Dentum Dalam Sunyi Pantai Bara

Selama ini banyak yg beranggapan bahwa Kabupaten Bulukumba telah menerapkan syariat Islam seperti halnya Nanggroe Aceh Darussalam.

Penerapan syariat Islam tidaklah mudah, dibutuhkan sebuah kodifikasi hukum Islam, disebut Qanun, yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan dan seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Kabupaten Bulukumba belumlah memiliki Qanun, baru sebatas perda ‘syariat Islam’ yang hanya mengatur sebagian kecil aspek kehidupan masyarakat.

Perda “Syariat Islam” di daerah ini yang sudah disahkan ada empat yaitu Perda Nomor 03 tahun 2002 tentang Larangan, Pengawasan, Penertiban dan Penjualan Minuman Keras. Perda Nomor 02 tahun 2003 tentang pengelolaan Zakat profesi, Infaq dan Shadaqah, Perda Nomor 05 tahun 2003 tentang Pakaian Muslim dan Muslimah, Perda Nomor 06 tahun 2003 tentang Pandai Baca Tulis Al-Qur’an bagi Siswa dan calon Pengantin.

Perda Nomor 03 tahun 2002 tentang Larangan, Pengawasan, Penertiban dan Penjualan Minuman Keras, sejatinya adalah upaya meredam meningkatnya jumlah penderita HIV-AIDS di kabupaten penghasil kapal pinisi ini. Tingginya angka penderita HIV-AIDS ini disinyalir karena maraknya praktek prostitusi yang berkedok kafe di Bulukumba, utamanya di kawasan wisata Tanjung Bira.
Melalui Perda No 03 tahun 2002 ini, Pemerintah Kabupaten Bulukumba kemudian melokalisir kafe-kafe yang bertebaran di Kawasan Tanjung Bira. Kafe-kafe ini dipindahkan ke sebuah lokasi baru yang tak jauh dari Pantai Bira. Letaknya tersembunyi di area ‘hutan kecil’ menuju Pantai Bara. Sebuah pantai cantik yang tak banyak diketahui orang.

Tak mudah menemukan lokasi ini, apalagi bagi pengunjung yang belum pernah ke sana. Dentuman house musik dari pengeras suara kafe-kafe itu pun tak sampai pada Kawasan Tanjung Bira. Jalan setapak yang menuju lokalisasi ini sangat gelap tanpa penerangan lampu. Tak ada tanda-tanda bahwa jalan tak beraspal itu menuju ke sebuah lokasi berkumpulnya puluhan kafe.

Pantai Bara Kabupaten Bulukumba

Pantai Bara Kabupaten Bulukumba

Pada sebuah penelitian, saya berkesempatan ke sana dan mewawancarai beberapa pelayan di sebuah kafe. Berikut ini saya tuliskan kembali kisah yang mereka tuturkan.

Indah mengaku berasal dari Sinjai. Ia anak ke dua dari tiga bersaudara. Bersama keluarganya ia melewatkan masa kecil di Jeneponto. Menginjak usia empat tahun kedua orangtuanya berpisah. Sejak itulah ia dan kedua saudaranya hidup terpisah karena diasuh oleh keluarga yang berbeda. Kini ayahnya sudah meninggal dan ia tak tahu dimana keberadaan ibunya. Yang ia tahu hanya keberadaan adik lakilakinya yang kini di Mamuju.

Bersama keluarga angkatnya ia bekerja menggarap kebun dan juga sebagai buruh panen. Sebagai buruh panen ia bekerja di berbagai tempat. Ketika di Sinjai ia berkenalan dengan seseorang yang juga berasal dari Sinjai. Orang itu kemudian mengajaknya ke Malaysia. Berangkatlah ia ke Malaysia bersama 10 orang lebih lainnya, semua ongkos ditanggung oleh orang tersebut. Saat itu usianya baru menginjak 14 tahun.

Di Malaysia, ia bekerja sebagai buruh kebun sawit. Rupanya ia tak tahan dengan beratnya pekerjaan yang harus ia lakoni. Saat kembali ke Nunukan untuk pengurusan paspor ia memutuskan untuk melarikan diri. Selama seminggu ia mempelajari bagaimana cara untuk kabur. Bersama teman-temannya ia ke pelabuhan dengan alasan jalan-jalan.

Saat di pelabuhan ia berpura-pura akan ke toilet tapi ia malah mencari loket tiket kapal. Uang tiket ia dapatkan setelah menjual hapenya seharga Rp. 600.000. Seorang diri dan tak membawa apa-apa selain pakaian yang ia kenakan ia pun berhasil naik kapal menuju pare-pare. Mengikuti kata hati ia memutuskan ke Kabupaten Bulukumba setelah tak lama di Makassar.

Ia kemudian bekerja sebagai penjaga toko di Bulukumba. Hanya sebulan lebih ia mampu bertahan sebagai penjaga toko karena mendapat perlakuan kasar oleh bapak kos yang kerap memukulinya. Oleh ajakan teman, Ia pun ke Bira dan memulai bekerja sebagai pelayan di kafe Sunrise. Di kafe Sunrise ia hanya dua bulan dan kemudian pindah ke kafe Metro selama dua bulan dan akhirnya pindah ke kafe Sempurna.

Sudah dua tahun lebih ia di kafe Sempurna. Ia merasa betah karena diperlakukan seperti anak sendiri oleh pemilik kafe. Juga karena ia tak memiliki siapa-siapa lagi selain teman-temannya sesama pelayan kafe dan pemilik kafe yang telah ia anggap sebagai keluarga sendiri. #

[bersambung ke Dentum Dalam Sunyi Pantai Bara #2]

Related Posts

About The Author

5 Comments

Add Comment