cerita dari jogja

kisah ini diambil dari buletin harian yang ditulis Denny Indrayana (penggagas jaringan SEKATA) dan kawan-kawan

1) SeKATA

SeKATA. SukarElawan duKA YogyakarTA. Kami tak siapa-siapa. Hanya
orang-orang yang masih punya tenaga. Ada mahasiswa UGM, UII, UIN.
Mahasiswa Sulawesi Selatan, pegawai Lembaga Ombudsman Daerah,
Indonesian Court Monitoring, Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) dan
lain-lain. SeKATA punya cara kerja sederhana. Mengumpulkan dana dari
dermawan, membelikan sembako di masa tanggap darurat, dan
menyalurkannya ke daerah yang belum tersentuh bantuan sama sekali.

Semua bergerak dengan sukarela, dengan kerja nyata. Tanpa banyak kata.
Hanya demi korban gempa, ber-Seiya Sekata, membangun barisan:
SukarElawan duKA YogyakarTA.

****
(2) Gempa di Negeri Kampung Maling

Pasca gempa Yogya. Dusun Kepek, Jetis, Bantul. Hadirlah bukti nyata
Indonesia, “Negeri Kampung Maling”. Pencuri mengambil kesempatan di
tengah duka gempa sekalipun.

Malam hari, gelap-gulita. Tak ada listrik, hanya diterangi cahaya
rembulan. Di tengah guyuran lebat hujan. Di tenda posko yang seadanya.
Meluncurlah pick up bak terbuka. Berkedok seperti para relawan membawa
bantuan. Nyatanya, para relawan gadungan itu tega, teramat tega.
Mereka tanpa hati mencuri sembilan motor korban gempa yang sedang
diparkir di samping posko bantuan.

“Hanya itu yang tersisa. Kami tak punya apa-apa”.
“Rumah tiada, sanak keluarga menjadi korban. Sekarang kecurian”.
“Teganya mereka ya Allah”.

Di negeri kampung maling, gempa bukan hanya mengetuk para relawan,
tetapi juga para manusia yang tak punya perasaan kemanusiaan.

*****

(3) Kejujuran Kain Kafan

Seorang korban datang dari Klaten. Membawa kabar duka ke sekian.
Warganya 18 orang menuju sakratul maut. Rumah sakit sudah menyerah.
Mereka harus siap-siap dengan prosesi pemakaman ke sekian.

Kain kafan tak tersedia di manapun mata memandang. Meski demikian,
uang 400 ribu diberikan ke seorang relawan. Misinya: cari kain kafan.
Entah siapa sang relawan, kami pun tak kenal. Yang jelas dia datang,
menyatakan siap bergabung dengan SeKATA. Dari pagi hingga sore, tak
ada kabar. Bendahara SeKATA mulai gelisah.

Menjelang Maghrib datanglah sang relawan. Membawa segulung kain kafan.
Dengan muka sumringah.

“saya berputar. Tak ada kafan dimana-mana”.

Akhirnya di daerah Jalan Prambanan km 19 ada Dewa Tekstil, yang sudah
bersiap tutup.

“Mbak saya mau beli kain kafan. Untuk 18 orang korban gempa”.

“Ambil saja Mas. Gratis”. Ada mata sayu, dan senyum sendu seiring
suara tulus itu.

“Alhamdulillah”.

Lalu sang relawan, masih dengan senyum, merogoh saku celananya.
Dikeluarkannya uang 400 ribu. Diserahkannya kembali ke bendahara
SekATA.

“Gratis mbak, ini uangnya tidak jadi terpakai”.

Sang bendahara, tersenyum. Masih merasa berdosa, karena sempat
berprasangka buruk.

“Terimakasih mas”.

“Eh, siapa namamu”.

“Aris”.

Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih ada kejujuran di
negeri kampung maling.

Terimakasih Aris.

*****

(4) Kejujuran Loper Koran

Pasca gempa. Loper koran saya masih rajin berkeliling dengan sepeda ontelnya.

“Pak, bagaimana kondisi panjenengan”.

“Saya di Bantul Pak. Saya tidak punya rumah lagi. Rubuh.”

“Hhhhh….turut berduka Pak. Bagaimana keluarga Bapak”

Tak ada sahutan. Hanya matanya mulai berkaca. Diam. Dan berlalu dengan
sepeda ontelnya.

Saya dan istri terdiam. Terpaku.

Esoknya.

“Pak ini ada bantuan sembako. Bapak bawa dan ini ongkosnya”.

“Jangan Bu…kalau saya terima. Itu hanya untuk saya. Padahal banyak
warga di tempat saya yang membutuhkan. Ibu bawa bantuan dan uang itu
ke lokasi saja. Jangan diberikan kepada saya”.

Ah…betul-betul air di tengah kemarau. Di tengah banyak korban
berteriak meminta bantuan. Sang loper koran dengan wajah lugunya,
suara seraknya, tetap bertahan dengan idealisme sederhananya.

Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih ada kejujuran di
negeri kampung maling.

Terimakasih Pak Paijo.

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.