Dentum Dalam Sunyi Pantai Bara [bag.2]

bagian dua dari dua tulisan, bagian pertama Dentum Dalam Sunyi Pantai Bara

Ina baru lima bulan bekerja di kafe Sempurna Pantai Bara. Tak seorang pun keluarganya yang tahu kalau ia bekerja sebagai pelayan kafe. Oleh karena itu ia sangat khawatir jika kami sampai mengambil gambarnya. “Dibunuhka,” katanya jika keluarganya tahu ia menjalani profesi seperti ini.

Perempuan kelahiran 1985 ini adalah anak ketiga dari enam bersaudara. Kakak tertuanya sendiri berusia sekitar 32 tahun. Ia menikah di usia 16 tahun dengan pacarnya yang lebih tua dua tahun. Setelah menjalani KB dengan suntik selama lima tahun ia memutuskan punya anak di usia 21 tahun. Sayangnya, ia harus berpisah namun belum cerai karena suaminya memiliki kebiasaan menenggak minuman keras.

Ia juga mendapati suaminya berselingkuh dengan perempuan lain. Saat itu anaknya baru berusia seminggu. Anaknya ia beri nama Muhammad Adamsyah, sebagai penanda kejadian jatuhnya pesawat Adam Air pada 1 Januari 2006. Adam lahir pada tanggal 4 Januari, tiga hari setelah kejadian itu.

Sebenarnya ia pernah memberi kesempatan rujuk kembali. Saat itu usia anaknya sembilan bulan dan suaminya datang meminta maaf dan mengaku sadar. Suaminya juga berjanji tak akan lagi melakukan kebiasaan menenggak minuman keras dan berhubungan dengan perempuan lain.  Sang suami mulai berhubungan dengan perempuan lain ketika ia kandungannya menginjak usia lima bulan. Ironisnya, perempuan lain itu adalah tetangga sendiri dan telah bersuami serta memiliki dua anak.

Ia kemudian mengikuti suaminya ke Takalar, kampung halaman sang suami. Sayangnya, suaminya melanggar sumpah dan kembali pada kebiasaan lamanya. Seringkali ia mendapati suaminya pulang di pagi hari dengan  mulut berbau minuman keras dan bekas-bekas cupang di leher.  Menurut pengakuannya, ia tak keberatan suaminya berhubungan dengan perempuan lain asalkan sang suami jujur mengakui.

Penasaran dengan siapa suaminya berselingkuh, ia pun membujuk suaminya agar ia dipertemukan dengan perempuan itu. Ternyata perempuan itu tak lain adalah tetangga sendiri tempat dimana ia biasa berkeluh kesah mengenai kelakuan suaminya. Perempuan itu selalu memintanya bersabar jika ia mengeluhkan kelakuan suaminya, padahal ternyata perempuan itulah yang merebut suaminya diam-diam. Ia pun melabrak perempuan itu.

Ia tak tahan dengan kebiasaan suaminya mabuk karena menenggak minuman keras. Ia mengaku malu pada tetangganya. Empat bulan berada di Takalar, ia kemudian memutuskan pergi diam-diam meninggalkan suaminya. Dengan pertolongan seorang tukang ojek yang ia minta menjemputnya pada sebuah subuh. Tukang ojek itu pula yang mengantarnya mencari mobil menuju ke Makassar.

Di Makassar ia kemudian bekerja sebagai karyawan pada sebuah gudang di Kawasan Industri Makassar. Setiap hari ia menjalani pekerjaannya dari pagi hingga sore hari. Seringkali ia tiba di rumahnya sekitar jam tujuh atau delapan malam. Kadang pula ia lembur untuk menambah penghasilan.

Statusnya sebagai janda kemudian menimbulkan pergunjingan tetangganya, apalagi bila ia pulang agak malam ketika mengambil lembur. Ibunya pun memintanya tuk berhenti kerja. “Serba salah jadinya, tetap di rumahpun masih digosipi yang tidak-tidak,” katanya. Ia pun memutuskan tetap bekerja. Selain sebagai karyawan perusahaan coklat dan cengkeh, ia juga sempat bekerja sebagai penjaga toko di sebuah toko yang terletak di jalan Andalas.

