Category Archives: seks

Menjelang Orgasme

orgasm face

a. Posisi
Untuk malam pertama pengantin baru. Tentunya belum terlalu banyak posisi yang ingin dilakukan, walapun misalnya pengantin baru sudah memiliki buku atau cerita pengalaman dari orang lain atau dari film sebagai pengalaman tetap sama pengantin baru mengalami “demam panggung” juga.

Posisi pada pengalaman pertama yang biasa dianjurkan para ahli adalah posisi konvensional domana wanita berada di bawah dan pria diatas. Suami menimpa tubuh istri sepenuhnya bertumpu pada lutut dan siku tangan. Wanita tidak telentang penuh, lututnya diangkat hingga membentuk sudut 90 derajat. Bisa juga kaki wanita digunakan mengapit pinggang suami atau melingkar. Pantang wanita agar lebih tinggi bisa di ganjal dengan bantal. Ketika mencapai orgasme , sebaiknya pantat pria di dekap
erat sang istri. Posisi ini baik juga untuk terjadinya kehamilan.

Pemilihan posisi sebaiknya menjadi kesepakatan bersama, tidak saling memaksa. Jangan sampai karena keasyikan berganti posisi hingga terjatuh dari ranjang. Posisi konvensional diatas cukup baik bagi pengantin baru selain karena mampu memuaskan kedua belah pihak juga bagus begi terjadinya kehamilan.

b. Klitoris.
Perjalanan pemanasan akhirnya sampi daerah klitoris. Sebagai tahap lanjutan menuju penetrasi. Sebaiknya melakukan sentuhan di daerah lain dulu sebelum menuju klitoris. Bisa di awali rangsangan pada daerah paha di atas lutut. Begerak dari bawah ke atas dan diulang berkali-kali tanpa mencumbui daerah klitoris terlebih dahulu.

Bila rangsangan dilakukan dengan lembut dan perlahan akan menimbulkan kenikmatan yang laur biasa. Bagian klitoris dapat diusap berkali-kali dengan gerakan menekan. tanagn lain serta mulut bergerak menuju daerah
lain.

Pemijatan klitoris diusahakan jangan sampai membuat gesekan. untuk meyakinkan agar tidak terjadi gesekan pergunkan pelumas. Pelumaas alami sebenarnya dihasilkan oleh vagina ketika sudah mencapai tahap terangsang. Bisa juga dipakai air ludah. Pelumas buatan dengan mudah tersebar dan terserap oleh bagian lain, kecuali pelumas alami yg di hasilkan vagina, tersedia terus menerus.

c. Meningkatkan pelumasan.

Bagaimana melalukan pelumasan pada wanita agar bagian genitalnya menjadi licin? Pemanasan yg tepat agan meningkatkan pelumasan pada istri. Berbicara dan mengoda pikiran selama pemanasan relatif penting untuk meningkatkan pemanasan. Kalau sang istri semakin terangsang baik tubuh maupun pikiran dan perasaannya maka secara alamiah akan mengeluarkan cairan. Suami bisa merangsang perasaan dan pikiran sang
istri dengan memainkan atau mengoda perasannya selama mencumbui bagian genitalnya. Menekan secara perlahan vagina akan meningkatkan produksi cairan.

Berbicara dan merespon dapat memberi manfaat yg lebih besar selama aktivitas bercinta. Tapi kebanyakan yang terjadi adalah kebalikannya. Kebanyakan pasangan yang tidak berpengalaman melakukan aktivitas bercinta tanpa keluar sepatah kata pun saat bercinta. Akibatnya jarang dapat mengetahui bagian mana yang paling disukai pasangannya.

Lewat percakapan selama bercinta akan terungkap bagian mana yang paling disukai dan memberikan kepuasan sehingga dapat diulang lain waktu. Hal ini akhirnya dapat memperpanjang kenikmatan atau kepuasan bersama karena terjadi saling megerti kesukaan pasanganya.

Dengan menekan kulit bagian atas perut, kulit menjadi tegang dan lebih sensitif. Tangan lainnya tentu mencumbu bagian klitoris dengan beragam usapan. dari usapan lembut, kemudian kuat, naik turun di sekitar lingkaran. Lewat cara ini suami dapat mengiring istrinya menuju orgasme.

d. Penetrasi.
Perasaan yang dialami wanita saat-saat awal penetrasi bisa sangat melonjak gairahnya. hal paling di ingat adalah saat akan melakukan penetrasi, pastikan vagina istri sudah benar-benar basah. Jika kondisi vagina belum basah berarti istri belum terangsang gairahnya dan bisa menyakitkan istri saat melakukan penetrasi jika kondisi vagina masih kering. Rasa perih dan tidak nyaman ini bisa membunuh gairag istri yang sedang menuju puncak. Adalah sangat penting untuk mengetahui apakah
istri sudah terangsang dan siap menerima penetrasi.

