Berabad lampau, Santo Valentino menukar nyawa dengan pernikahan sepasang kekasih. Sepasang cinta terlarang, karena itu ia membutuhkan tebusan yang teramat mahal. Nyawa sang Santo. Kini, berabad telah lampau sejak pernikahan itu. Kita tak tahu bagaimana alur dan muara kisah mereka, bahkan nama sepasang kekasih itu terlupakan.
Semalam, dalam perjalanan pulang ke rumah, -yang sering dengan bangga kami sebut kantor-, saya melihat kesibukan persiapan sebuah perayaan di salah satu ruang tamu pondokan mahasiswa. Tampak beberapa orang memasang hiasan-hiasan bernuansa merah jambu. Valentine day… hari itu tepat 14 Februari.
Menyaksikan kesibukan mereka, saya tersenyum dan hanyut yang kenangan menggenang. Saya pun pernah seperti mereka, merayakan Valentine Day dengan potongan kue berbentuk “hati <3 [orang-orang pada umumnya menganggap itulah bentuk hati padahal dalam studi anatomi tubuh dan kedokteran bentuk hati tidak seperti itu.]
Yang (mungkin) berbeda, saya merayakannya tanpa tahu alasan untuk itu. Mereka, para mahasiswa itu, tentulah punya segudang alas an yang dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tentu tak begitu sulit mencari referensi tentang pengorbanan Santo Valentino dan Valentine Day di era informasi ini. Mereka pastilah menyadari betul alas an untuk merayakan Valentine Day. Semoga…
Pada tahun pertama di bangku kuliah, saya mulai tahu asal-usul tradisi perayaan itu. Empatbelas februari di tahun yang sama, saya dan kawan-kawan ‘merayakannya’ dengan cara berbeda. Kami menyebar beberapa artikel tentang latar sejarah tradisi Valentine. Tentunya, berbagai kisah tentang Santo Valentino dan sepasang kekasih itu.
Dalam aksi itu, -melalui penyebaran leaflet dan pembacaan puisi,- kami berharap para remaja dan terkhusus teman-teman mahasiswa tidak latah begitu saja mengikuti tradisi yang telah direkayasa sedemikian rupa oleh para pemilik modal/kaum kapitalis. Tentu saja saja untuk kepentingan pengembangan akumulasi modal mereka.
Dalam ingatan akan semua ‘kekonyolan’ itu, saya tersenyum dan tertawa dalam hati. Imaji saya tiba-tiba terbawa pada bayangan Santo Valentino menyaksikan perayaan tradisi itu dari tahun ke tahun di seantero bumi. Saya membayangkan sang Santo melepas jubah dan berkeliling kota dan mal. Melihat langsung bagaimana para pemilik modal memajang pernak-pernik Valentine di etalase-etalase toko, spanduk-spanduk acara Valentine di sepanjang jalan dan halaman-halaman koran. Serupa dengan apa yang para pemilik modal itu lakukan menjelang perayaan keagamaan lain semisal Idul Fitri dengan menghadirkan aneka hiasan ketupat.
Hanya saja, saya tak bisa menebak apa makna senyuman sang Santo itu. Adakah ia tersenyum bahagia atau …. Entah… Apalagi jika ia membaca postingan Valentine saya yang
di sini..