Untuk menghindari omongan tetangga yang tak sedap, ia memutuskan untuk menyewa kos di sekitaran tempat kerjanya di KIMA. Sebulan sekali ia menjenguk anak dan ibunya yang tinggal di rumah mereka di bagian utara Makassar. Juga ia membawakan uang untuk mereka dari gaji yang ia sisihkan sebagian.

Status Ina sebagai janda pula yang selalu mengakibatkan kandasnya hubungan dengan lelaki yang dicintainya. Keluarga lelaki menolak dan merestui hubungan yang coba ia bina. Setelah cerai dari suaminya ia pernah pacaran dengan tetangganya sendiri. Sayangnya, hubungan mereka tak mendapat restu dari keluarga sang pacar karena status Ina yang janda beranak satu. Sang pacar juga tak berani mengambil resiko untuk meneruskan hubungan mereka tanpa restu orangtua.

Dua kali ia mencoba pacaran tapi selalu kandas dengan alasan yang sama. Statusnya sebagai janda beranak satu menjadi penghalang untuk mendapat restu. Sang pacar malah dinikahkan dengan perempuan lain.

Ina mengaku trauma untuk membina hubungan yang serius. Hingga kini ia tak mau memikirkan untuk menikah lagi. Sebenarnya, keluarganya telah menjodohkan dia dengan salah satu keluarganya. Anaknya, Adam, juga menjadi salah satu pertimbangannya untuk tidak menikah. Pikirnya, belum tentu suaminya kelak mau menerima dan menyayangi anaknya.

Ibunya kemudian meminta agar ia tidak bekerja dan tinggal di rumah untuk meredam omongan tetangga. Namun, cara tu tidak berhasil. Pun, setelah sebulan Ina tak tahan untuk berdiam diri di rumah dan tak melakukan apa-apa. Ia meminta tolong pada seorang tetangganya untuk mencarikan pekerjaan di luar Makassar.

Tetangga itulah yang membawanya ke Bira. Ina mulai kerja di kafe Planet Pantai Bara sebagai pelayan kafe. Pada ibunya, ia mengaku kembali bekerja sebagai karyawan gudang di tempat kerjanya dulu dan tinggal di kos.

Wajahnya yang manis memikat banyak pelanggan. Dua-tiga pelanggan mengajaknya untuk menikah tapi selalu ia tolak karena trauma pernikahan yang gagal. Ia mengaku belum mau serius, untuk saat ini ia hanya ingin sekadar pacaran. “Buat apa menikah kalo nanti akhirnya gagal lagi. Anggapan orang pasti bertambah jelek bila berstatus janda dua kali”

Pernah ia pacaran dengan seorang lelaki berada yang mengajaknya menikah. Namun, keluarga sang pacar lagi-lagi menolaknya dan memandang rendah padanya. Kali ini dengan alasan karena ia pelayan kafe yang identik dengan pelacur. “Padahal mereka tak tahu kenapa kami sampai bekerja begini,” ujarnya. Ina meminta pacarnya untuk bersabar. “Kita akan menikah kalo memang jodoh,” katanya pada sang pacar. Lama kemudian sang pacar menikah dengan perempuan lain.

Menurut Ina, sebenarnya lebih enak bekerja di gudang dibanding sebagai pelayan kafe. Ia hanya bekerja pagi hingga sore dan bisa beristirahat selepas kerja, sedangkan jika sebagai pelayan kafe ia terkadang harus menemani tamu hingga pukul dua atau tiga malam. Kerja sebagai pelayan kafe menurutnya sebuah pekerjaan yang santai tapi menyakitkan. Ia bisa bersantai bila tak ada konsumen saat kafe sepi pengunjung. Menyakitkan, mengingat anggapan orang pada umumnya pada pelayan kafe sangat negatif.

Salah satu kafe di Pantai Bara Kabupaten Bulukumba.

Salah satu kafe di Pantai Bara Kabupaten Bulukumba.

