Di Atas Pesawat: Kita Semua Adalah Pelayan.

Humanity - Gandhy

Di atas pesawat, sebuah sentuhan halus membangunkan tidur saya yang baru saja akan memasuki dunia mimpi. Di depan mata, sudah terhidang nasi kuning dan daging sapi, juga puding sari kelapa. Tak ada pilihan menu. Kecuali saat perempuan manis itu menawarkan mau minum apa, “Susu, Kopi atau Teh?” Saya memilih yang terakhir. Lalu teringat pada Eko di Kepo.

Eko adalah seorang pemuda, yang mungkin baru berusia awal 20-an, bekerja sebagai pelayan di Kedai Pojok Adhyaksa yang biasa kami singkat menjadi Kepo. Kedai inilah tempat nongkrong sekaligus kantor bagi saya. Dengan adanya Eko, memesan apapun lebih mudah. Tanpa Eko, tingkat kenyamanan saya, dan juga pengunjung lain, tentulah akan berbeda.

Perempuan manis di atas pesawat itu 2 (dua) kali saya mengganggu tidur saya. Pertama saat menyuguhkan nasi kuning tadi, yang kedua saat membawakan snack. Dari tag name di dadanya, saya tahu namanya Devi.

Devi dan Eko, apa yang membedakan mereka? Mungkin seragam, mungkin pula tingkat keterampilan. Devi tentu harus mempunyai keterampilan yang ia dapatkan dari pendidikan formal. Ia butuh penanda untuk keterampilannya. Eko, dugaan saya, tak perlu menyetorkan ijazah atau sertifikat untuk bekerja sebagai pelayan di Kepo.

Devi, dan pramugari – pramugara lainnya, selalu menarik perhatian kita begitu kita menjumpai mereka dalam balutan seragam kerja. Tentu karena penampilan, juga karena mereka memiliki tampilan wajah dan tubuh yang menarik. Eko, dan pelayan kafe atau restaurant lainnya? Jujur saja, kita kadang abai akan keberadaan mereka.

Padahal, pada hakikitnya, perbedaan Devi dan Eko hanyalah pada tampilan. Tugas mereka sama; melayani dan membuat para pelanggan merasa puas. Devi, dan teman – temannya, berusaha semaksimal mungkin membuat para pengguna jasa penerbangan tempat mereka bekerja puas dan kembali menggunakan jasa perusahaan itu. Eko, dan para pelayan lainnya, berusaha agar para pengunjung untuk kembali makan di kafe atau restaurant mereka.

Devi, Eko, saya dan kalian adalah sama: pelayan. Dari rakyat jelata hingga presiden, yang cantik jelita atau pun wajah – wajah biasa saja seperti saya. Ada yang berperan sebagai asisten rumah tangga (baca: pembantu) yang melayani majikan mereka. Ada yang berstatus sebagai abdi negara yang (seharusnya) melayani warga. Ada yang menyandang predikat sebagai suami/istri yang melayani segala kebutuhan keluarganya. Dan lain – lain. Dan lain – lain.

Ada banyak status dan predikat, tugasnya sama: melayani. Kita semua adalah pelayan, lain majikan. Namun, ada satu hal yang (seharusnya) menjadi majikan kita bersama. Majikan itu bernama Kemanusiaan. Untuk melayani Kemanusiaan sebenarnya tak sulit, cukup dengan tidak membeda-bedakan setiap orang yang kita jumpai apapun status dan predikat mereka.

Kita ada di atas pesawat yang sama, pesawat itu bernama Kehidupan. Mari memandang Devi dan Eko dengan kacamata yang sama: kacamata kemanusiaan.

‘cause we all live under the same sun. We all walk under the same moon.’ – Scorpion

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.