Penetrasi awal memegang peranan penting dalam kendali gerakan berikutnya menuju puncak. Bisa dicoba dengan merangsang bagian gerbang vagina dengan geseran ujung penis untuk menimbulkan sensasi.
Jangan samapi buru-buru memasukkan penis secara mendalam. Penetrasi bisa dilakukan dengan memasukkan penis secara perlahan-lahan. Bahkan ditarik lagi lalu memasukkan lagi secara perlahan dan lebih dalam. Penetrasi pertama dengan cara perlahan akan menimbulkan rangsangan yang sangat kuat untuk menuju puncak.

Perubahan atau pergantian posisi jangan dilakukan secara mendadak bisa menghambat perjalanan istri yang sedang menuju puncak. Bahkan bisa mematikan gairahnya dan harus mengulang lagi dari awal. Gangguan laiunnya bisa berasal dari suara ribut di luar atau derik pintu atau atap rumah. Saat seperti ini suami harus mampu menenangkan istri untuk tidak merasa khawatir. Sehingga perjalanan menuju puncak untuk mencapai orgasme tidak terganggu.

Menjadi kekasih atau pasangan yang baik tidak harua mengejar kenikmatan untuk diri sendiri. Namun harus mampu menciptakan gairah menggebu pasangannya sehingga selalu bergairah untuk di ajak bercinta.
Memberikan kepuasan akan kebutuhan, keinginan, dan fantasi seksual pasangannya. Membuatnya terlupa dengan apa yang terjadi di dunia ini dan terlena bersama dalam kenikmatan yang terasa makin lama.

III. Setelah Kenikmatan.
Ada perbedaan mendasar antara pria dan wanita mengenai tujuannya dalam bercinta. Bagi pria tujuan dari bercinta adalah untuk mencapai orgasme. Hal ini terlihat dari sebagian besar pria untuk membalikan badan atau langsung tidur seusai mencapai orgasme.

Pada wanita tujuan dari bercinta bukanlah sekedar untuk mencapai orgasme. Bercinta juga sebagai pengalaman total ketimbang aktivitas berdua secara mekanis. wanita lebih pada perasaan dicintai dan diterima.
Wanita masih ingin merasakan cinta dari suaminya setelah melewati masa orgasme menuju tahap resolusi, tahap setelah merasakan kenikmatan.

Wanita akan merasa terlukai perasaannya, bahkan merasa tidak dipedulikan jika suami tidak menunjukkan rasa mencintai yang dalam karena langsung tidur sehabis bercinta tanpa memperdulikan dirinya yang masih membutuhkan dekapan kasih sayang. Agar tidak terkesan demikian, seorang suami seharusnya tidak langsung menbalikkan badan atau
langsung tengkurap dan tidur sehabis orgasme. Saat seperti itu suami dapat mendekap istrinya untuk menuju ke alam mimpi setelah lelah sehabis bercinta. Bisa juga berdekapan sambil ngobrol untuk berbagi mimpi, harapan dan aspirasi.

Tahap ini bisa juga dilakukan dengan memegang tangan istri untuk ditaruh di pipi untuk terlelap bersama. Tidak diperlukan lagi belaian seperti saat pemanasan tetapi cukup belaian yang memberikan perasaan tenang dan kasih sayang. Dengan demikian suami akan memberikan kesan tidak hanya membutuhkan istrinya di saat bercinta saja. Hal ini akan menimbulkan kesan cinta yang mendalam kepada suami. Sehingga istri
akan bergairah lagi mengulang malam pertama yang begitu berkesan,tanpa kecanggungan, kekakuan, ataupun bentuk-bentuj keraguan dan ketakutan lainnya.

Jika pasangan pengantin baru melewatkan malam pertamanya dengan cara seperti diatas, di jamin malam pertama yang dilalui menjadi malam pertama yang penuh kenangan, kenikmatan, berkesan dan cinta yang membara. Hal ini akan menumbuhkan keinginan untuk selalu mengulangulang pengalaman pertama yang sangat berkesan ini.

Kunci Sukses Malam Pertama # 1


Malam pertama bagi pasangan pengantin baru merupakan saat yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Hal ini terjadi karena akan menjadi pengalaman pertama pasangan tersebut dalam aktivitas berhubungan seksual. Bisa juga lantaran kesalahan persepsi akibat ketidak tahuan pada aktivitas ini. Ataupun kurangnya pengetahuan pada organ-organ seks yang berperan dalam aktivitas ini.

Malam pertama tidak sekedar hubungan seks dengan pasangan saja. Malam pertama lebih menunjukkan perilaku bercinta sepasang anak manusia yang telah diperbolehkan oleh agama dan norma yang ada. Jika malam pertama ini “terpeleset” pada aktivitas hubungan badan saja, tidak mustahil pengalaman malam pertama ini akan menjadi pengalaman yang menyakitkan atau setidaknya tidak mengesankan bagi pihak istri. Bisa juga akan mengubah pandangan tentang aktivitas bercinta sebagai pasangan suami istri. gairah terhadap hubungan suami istri bisa berkurang dan bahkan frigid.