Ina mengaku betah di Sempurna karena perlakuan sang Bos berbeda dibanding tempat lain. “Di sini bebas, tdk dipingit” katanya. Bos perempuan adalah bekas pelayan kafe juga yang bertemu dengan Bos lelaki yang merupakan pelanggan tetapnya. Mereka bertemu di kafe Bintang Pantai Bara, salah satu kafe di Bira. Pelanggan itu kemudian menikahi bos perempuan sebagai istri kedua dan mereka lalu membuka kafe bersama.

Bos perempuan itu pula yang selalu menasehati dan mengingatkan para pelayannya akan masa depan mereka. Bahwa mereka harus selalu menyiapkan sesuatu untuk masa depan karena mereka tak mungkin terus-terusan bekerja sebagai pelayan kafe di Pantai Bara. Apalagi stigma pelayan kafe sangatlah jelek di mata masyarakat.

Meski betah dan menganggap teman-teman sesama pelayan kafe sebagai keluarga, Ina juga mengungkapkan terkadang ada perselisihan bahkan perkelahian sesama pelayan kafe di Pantai Bara. Umumnya disebabkan oleh kecemburuan atau rebutan pelanggan. Sebagai contoh, kadang seorang pelayan memiliki pelanggan tetap, masalah kemudian timbul jika pelanggan itu memilih pelayan lain. Pelayan yang biasanya menemani tamu itu biasanya akan marah karena menganggap tamunya direbut padahal sebenarnya itu adalah pelanggan sendiri.

Ina sendiri mengaku pernah berkelahi sekali karena kasus seperti di atas. Wajahnya yang boleh dibilang paling menarik di antara pelayan-pelayan kafe Sempurna menjadikannya primadona kafe. Hal itulah yang menimbulkan rasa iri sebagian teman-temannya. Padahal menurutnya, ia sangat santai menjalani profesinya. Jika sampai jam 10 malam tak ada konsumen ia biasanya memilih tidur saja. “Buat apa begadang kalau tak ada pelanggan”, ia tak ngotot dalam bekerja.

Sang Bos pun  tak pernah memaksa anakbuahnya untuk bekerja setiap saat. “Kalau kalian rajin bekerja tentu dapat banyak piceng, kalau malas pasti dapat sediikit” Ina mengutip kata sang Bos.  Piceng adalah bahasa Makassar yang berarti tutup botol. Para pelayan kafe di Pantai Bara digaji berdasarkan jumlah minuman yang dihabiskan tamu yang dihitung dari piceng.

Satu piceng bernilai tiga ribu. Jumlah piceng itulah yang akan dihitung lalu dibagi rata untuk pelayan yang menemani tamu. Sebulan, menurut Ina, ia bisa mendapatkan 600 ribu – 800 ribu. Uang sejumlah itulah yang ia kirimkan ke ibunya. Pernah juga sekali ia mengirimkan uang sejuta lebih. Untuk biaya hidup sehari-hari ia menggunakan uang tip yang ia dapatkan dari pelanggan. Biasanya ia rata-rata mendapatkan tip antara 50rb –  100 rb, tip terbanyak yang ia dapatkan sebanyak 300rb.

Untuk kebutuhan sehari-hari para pelanggan cukup berbelanja di warung yang disediakan oleh Bos. Sementara untuk kebutuhan lainnya semacam kosmetik dan pakaian, mereka biasanya pergi beramai-ramai ke kota Bulukumba.

Untuk mendapat piceng  yang banyak, para pelayan kafe biasanya akan membantu pelanggan menghabiskan minuman. Terkadang ia memanggil temannya untuk minum kalau ia melihat pelanggannya tak kuat menghabiskan minuman. Hal ini dilakukan agar minuman laku terjual dan mereka bisa mendapatkan piceng yang banyak.

Tak jarang mereka minum sampai mabuk untuk demi mendapatkan piceng. Jika sudah mabuk banyak tingkah laku para pelayan itu yang lucu-lucu. Ada pula yang yang menangis, seperti Indah yang mungkin terkenang akan kisah hidupnya yang begitu pahit. Ina sendiri memilih mengunci diri dalam kamar sambil membuka semua pakaian agar tak gerah. #

cat: nama narasumber dan nama semua nama kafe di Pantai Bara sudah disamarkan.

Related Posts

About The Author

3 Comments

Add Comment