Di Balik 2 (Dua) Liputan

Sebulan lalu saya mengajukan diri ketika sebuah portal berita global berbasis di Filipina mencari kontributor untuk wilayah Makassar. Saya lalu diminta untuk mengirimkan sebuah contoh tulisan untuk melihat apakah tulisan saya cocok untuk portal mereka. Saya mengirimkan 3 tulisan, iseng saja. Siapa tahu mereka menolak tulisan pertama, mereka masih bisa saya rayu dengan tulisan ke 2 dan ke 3 🙂

Karena kesibukan dalam pemberitaan tentang musibah Air Asia, editor mereka tak sempat menengok tulisan saya di folder email. Pertengahan Januari, saya dihubungi lagi oleh editor mereka dan menyampaikan bahwa mereka menerima saya sebagai salah satu kontributor.

3 (tiga) tulisan yang saya kirimkan tak dimuat mereka karena sudah kehilangan momentum. 2 (dua) dari 3 (tiga) tulisan itu saya muat di blog pribadi saya, namun mereka meminta saya memperbaharui 1  (satu) tulisan lainnya sesuai perkembangan kasus. Saya juga diminta untuk mengusulkan beberapa bahan tulisan berikutnya.

Saya  mengajukan tulisan mengenai e-hate management dalam bisnis digital marketing. Saya lalu menuliskan dan mengirimkannya namun tulisan itu  dikembalikan dan saya diminta untuk melengkapi data dan melakukan wawancara dengan pihak yang saya tulis memanfaatkan kebencian Jokowi Haters demi menaikkan popularitasnya dan meningkatkan trafik Fans Page yang ia kelola demi kepentingan usahanya.

Awalnya, saya patah semangat dan memutuskan untuk membatalkan tulisan itu mengingat narasumber yang harus saya wawancarai berada di Jakarta. “Ah, saya tak mungkin bisa mewawancarainya. Tulisan itu bisa saya muat kok di blog”, begitu pikir saya. Namun, pikiran lalu saya berubah, mengingat narasumber ini sangat aktif di Facebook. Saya yakin bisa mewawancarainya via FB Messenger.

Namun ternyata tak semudah itu, ada banyak akun yang menggunakan namanya. Maklumlah, ia seorang figur yang memiliki penggemar yang banyak. Tentu banyak orang yang ingin memanfaatkan namanya. Singkat cerita, saya berhasil menemukan akun yang saya yakini adalah asli miliknya setelah melakukan penelusuran pada beberapa akun. akun-akun itu saya cocokkan dengan Fans Page yang ia kelola.

Setelah yakin, saya lalu mengirimkan pesan melalui FB Messenger untuk meminta kesediaannya melakukan wawancara via chat. Dan, ia setuju! Sore itu juga saya melakukan wawancara dengannya via chat. Ada banyak hal yang tanyakan, termasuk tudingan-tudingan dan penilaian orang selama ini tentang dia. Narasumber saya ini tak keberatan menjawab semua yang saya tanyakan, kecuali soal omzet dari bisnisnya. Dengan cerdas, ia menjawab pertanyaan – pertanyaan saya dan mengelak dari tudingan – tudingan orang tentangnya.

Tulisan kedua yang saya ajukan kasus Fadhli, seorang PNS Gowa yang dipenjarakan karena mengkritik bupatinya melalui percakapan di media sosial Line, media percakapan tertutup. Untuk tulisan itu, saya melakukan wawancara dengan ibu Rukmini, Ibunda Fadhli yang kena imbas dari kasus anaknya. Ibu Rukmini adalah seorang guru yang sudah mengabdi selama 30 tahun dan dimutasi ke sekolah yang berjarak 40 km dari rumahnya untuk sesuatu yang bukan kesalahannya.

Ibu Rukmini, Ibunda Fadhli.

Ibu Rukmini, Ibunda Fadhli.

Minggu (18 Januari) kemarin saya menemui Ibu Rukmini setelah melakukan kontak melalui sms. Sore hari saya tiba di alamat yang ia berikan. Di depan rumahnya, ia tak langsung membukakan saya pintu. Setelah mengintip dan yakin bahwa saya tidak bermaksud jahat barulah ia berbicara, tanpa membuka pintu ia meminta saya ke rumah lain yang terletak di lorong belakang rumahnya.

