramang adalah ikon. Ramang adalah Macan Bola. Ramang adalah … … (silakan sendiri isi titik – titiknya). Sangat banyak hal yang bisa kita lekatkan pada nama ini.

Ramang muda hanyalah seorang tukang becak yang sering nongkrong di Lapangan Karebosi. Di lapangan itu, Ramang muda sering memainkan buah jeruk, gulungan kain dan bola anyaman rotan dalam permainan marraga’, sebuah permainan tradisional Bugis – Makassar yang serupa sepak takraw. Hal itu ia lakukan sejak berusia 10 tahun.

Kecintaan itu kemudian membawa dia bergabung dengan Persatuan Sepakbola Induk Sulawesi (Persis). Pada sebuah pertandingan, dalam kompetisi Persatuan Sepakbola Makassar (PSM), ia mencetak sebagian besar gol dan membuat Persis menang 9-0. Saat itu, PSM yang masih bernama Makassar Voetbal Bond (MVB) kepincut dan melamarnya untuk bergabung. Pada tahun 1947 Ramang resmi memperkuat klub bola kebanggaan warga Makassar ini.

Bergabung dengan PSM membuat Ramang harus meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang becak. Keputusan yang berdampak pada kondisi ekonomi keluarganya memprihatikan. Ia bersama istrinya menumpang di rumah temannya. Untung istrinya kuat dan menerima keputusan itu. Pada sebuah wawancara di sebuah wawancara di Majalah Tempo (7/10/1978), Ramang mengungkapkan “Namun apapun yang terjadi, coba kalau isteri saya tidak teguh iman, mungkin sinting,”

Karier sepakbolanya mulai menanjak ketika ada tahun 1952. Bersama  Suardi Arlan di sisi kanan dan Nursalam di kiri, ia  menjadi pemain utama PSSI. Permainannya sebagai penyerang tengah sangat mengagumkan. Setahun kemudian ia keliling di beberapa negeri asing. Namanya meroket menjadi pemain favorit penonton dan disegani pemain lawan.

Bagi Ramang, meninggalkan lapangan sepak bola sama saja menaruh ikan di daratan. “Hanya bisa menggelepar-gelepar lalu mati,” kata lelaki yang melesakkan 19 gol dari 25 gol pada lawatan PSSI tahun 1954 ke berbagai negeri Asia (Filipina, Hongkong, Muangthai, Malaysia). Saat itu PSSI hanya kemasukan 6 enam gol.

Ramang dalam pertandingan melawan Uni Soviet

Ramang dalam pertandingan melawan Uni Soviet

Ramang dikenal sebagai penyerang haus gol. Ramang memang penembak lihai, dari sasaran mana pun, dalam keadaan sesulit bagaimana pun, menendang dari segala posisi sambil berlari kencang. Salah satu kelebihan Ramang adalah tembakan salto, keahlian yang lahir dari latihan seorang sebagai bekas pemain ma’raga yang ulung.

Salah satu gol melalui tendangan salto yang indah dan mengejutkan ia tunjukkan saat PSSI mengalahkan RRC dengan skor 2 – 0 di Jakarta. Saat itu Ramang menyumbangkan kedua gol, satu di antaranya tembakan salto.  Pertandingan itu adalah pertandingan menjelang Kejuaraan Dunia di Swedia, 1958. Pertandingan kedua dilanjutkan di Peking, Indonesia kalah dengan 3-4, sedang yang ketiga di Rangoon (juga melawan RRC) dengan 0-0.

Nama Ramang, bukan hanya milik Makassar dan Indonesia, dunia internasional pun mengakuinya. Untuk mengenang kehebatan Ramang, Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) mengunggah sebuah artikel dalam situs resminya www.fifa.com tepat pada peringatan ke-25 tahun kematiannya di tahun 2012. Dalam rtikel yang berjudul “Indonesian who inspired ’50s meridian”, FIFA memberi pengakuan bahwa Ramang Legenda PSM Makassar adalah inspirator titik puncak kesuksesan sepakbola Indonesia.

Artikel FIFA tersebut mengupas kehebatan Ramang Legenda PSM Makassar memperkuat Indonesia di Olimpiade Melbourne ketika Indonesia berhasil mencapai babaik perempat final. Pada pertandingan pertama Indonesia berhasil menahan Uni Soviet 0-0. Ramang sendiri hampir mencetak gol, sayang seorang pemain Uni Soviet menggagalkannya dengan menarik kausnya dari belakang. Sayangnya, pada pertandingan ulang Indonesia kandas dengan skor 4 – 0 setelah Uni Soviet menaruh perhatian lebih pada Ramang. Meski begitu, Ramang tetap merepotkan Uni Soviet yang saat itu dikawal oleh penjaga gawang legendaris, Lev Yashin.

Ramang sendiri memperkuat PSM hingga tahun 1960, namanya meredup setelah kena skorsing karena tuduhan menerima suap. Bersama Suardi Arlan, Nursalam dan Maulwi Saelan, Ramang berjaya di era tahun 1950an. Mereka tumbuh dan besar dalam ciri khas sepakbola Makassar yang dikenal keras, lugas, dan pemberani.

Di era itu PSM Makassar lima kali meraih gelar juara perserikatan yaitu pada tahun 1957, tahun 1959, tahun 1965, tahun 1966, dan tahun 1992. PSM pertama kali menjadi juara perserikatan tahun 1957 dengan mengalahkan PSMS Medan pada partai final yang digelar di Medan. Sejak itu PSM yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur menjadi kekuatan baru sepakbola Indonesia. Nama Ramang Legenda PSM Makassar juga melekat dalam julukan PSM sebagai Pasukan Ramang.

Patung Ramang Legenda PSM Makassar yang dirubuhkan atas nama pembangunan Karebosi Link.

Patung Ramang Legenda PSM Makassar yang dirubuhkan atas nama pembangunan Karebosi Link.

Sebagai bentuk kebanggaan pada Ramang, sebuah patung dirinya pernah didirikan. Patung itu berdiri di pintu utara Lapangan Karebosi hingga pemerintah merobohkannya pada saar revitalisasi Karebosi. Atas nama pembangunan, satu – satunya penanda dan pengingat bahwa Makassar, dan Indonesia, pernah memiliki pesepakbola hebat, dihancurkan dan digantikan dengan sebuah pohon bonsai.

Sisa dan bukti kejayaan Ramang Legenda PSM Makassar memang hilang tak terbekas. Tak ada satu pun pengingat yang tersisa. Namun, Ramang masih dan akan terus hidup di hati warga Makassar. Nama Ramang hidup dan akan terus hadir dalam keseharian warga Makassar melalui ungkapan dalam percakapan di atas. Toa mi Ramang adalah ungkapan untuk sesuatu atau bahan obrolan yang terjadi atau pernah hadir sekian tahun lampau.

Toa mi Ramang yang bermakna Ramang sudah tua adalah bukti bahwa alam bawah sadar warga Makassar menganggap Ramang masih ada hingga kini meski Ramang telah berpulang pada 26 September 1987. Ungkapan Toa mi Ramang menegaskan bahwa Legenda PSM Makassar dan legenda sepakbola itu akan terus ada dalam hati dan keseharian warga Makassar.

sumber foto: bola net, indosoccer dan [email protected]

Related Posts

About The Author

Add Comment