Di Balik Temaram Karebosi

 

Sebuah motor masuk alun-alun, melintas di antara patung pemain sepakbola dan Patung Pa’raga[1] yang menyambutnya. Malam belum menua. Tetenda Sop Saudara[2] masih buka. Di depan tenda, bagian kanan bangunan alun-alun kota, tiga orang terpaku pada layar televisi menyaksikan pertandingan sepakbola. Sesekali mereka meneguk kopi yang tak lagi mengepulkan asap. Seorang lagi asyik menghitung uang di depan toilet. Rupanya banyak orang buang hajat. Beberapa meter dari situ, di sisi timur lapangan, di antara jejeran palem dan temaram lampu merkuri berlangsung sebuah percakapan hangat.

Oe telens, onomi’ lekongku,”[3] ujar seorang pada temannya sambil mencolek.

Osh, cucco ji?”[4] tanya yang satunya.

Tanyanya belum sempat terjawab, ia bertanya lagi “Sepong nemesnya, longka ji?”[5]

Yang ditanya hanya tersenyum dan mengibaskan rambutnya yang terurai sebahu.  Aroma white musk meruap dari tubuh yang mengenakan tank top dan jeans ketat hitam. Perlahan ia merogoh tas selempang dan mengambil sebatang rokok dari bungkusan rokok tanpa mengeluarkannya dari tas. Ia lalu membakarnya, asap rokok mengepul bercampur aroma tubuhnya. “Lekongku batari gedong dan kaya. Tadi malam kulo diajak tabu dan blonjong di mall. Kulo bermanis-manis jambu deh.”[6]

Kata-kata yang meluncur dari mulut mereka memang terdengar asing. Tak mudah untuk memahaminya. Selain mereka dan segelintir orang dekat, tak ada yang mengerti bahasa mereka. Percakapan dengan menggunakan bahasa seperti itu memang dapat dijumpai setiap malam di Lapangan Karebosi[7]. Berbeda dengan alun-alun kota besar lainnya, semisal Alun-Alun Yogyakarta dan Lapangan Gasibuo Bandung, ruang publik Makassar yang terletak tepat di pusat kota ini malam hari ramai oleh waria (wanita pria).

Tak banyak yang tahu sejak kapan waria memilih lapangan ini sebagai tempat kumpulnya. Ada yang menyebut kalau mereka telah berada di lapangan ini sejak tahun 1950-an. “Dari dulumi’ nak, masih jamannya Ramang latihan di sini. Masih tinggi rumput dan banyak kubangan kerbau  adami’ [waria] di sini,” tutur Daeng (Dg) Bunga. Mata pemilik kedai rokok yang terletak dalam lapangan ini memandang Patung Ramang[8] yang berdiri kokoh di pintu masuk utama yang terletak di sisi utara, tepat di belakang Patung Pemain Bola. Ada juga yang mengatakan bahwa waria ini mulai hadir awal tahun 1980-an. Konon, sebelumnya mereka berkumpul di sekitar Jl Nusantara dan Stadion Mattoangin.  Entah versi mana yang benar, yang jelas, kini kehidupan malam Karebosi identik dengan waria.

Setiap malam, dapat kita jumpai setidaknya 30-an waria mangkal di sana. Malam minggu jumlah mereka bisa melebihi 50-an orang. Umumnya mereka memilih sisi timur dan selatan lapangan.  Malam itu, kedai rokok milik Dg Bunga yang terletak agak ke tengah sisi timur tampak dipenuhi waria. Mereka bercengkrama.

“Salahko itu, masa ada kategori putra-putri,” ujar salah seorang di antara mereka.

Iyo, masa ada juga kategori cilik. Sembarangan sekali,” seorang lagi menimpali. Keduanya melihat teman mereka yang hanya mampu tersenyum. Ia tergelak menertawai kebodohannya. Mana ada pemilihan supermodel waria kategori putra-putri dan cilik, mungkin begitu pikirnya. Tiba-tiba, seorang temannya yang berdiri di samping menjitak kepalanya. “Bencong tolo-tolo ini!”[9] Berbeda dengan anggapan umum yang menyamakan bencong dengan waria. Bencong di kalangan mereka merupakan sindiran bagi waria yang belum berani mengakui status warianya.

Baca Selanjutnya di Di Balik Temaram Karebosi Halaman 2

Related Posts

About The Author

Add Comment