Saya lalu menuju rumah yang ia tunjukkan, sesampainya di sana seorang, yang mungkin pembantunya, malah mengatakan kalau saya salah rumah. Saya memutuskan untuk berteduh sambil memikirkan apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Untunglah, ibu Rukmini mengintip melalui pintu belakang rumahnya yang berada di lorong lalu menelpon saya.

“Ibu ini sepertinya harus meyakinkan diri untuk menerima saya dan wawancara dengannya, mungkin ada sesuatu yang membuatnya was-was” begitu pikir saya. Dugaan saya benar, dalam wawancara ia menceritakan bahwa ia pernah menerima terror. Seorang lelaki berambut gondrong seperti saya pernah berhenti di depan rumahnya tanpa mematikan mesin motornya. Lelaki itu kemudian menelpon ke nomor hapenya tanpa berbicara tapi terus membunyikan klakson. Untunglah hujan deras turun mengguyur hingga lelaki itu memutuskan untuk pergi.

Dari cerita itu, dan juga apa yang Ibu Rukmini ungkapkan selama wawancara, saya bisa membayangkan kekuatan besar yang sedang ia lawan. Bayangkan, terror itu terjadi di depan rumahnya yang berseberangan dengan kantor Koramil. Tentu hanya orang dengan beking kuat yang berani melakukannya.

Selama wawancara, ibu Rukmini beberapa kali tampak menghalau airmata yang mendesak keluar dan ia berhasil melakukannya. Mata saya ikut berkaca-kaca, andai ibu Rukmini tak tegar kemungkinan besar buliran air mata saya juga akan turun. Saya lebih banyak terdiam dan mendengarkan cerita Ibu Rukmini, yang berisi curhatan, dengan sesekali mengajukan pertanyaan yang saya anggap bisa mengurangi kesedihan atas apa yang ia alami.

Dari ceritanya, saya mendengar apa yang ia alami karena kasus anaknya. Banyak hal yang harus ia hadapi menjelang masa pensiunnya yang sisa 2 (dua) tahun lagi. Karena kasus ini, banyak orang yang dulu dekat dengannya kini menjauh, mulai kolega – koleganya sesama guru hingga tetangganya pun bahkan terkesan menghindarinya.

“Mungkin mereka takut kena akibatnya jika dianggap dekat atau membantu saya” kata Ibu Rukmini. Ia mengaku tegar menghadapi cobaan ini karena tak ingin anaknya ikut sakit jika ia sakit karena masalah ini. Dalam wawancara itu, juga dalam sms-sms kami, Ibu Rukmini selalu memanggil saya Nanda atau Nak sebelum nama saya. Saya bisa merasakan kepedihannya sebagai seorang Ibu melihat anaknya dipenjara namun juga betapa ia mampu tetap berdiri tegak karena kasih sayangnya sebagai Ibu.

Ada beberapa hal dari wawancara saya dengan Ibu Rukmini yang saya tak tuangkan dalam tulisan yang saya kirimkan ke media itu. Bukan karena saya tak percaya pada ceritanya, saya hanya menjaga jarak saya sebagai jurnalis dengan narasumber. Beberapa hal yang ia ungkapkan tak dapat saya konfirmasikan ke beberapa pihak. Saya tak ingin menuliskan sesuatu, yang meski saya percayai, yang belum saya klarifikasi dan konfirmasikan kebenarannya.

Melihat betapa besar kekuasaan dan kekuatan yang ia hadapi, saya tak menanyakan kemungkinan atau harapan akan kebebasan anaknya. Namun harapan yang ia ungkapkan, tanpa saya tanyakan, di akhir wawancara itu membuat saya terdiam. “Saya hanya berharap semoga pemimpin kita di masa depan memiliki ESQ yang tinggi. Mereka harus cerdas secara emosi agar tak sewenang-wenang” katanya saat mengantar saya keluar.

Dalam perjalanan pulang, di bawah guyuran hujan deras sore itu, saya hanya mampu mendoakan agar ibu Rukmini diberi ketabahan dan kekuatan. Pun, saya berharap dalam hati, kekuatan besar yang sedang ia hadapi akan tersandung pada suatu saat nanti.

 

Catatan: tulisan tentang kasus Fadhli, jika tak ada perubahan, akan tayang esok pagi, 22 Januari 2015 di portal berita itu.

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment