Cerita Pendek – Setia

Iseng membongkar arsip lama di belantara dokumen tak sengaja saya menemukan sebuah file berjudul Cerpen – Setia. Cerita pendek ini pernah saya tayangkan di blog lama yang sudah terhapus. Saya tampilkan lagi demi sebagai pengingat bahwa saya pernah mencoba menulis cerita pendek.

Dari usaha itu, saya menghasilkan tak lebih dari jumlah jari dalam setapak tangan. Satu cerpen berjudul ‘Calabai! Calabai! Calabai!’ diterbitkan dalam sebuah antologi cerita pendek berjudul ‘Setapak Salirang’ terbitan Insist Press.

Sila membaca, jika berkenan.

 

Setia

 

Pada suatu senja yang cerah dimana langit sore berhiaskan matahari berwarna merah jambu, di tepi pantai di sebuah perahu nelayan sepasang remaja menyesap keindahan garis langit yang diukir oleh seekor elang dan perahu-perahu nelayan.

“Kesetiaan itu seperti apa kak ?” bisik sang gadis.

“Lihat ombak yang bergulung itu,” sang laki-laki mengarahkan pandangannya pada sekumpulan ombak yang terus berkejaran. Mata sang gadis mengikuti tatapan lelakinya, turut memandang pada ombak. Sesekali buih putih hadir di antara hempasan-hempasan ombak yang menghantam sisi perahu mereka.

“Pantai yang menantikan ombak dan ombak yang yang akan selalu kembali ke pantai adalah kesetiaan itu, burung kecilku,” jawabnya lembut. Lelaki itu semakin mendekat dan kemudian mendekap mesra sang gadis.

Perlahan, hembusan nafas menyapu wajah sang gadis. Disentuhnya bibir tipis nan ranum itu dengan ibu jarinya, dan jemari lainnya membelai lembut pipi yang mulai merona semu.

“Bibirmu bagaikan gulungan ombak itu, hempasannya menghantam sisi paling dalam hati ini,” bisiknya. Wajah mereka semakin dekat, semakin rapat. Seakan ingin menyatu, hanya terpisahkan oleh hembusan angin yang memburu dari kedua hidung mereka. Desah nafas saling bersinggungan, menciptakan distorsi pada kicauan camar yang mengiringi orkestra malam.

“Izinkan aku mereguk buihmu, sayang,”

“Jangan kak, aku takut,” ia memalingkan wajahnya tiba-tiba. Kedua telapak tangan tak mampu menutupi wajah itu.

Dan nyanyian camar tak lagi merdu…

Dan malampun perlahan membuka tirai menghamparkan jubah hitamnya pada kekelaman langit malam. Senja yang menghadirkan rasa kehilangan yang perih pada palung hati telah berlalu. Sang Pelukis Agung menggoreskan tinta hitam pada sketsa cakrawala. Kedua remaja itu duduk terdiam, menikmati aroma laut yang menyeruak pada kebisuan malam, hanyut pada pikiran masing-masing. Entah penyesalan, entah perasaan bersalah, entah…

Langitpun terdiam, remaja rembulan menampakkan diri seutuhnya, purnama, hanya menyaksikan dengan kelu. Bintang-bintang yang biasa menemaninya bercanda kehilangan gairah. Kilau putih yang selalu ia pancarkan untuk menemani para pencinta tak ia berikan. Di belahan dunia lain, anak-anak kecil tak bisa lagi menemuinya dan memintanya mengantar ke dunia mimpi.

“Ajarkan aku tentang kesetiaan,” pertanyaan itu diulangnya sekali lagi.

“Rembulan adalah kesetiaan itu. Ia akan selalu hadir untuk menemani sang malam. Ketika malam datang, ia pun menyertainya. Terkadang ia menampakkan diri seutuhnya seperti malam ini, tapi ia pun hadir dalam bentuk lain pada malam-malam berikutnya agar kita tak bosan pada keberadaannya. Bahkan seringkali kita tak dapat menyaksikansenyumnya karena terhalang oleh awan hitam. Toch, ia tak pernah mengeluh atau bersedih meski orang-orang yang menanti mengutukinya. Ia ada tapi tidak nampak. Itulah kesetiaan,”.

“Kesetiaan, sayangku, bukan pada indahnya kata-kata atau manisnya janji. Kesetiaan, seperti halnya cinta, akan kehilangan makna begitu ia diucapkan,”

Lihatlah kawan-kawan kita, para mahasiswa yang selalu mengikrarkan kesetiaan pada rakyat kecil. Mereka, seperti biasanya, akan selalu mengatasnamakan rakyat kecil tapi tak bisa meresapi penderitaan mereka. Tak pernah bisa berempati ketika seenaknya dengan membuat jalanan macet. Jargon-jargon pembelaan dengan indahnya melesat dari mulut yang berbusa, mengalahkan sumpah serapah dari mulut-mulut yang setengah berbisik dari para pengguna jalan yang terganggu.

Belum lagi kesetiaan pada ideologi yang mungkin mereka tak pahami, baru membaca satu buku Marx, sudah mencaci maki orang lain sebagai kapitalis. Mengaku proletar tapi mengenakan baju dan celana berlabel Versace dan makan siang di resto-resto waralaba asing.

“Aku belum ngerti kak, kesetiaan kok begitu rumit sih? sang gadis masih terus bertanya tentang kesetiaan.

“Kesetiaan bukan untuk dimengerti, karena ia tak memiliki definisi dan tak membutuhkan penjelasan apa-apa. Semakin engkau mencarinya, semakin ia tak terpahami,”

Malam semakin renta dan purba. Perahu nelayan berisi sepasang remaja itu bergoyang karena hempasan ombak-ombak kecil pada lautan biru berselimutkan angin malam. Sepasang remaja itu saling berdekapan mengusir dingin yang memeluk mereka. Kehangatan yang dihadirkan oleh sentuhan-sentuhan dan gesekan halus pada kulit mereka mengalirkan buliran pasir pada arteri dan merasuk ke sumsum tulang. Malam semakin renta dan purba ketika kabut yang membungkus sepasang bukit kecil pada sebuah tubuh yang terbaring mulai tersingkap.

“Jangan kak, belum saatnya. Aku nggak mau berbuat dosa,” gadis itu menepis tangan dan mendorong tubuh yang menindihnya.

“Ah, kamu ternyata tak setia. Kamu nggak bersedia menemaniku ke neraka,”laki-laki itu bangkit meninggalkan perahu nelayan yang masih saja terombang-ambing oleh angin dan ombak.

 

*Catatan: saya hanya melakukan perbaikan minor pada kesalahan penulisan tanpa mengubah isi cerita aslinya.

Related Posts

About The Author

Add Comment