Pada aktivitas sekedar hubungan seks saja, yg terjadi hanya pelampiasan nafsu birahi pada pasangan. Dasar cinta yang di bentuk sama sekali tidak tercermin. Semua Serba cepat. Hanya menjangkau daerah dada dan genital saja untuk langsung tancap gas. Istri hanya menjadi obyek pelampiasan nafsu saja. Ketika istri masih canggung dan belum benarbenar siap, sang suami sudah membabi buta melampiasakan nafsunya.

Sementara pada aktivitas bercinta yang sesungguhnya, sinar cinta antar dua anak manusioa benar-benar terpancar dalam aktivitas tersebut. Aktivitas bercinta menjadi media bersatunya cinta mereka dengan sepenuh jiwa. Dalam kepasarahan untuk saling memberi dan menerima, tidak hanya untuk kenikmatan diri sendiri. Aktivitas inipun terdorong atas dorongan dan kesadaran dari kedua belah pihak. Tidak saling memaksakan.

Menyiasati malam pertama agar berjalan sesuai harapan, kedua belah pihak sebelum mengadakan aktivitas bercinta sebaiknya membaca bukubuku tentang aktivitas ini. Atau bertanya pada “ahlinya”. Ini dilakukan agar tidak terjadi kekonyolan, kelucuan, kekakuan dan sebagainya yang bisa menghambat acara malam pertama yang penuh kenangan.

Bagi sebagian kalangan, malam pertama adalah malam pertama kalinya mereka tidur bersama setelah mereka resmi menikah. Malam pertama ini tentunya tidak akan indah untuk mereka yang sudah melakukan hubungan suami istri secara “ilegal” atau pra nikah yang seharusnya bisa di hindari mengingat norma masyarakat dan terlebih norma agama yang melarang keras hal tersebut.

Di daerah tertentu mungkin tidak terlalu memperhatikan keadaan pengantin wanita saat menggadakan akad nikah dan pesta. Namun, ada suatu daerah yang benar-benar memperhatikan siklus kewanitaan pengantin wanita sedang haid. Pilihan hari bukan tanpa alasan. Ketika pengantin wanita sedan haid, secara otomatis pasangan pengantin tidak dapat melaksanakan aktivitas malam pertamanya.

Akhirnya, aktivitas bercinta pertama ini bisa tertunda beberapa hari sampai haid selesai. Tertundanya aktivitas seks ini, bisa menjadi saat saling mengenal pasangan secara lebih mendalam lagi. Hingga saat bersama dalam satu ranjang bisa menghilangkan ketegangan, kecanggungan dan kekakuan saat melakukan aktifitas bercinta untuk pertama kalinya setelah pengantin wanita tidak haid lagi.

Ketika kedua-duannya sudah siap dalam tentang waktu itu, keduanya bisa melepaskan rasa penasaran dalam mengarungi percintaan dengan semangat muda yang membara. Kondisi sang istri subur setelah melewati haidnya. Dengan demikian kemungkinan terjadinya kehamilan semakin besar. Sebagai buah dari cita-cita membentuk rumah tangga. Untuk melewati malam pertama dengan sukses, sang suami dapat melakukan beberapa cara agar sang istri melewatinya dengan sukses pula. Hingga menjadi kenangan yang sulit terlupakan.

Artikel di atas belum memuaskan? Baca kiat dan tips seks lainnya di sini 

ASSIKALAIBINENG, POLITIK SEKS LELAKI BUGIS

Oleh :Wahyuddin (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas)

sumber http://www. fajar.co.id/index.php?act=news&id=56733

Baru � baru saja sebuah buku yang berjudul, Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis yang ditulis oleh kawan saya, Muhlis Hadrawi menyedot perhatiantian publik.

Buku ini memuat tentang tata cara berhubungan seks, mulai dari lakuan hingga doa-doa yang seharusnya dilafalkan. Buku tersebut mencuplik beberapa naskah lontaraq yang telah diketahui merekam kearifan lokal masyarakat Sulawesi-Selatan.

Naskah lontaraq yang dimuat dalam buku tersebut sebagai sebuah teks tentu terbuka untuk ditafsirkan, sehingga menghindari otoritas pemaknaan teks tersebut.

Demikian juga bahwa sebuah teks dalam dirinya tidaklah mengandung netralitas dan tentu memiliki kepentingan yang karenanya juga memuat sebuah ideologi tertentu. Tulisan ini hendak memperlihatkan ideologi apa yang bersemayan di balik teks assikalaibineng tersebut.

Seks dan Budaya Patriarki

Dalam hampir keseluruhan isi naskah memperlihatkan bagaimana pola relasi antara laki laki- dan perempuan dibangun. Laki-laki ditempatkan pada posisi yang superior sedangkan perempuan diletakkan pada posisi inferior.

Hal tersebut misalnya dapat kita lihat pada salah satu alinea di teks B “�.Mupakkitai mata atimmu ita al�mu A/Muita lapaleng Ba-I makkunraimmu��”, (Tatapkanlah mata hatimu, lihatlah dirimu Alif dan lihat huruf Ba istrimu).

Teks tersebut dalam pandangan penulis sangat subordinatif. Laki-laki menjadi yang pertama dan perempuan menjadi yang kedua. Bagi masyarakat yang memaknai secara harfiah tentu menjadikannya dasar legitimasi kekuasaan laki � laki terhadap perempuan laiknya sebuah kompetisi yang pertama tentu lebih unggul dibanding yang kedua.

Pada sepanjang naskah tidak ada sebuah konstruksi yang menempatkan perempuan menjadi Alif dan laki-laki menjadi Ba. Tentu hal tersebut bukan hal yang disengaja melainkan hal tersebut merupakan sebuah strategi teks untuk menempatkan relasi laki-laki dan perempuan.

Teks Assikalaibineng ini penulis lihat tidak sensitif gender karenanya sangat bias gender. Mitos superioritas laki-laki dibangun melalui teks-teks semacam ini.

Pandangan kaum strukturalis yang melihat bahwa posisi Alif dan Ba tidak harus dilihat dalam semangat kompetisi tetapi sebagai jalinan elemen yang membentuk sebuah struktur sehingga tidak ada yang lebih superior di antaranya tak dapat diterima. Kelemahan kaum strukturalis yang tidak melihat bahwa terdapat kekuasaan yang tidak tampak (metafisik) yang mengarahkan orang berpikir dikotomis.

Sebut saja tangan kanan dan tangan kiri memang secara substansi menjadi satu kesatuan fungsional yang tak dapat dipisahkan, namun ketika orang diharuskan memilih maka orang cenderung memilih tangan kanan karena kanan selalu berasosiasi dengan hal-hal yang positif sedangakan sebaliknya kiri biasanya berasosiasi dengan hal-hal yang negatif.

Demikianlah analogi pemosisian laki-laki sebagai alif dan perempuan sebagai ba penulis lihat sebagai pandangan yang mensubordinasi perempuan dan menempatkannya ke dalam ruang yang inferior. Penulis mencurigai jalinan teks-teks semacam inilah yang mengonstruksi masyarakat Bugis-Makassar mensubordinasi perempuan dan menjadi dasar budaya patriarki dalam masyarakat kita.

Secara terstruktur, perempuan ditempatkan dalam posisi yang pasif dalam teks assikalaibineng ini. Hal tersebut dapat kita lihat bagaimana kuasa laki-laki makkarawa (menyentuh) sedangankan perempuan sebagai pihak yang ikarawa (disentuh),

laki-laki yang mencium, membaringkan, meniup ubun-ubun dst, sedangkan perempuan sebagai pihak yang dicium, dibaringkan dan ditiup ubun-ubunnya. Laki-laki digambarkan sebagai pihak yang sangat aktif dalam berhubungan seks sementara perempuan sebagai pihak yang pasif.

Penggambaran semacam ini merupakan refleksi dari realitas masyarakat kita yang melihat perempuan sebagai objek dari kehendak laki-laki. Selain sebagai penggambaran realitas, pemahaman seperti tersebut mengonstruksi masyarakat untuk menerimanya sebagai sebuah kewajaran, alamiah sehingga tidak perlu dikritik dan dicurigai sebagai wacana penguasaan laki-laki terhadap perempuan.

Dikotomi aktif-pasif dalam penggambaran hubungan seksual laki-laki dan perempuan tersebut membawa implikasi lebih luas dalam ranah kehidupan yang lain. Pihak yang aktif tentulah berasosiasi kepada hal yang penuh semangat, kerja keras dan lain semacamnya sehingga laki-laki tampil menjadi perwira dalam pertarungan di ruang publik.

Sementara itu pihak yang pasif dalam hal ini perempuan berasosiasi dengan kelembutan, kesabaran dan lain semacamnya sehingga ditempatkanlah dalam ranah privat rumah tangga. Karena itu tidaklah mengherankan jika perempuan sedikit mengalami “kegagapan” jika harus bertarung diruang publik karena mereka telah terbiasa dengan konstruksi pihak yang pasif bahkan dalam berhubungan seks.

Karena itu tampaknya dimasa yang akan datang, mengaharapkan perempuan tampil setara dengan laki-laki pada sektor publik harusalh dimulai dengan mendemokratisasi kehidupan seks di rumah tangga sebagai ranah kontestasi terkecil.

Seks dan Disiplin Tubuh

Dalam teks assikalaibineng ini juga digambarkan beberapa tata aturan sebelum dan sesudah melakukan hubungan seks. Sebelum memulai disyaratkan untuk mengambil air wudu, lalu membaca doa, “laa tadrikul absara wahuwa yadrikuh laa absaru wahuwa lisainul habiir” sembilan kali lalu dilanjutkan membaca, “kulhuwallahu” tiga kali dan seterusnya.

Foucoult dalam bukunya The History of Sexuality berusaha membongkar apa yang disebut “hipotesis represif”. Salah satu yang disebut represif adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk melakukan kontrol atas tubuh dengan dalih disiplin.

Tata aturan berhubungan seks yang demikian runtut dalam teks assikalaibineng penulis lihat sebagai upaya pendisiplinan tubuh yang dilakukan oleh rezim-rezim pengklaim kebenaran. Upaya tersebut dilakukan untuk mengontrol masyarakat agar patuh terhadap kuasa. Siapa yang punya kuasa adalah yang punya pengetahuan.

Dalam konteks tersebut, mungkin para bangsawanlah yang memiliki kuasa karena merekalah yang memiliki pengetahuan tersebut atau juga para orang tua yang memiliki kuasa karena merekalah yang mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang hal tersebut.

Upaya mendisiplinkan tubuh dalam berhubungan seks merupakan sebuah cara dalam menggapai peradaban karena peradaban berarti displin dan disiplin pada gilirannya menyatakan kontrol atas inner drives. Kekuasaan yang mendisiplinkan tubuh tersebut menjelma menjadi kekuatan pengekang ( constraining force).

Dalam hal tersebut Foucoult melihat bahwa tidak seharusnya kekuasaan mengekang kesenangan, karena itu seksualitas tidak difahami semata-mata sebagai sebuah dorongan yang harus dikekang.

Yang terjadi haruslah sebaliknya dimana aktifitas seksual dilihat sebagai “ruang transfer yang penuh sesak bagi relasi-relasi kuasa, sehingga melalui energi besar yang dihasilkannya seksualitas dapat dijadikan sebagai fokus kontrol sosial.

Pendisiplinan tubuh dalam berhubungan seks berkaitan erat dengan mitos “kenikmatan”. Sesuatu yang dilakukan dengan sangat disiplin didorong oleh hasrat pencapaian kenikmatan yang boleh jadi kenikmaan tersebut hanyalah ilusi.

Roland Barthes melihat mitos sebagai perluasan makna denotasi dan melampaui konotasi. “Kenikmatan” yang secara denotatif dapat dicapai melalui praktik persetubuhan biasa berkembang maknanya dan cenderung menjadi ilusi ketika harus mengikuti tahapan-tahapan yang disyaratkan dalam teks assikalaibineng. Pada tahap inilah kemudian kenikmatan seksual tersebut menjadi mitos.

Mitos seks dalam assikalaibineng pada satu sisinya juga menafikan perkembangan seksualitas masyarakat modern. Perkembangan masyarakat modern yang menjadi heteroseksual, biseksual, lesbian dsb tidak mendapatkan tempat dalam kitab persetubuhan bugis ini.

Ini mungkin berarti bahwa realitas seksual selain yang dipaparkan dalam teks dianggap tidak wajar alias menyimpang. Pandangan tersebut lagi-lagi memosisikan diri sebagai pengklaim absolut realitas kebenaran, padahal secara jujur dewasa ini hadir juga realitas-realitas seksual lain yang suaranya sayup-sayup terdengar.

Pandangan posmodern menghendaki diakuinya realitas-realitas lain yang dianggap berbeda karena dasar pluralisme adalah penghormatan dan pengakuan terhadap sesuatu yang lain. Merayakan kemajemukan seksual harus kita lakukan dengan tidak mencoba mendominasi wacana seksual sebagai satu-staunya realitas yang absah.

Penggambaran hubungan seksual seperti yang dipaparkan dalam naskah assikalaibineng harus diterima dalam kerangka bukan sebuah realitas tunggal dan mutlak dan paling benar melainkan sebagai salah satu bagian dari realitas-realitas seksual lain yang kehadirannya saling menghargai.

Demokrasi seksual

Anthoni Giddens dalam bukunya Transformation of intimacy mencatat adanya perubahan sikap perempuan dalam kehidupan seksual mereka. Perempuan dewasa ini telah mengalami banyak penyadaran tentang perlunya kesetaraan dalam hubungan seksual.

Kasus kekerasan seksual dalam rumah tangga yang muncul dimana korbannya kebanyakan perempuan menjadi isyarat bahwa perempuan mulai berani untuk membuka ruang privat mereka yang semula dianggap tabu.

Demokratisasi ruang privat sekarang menjadi imperatif bagi masyarakat untuk menghasilkan kesetaraan di ruang publik. Dalam konteks seksual, demokratisasi dimaksudkan untuk menciptakan keadaan dimana orang dapat mengembangkan potensi dan mengekspresikan hasrat mereka.

Jadi jika pada teks assikalaibineng peremepuan cenderung menjadi obyek karena pasif, perempuan menjadi objek yang diraba, dicium dibaringkan dst bisa juga dibalik agar ada suasana seksual yang juga memberikan kesempatan kepada perempuan untuk memegang, meraba, mencium pasangannya tanpa ada stigma tak beretika dan semacamnya.

Untuk mewujudkan demokratisasi dalam kehidupan seksual, pasangan harus saling berdialog agar saling memahami keinginan. Ilusi kenikmatan seksual yang seharusnya dicapai dalam hubungan seksual harus digeser paradigmanya menjadi penerimaan keadaan pasangan apa adanya. Hubungan yang tulus, komitmen menjadi kata kunci untuk memulai saling terima antar pasangan.

Oleh karena itu, hubungan seksual terjadi antar pasangan terjalin berdasarkan konteks pasangan tersebut. Kenikmatan seksual terjadi jika terjadinya situasi kesalingterimaan antar pasangan, tidak ada yang mendominasi dan tidak ada yang lebih di antara pasangan. Dengan dasar itulah relasi laki-laki dan perempuan dapat terbangun dengan setara. (0411-861720; Email yudiunhas@yahoo.com)


pesan ayah dan assikalaibineng

Semasa hidupnya, bapak saya almarhum selalu berkata: “Suami perempuan itu tak tahu cara merawat istri” ketika melihat perempuan yang terlalu gemuk atau terlalu kurus. Beliau juga mengatakan bahwa suami bisa menentukan gemuk tidaknya istrinya melalui cara-cara tertentu, semisal pijatan di alat kemaluan istri. Sebagai anak yang beranjak dewasa ketika itu, saya menganggap hal itu sekadar guyonan saja dan tidak pernah menanggapi serius. Tak pernah terpikir untuk mengetahui lebih banyak.

Setelah beliau meninggal, tinggallah ibu yang harus bekerja keras untuk menghidupi kami anak-anaknya. Usia Ibu kini menghampiri 50an tapi tetap memiliki tubuh yang proporsional. Tubuhnya tak menjadi gendut seperti kebanyakan ibu-ibu seusia beliau. Juga tak kurus meski waktu makan dan tidurnya tak teratur. “Ini semua karena ayahmu pintar mengurus istri” jawab ibu ketika saya menanyakan bagaimana ibu memelihara kondisi tubuh. Jawaban itu mengingatkan saya pada cerita-cerita ayah tentang suami yang pintar dan bodoh.
Tahun berlalu dan saya bersama teman-teman di kampus merintis sebuah penerbitan yang kami namakan Penerbit Ininnawa. Setahun lalu, kami menerima naskah Assikalaibineng dari Muhlis Hadrawi, seorang ahli lontarak yang juga mengajar di Universitas Hasanuddin. Dalam naskah buku itu, Muhlis Hadrawi menuliskan apa yang ia temukan dalam lontarak yang selama ini ia geluti.
Dalam naskah-naskah lontarak itu ia menemukan entri yang membahas pendidikan seks yang dimiliki orang bugis. Pengetahuan seks yang dipraktikkan masyarakat Bugis sejak lama, yang diabadikan dalam teks lontara’ dan tersebar di banyak pelosok Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Kini naskah itu telah jadi buku.

INTI dari sekian banyak teks lontarak dalam Assikalaibineng itu mencakup konsep hubungan seks, pengetahuan alat reproduksi, tahap hubungan seks, teknik rangsangan, doa dan mantra seks, gaya per¬setubuhan, teknik sentuhan titik sensual perempuan, penentuan jenis kelamin anak, pengendalian kehamilan, waktu baik dan buruk dalam berhubungan, tata cara pembersihan tubuh, hingga pengobatan kelamin.
Buku itu mengingatkan saya pada ayah, betapa banyak hal yang bisa saya bisa pelajari dari beliau semasa hidupnya. Sayangnya saya lalai. Banyak hal yang saya sesali. Termasuk tak menyimpan baik-baik peninggalan beliau berupa kaset-kaset pakkacaping berisi kisah-kisah lontarak ataupun cerita-cerita rakyat bugis. Untunglah saya berkesempatan membaca Assikalaibineng sebelum beredar di tokobuku.
Saya membagi tulisan Terapi Kelingking Untuk Tetap Langsing yg disarikan dari buku Assikalabineang itu di sini.

Mau Anak Putih, Bersetubuh Setelah Jam 5 Subuh [Assikalaibineng, kamasutra versi bugis (6-selesai)]

TEKNIK bertahan dalam persetubvuhan menjadi hal yang sangat penting dan mendapat tempat khusus dalam Assikalaibineng. Dan sekali lagi, pihak suami menjadi faktor kunci.

Kitab peretubuhan Bugis ini tahu betul bahwa pihak suami senantiasa lebih cepat menyelesaikan hubungan ketimbang perempuan. Menenangkan diri, sabar, konsentrasi, dan memulai dengan kalimat taksim amat disarankan sebelum foreplay.

Pengen Dapat Duit Dengan NgeBlog? Daftar di Sini

Manuskrip Assikalaibineng amat mementingkan kualitas hubungan badan ketimbang frequensi atau multiorgasme. Assikalaibineng adalah ilmu menahan nafsu, melatih jiwa untuk tetap konsentrasi dan tak dikalahkan oleh hawa nafsu.
Namun pada intinya, Assikalaibineng bukanlah lelaku atau taswawwuf untuk berhubungan badan, lebih dari itu assikalaibnineng adalah tahapan awal untuk membuat anak yang cerdas, beriman, memiliki fisik yang sehat. Inti dari ajaran ini adalah bagaimana membuat generasi pelanjut yang sesuai tuntutan agama.
(h.151) Banyak teori seksualitas mengungkapkan bahwa potensi enjakulasi sebagai puncak kenikmatan seksual bagi laki-laki lebih tinggi ketimbang perempuan. Perbandingannya delapan kali untuk suami, dan satu kali bagi istri.
Bahkan, dapat saja seorang istri tidak pernah sekalipun merasakan orgasme seteles sekian kali, bahkan sekian lama hidup berumah tangga. “Assikalaibaineng, mengkalim bahwa ini terjadi karena pihak suami sama sekali tak tahu atau bahkan tak mau tahu dengan lelaku seks yang mengedepankan kualitas.”
Mengutip sebuah buku lelaku seks sesusi ajaran Islam, yang diterbitkan di Kuala Lumpur, dalam catatan kaki di halaman 164, Muhlis mengomentari “…Hampir 99 persen lemah syahwat (kelemahan nafsu jantan) adalah timbul dari sebab-sebab kerohanian. Emonde Boas, seorang dokter asal Amerika bahkan pernah melakukan penelitian, dari 1400 lelaki yang didata mengidap penyakit lemah syahwat, hanya tujuh yang lemah karena sebab-sebab jasmani, yang lainya karena sebab rohani atau psikologis,”
Dia melanjutkan, “kejiwaanlah yang menyebabkan faktir terbesar sekaligus penggerak seseorang melakukan hubungan seks, sedangkan tubuh dan alat reproduksi hanya merupakan alat pemuasan bagi melaksanakan kehidupan kejiwaan seseorang.
Sedangkan teknik mengelola nafas dengan zikir, cara penetrasi, dan menutup hubungan dengan pijitan ke sejumlah titik rangsangan perempuan, dan menemani istri tertidur dalam satu selimut atau sarung merupakan bentuk akhir menjaga kualitas hubungan.
Pengetahuan praktis seperti waktu yang baik dan kurang baik untuk berhubungan badan juga secara rinci diatur dalam kitab ini. “Tidak sepanjang satu malam menjadi masa yang tepat untuk bersetubuh.” (hal.166)
Terdapat keterkaitan waktu bersetubuh dengan kualitas anak yang terbuahi, seperti warna kulit anak. Untuk memperoleh anak yang berkulit putih, peretubuhan dilakukan setelah isya. Untuk anak yang berkulit hitam, persetubuhan dilakukan tengah malam (sebelum shalat tahajjud), anak yang warna klitnya kemwerah-memerahan dilakukan antara Isya dan tengah malam.
Sedangkan untuk anak berkulit putih bercahaya, bersetubuhan dilakukan dengan memperkirakan berakhirnya masa terbit fajar di pagi hari. Atau lebih tepatnya dilakukan usai solat subuh, antara pukul 05.15 hingga pukul 06.00 jika itu waktu di Indonesia. Ini sekaligus supaya mempermudah mandi junub.
Secara khusus kitab ini adalah menuntut pihak suami sebagai inisiator dan mengingatkan kepada istri, agar menyesuaikan waktu tidur dengan keinginan melakukan persetubuhan. Sebab ternyata, persoalan waktu amat berdampak secara psikologis maupun biologis, terutama pihak istri.
Teks assikalaibineng secara spesifik menyebutkan adanya kaitan waktu tidur istri dengan ajakan suami bersetubuh.
Assikalaibineng A hal.72-73 menyebutkan, “bila suami mengajak istri berhubungan saat menjelang tidur, maka ia merasakan dirinya diperlakukan [penuh kasih sayang (ricirinnai) dan dihargai (ripakalebbiri). Akan tetapi jika istri sedang tidur pulas, lantas suami membangunkannya untuk bersetubuh, maka istri akan merasa diperlakukan laiknya budak seks, yang disitilahkan dengan ripatinro jemma’.
Soal bangun membangunkan istri yang tidur pulas, assikalaibineng juga memberikan cara efektif. Kitab ini sepertinya tahu betul, bahwa jika usai orgasme sang istri biasanya langsung tertidur. Untuk menuntnjukkan kasih sayang, maka usai berhubungan lelaki bisa mengambil air, lalu mercikkan satu dua tetas ke muka istri. Setelah istri terbangun, lelaki memberikan pijitan awal di antara kening, mata, menciumim ubun-ubun, memijit bagian panggul lalu bercakap-cakap sejenak. Percakapan ini bagi istri akan selalu diingat dan membuatnya. (thamzil thahir)Tribun Timur | Kamis, 22 Januari 2009 | 00:52 WITA

Terapi Kelingking Untuk Tetap Langsing [Assikalaibieng, Kamasutra Versi Bugis (5)]

Lapawawoi Karaeng Sigeri, Raja Bone yang terkenal cerdas, termasuk seorang suami yang mempelajari dan mengamalkan ajaran assikalaibineng. Stidaknya fakta ini dikonfirmasikan dari lontara Mangkau Bone Ke-31 ini yang secara rapi terdokumentasikan di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta.

Manuskrip asli ini pulalah yang menjadi satu dari 44 lontara rujukan utama Muhlis Hadrawi, penulis buku Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis, yang diterbitkan Penerbit Ininnawa, Makassar (2008).
Pengen Dapat Duit Dengan NgeBlog? Daftar di sini
Secara teknis buku ini terdiri dari 189 halaman. Sebanyak 64 halaman terdiri dari transliterasi asli “kitab assikalaibineng” lontara ke dalam abjad melayu berikut terjemahannya. Inilah matan asli dari kitab tassawupe allaibainengengeng yang merupakan peninggalan leluhur Bugis-Makassar yang teleh terpengaruh dengan ajaran Islam.
Karena buku ini merupakan disertasi untuk meraih gelar magister bidang filologi (ilmu tentang Bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa dalam bentuk manuskrip asli) di Universitas Indonesia, maka 51 halaman di bagian awal lebih banyak mendiskripsikan latar belakang, asal usul naskah, dan metodologi penelitian.
Sedangkan di bagian akhir, Tata Laku Hubungan Suami Istri, isinya lebih merupakan ringkasan, analisis, sekaligus komentar penulisnya, yang diperkaya dengan literatur penunjang. Namun, bagi pembaca awam yang tidak lagi mengerti Bahasa-bahasa Bugis terhadulu, justru bab akhir inilah yang membatu mendapatkan intisari dari manuskrip tua, yang hingga awal decade 2000, masih beredar di kalangan elite terbatas, masyarakat kita.
Kepemilikan naskah ini oleh Lapawawoi yang kini dimuseumkan di Perpustakaan Nasional, tulis Muhlis, mempertegas sirkulasi ajaran ini selain dimiliki kalangan ulama/cendekia pesantren, pengetahuan ini juga milik bangsawan dan raja-raja Bugis Makassar.
Selain pengetahuan bersetubuh ala bugis, Kitab Persetubuhan Bugis, juga mengajarkan sistem rotasi waktu yang baik untuk berhubungan, dan tata cara perawatan tubuh bagi pihak suami dan istri. Tata laku dan tahapan ini semua dilakukan dalam satu rangkaian dan satu tempat
Untuk melangsingkan tubuh dan memperhalus kulits istri misalnya, suami tak perlu repot-repot menyisihkan uang dan mengantar pasangannya ke pusat kecantikan tubuh. Seperti spa center, steam room Jacuzzi, atau membayar kapster salon.
Di kitab mengajarkan rutinitas kesederhanaan namun tetap dalam bingkai kerahasiaan, tidak diketahui oleh orang banyak.
Untuk menjaga kebugaran tubuh, assikalaibineng misalnya merekomendasikan di kamar tidur dan massage (pijitan) rutin pasca-bersetubuh. Sedangkam untuk perawatan kulit, juga tak perlu cream pelembab atau whitening motion,
Kitab ini mengajarkan manfaat penggunaan “air mani” sisa yang biasanya meleler di bagian luar babang urapa’ (vagina) istri dan kalamummu (zakar) pihak suami dan sejumlah mantra bugis-Arab, secara subtansial lebih merupakan niat, sekaligus ekspresi kasih-sayang suami kepada istri pasca-berhubungan,
Kitab ini menyindir perilaku suami yang langsung tidur lelap atau langsung meninggalkan kamar tidur, sementara istri belum mendapatkan kepuasan, biasanya akan membuat wanita terhina. Di kitab ini. Perlakuan itu diistilahkan dengan, teretta’na narekko le’ba mpusoni (adab setelah persetubuhan).
“(h.75) . Rekko mangujuni ilao manimmu takabbereno wekka eppa/urape’ni alemu, nupassamangi makkeda; alhamdulillahahi nurung Muhammad habibillah./ nareko purano mualai wae, muteggoi bikka tellu, nareko purano, mualani minyak pasaula, musaularenggi kutawwamu apa napoleammengi dodong mupogaukangeki paimeng/Apa’ nasenggao manginggi’/ Aja mu papinrai gaumu denre purai mupogau, iya na ritu riyaseng temanginggi (hal. 157).
Kira, kira artinya bebasnya, jika air manimu sudah keluar maka bertakbirlah empat kali. Kemudian turunkan tubuhmu dan ucamkan hamdalah dan pujian ke nabi Muhammad. Jika engkau sudah melakuklannya, maka lakukanlah perbuatan yang menyenangkan perasaanya. (h.76) sebagai tanda sayang. Jika usai minumlahair dengan tiga tegukan, dan ambilah minyak gosokdan urutlah kelaminmu agar tubuhmu pulih kembali dan agar jagan sampai kalu lelah. Janganlah kamu mengubah perbuatanmu seperti yang kamu lakukan sebelumnya, demikianlah maka kamu akan disebut lelaki yang tidak merasa bosan dengan istrinya,”
Sedangkan tahapn selanjutnya, usai berhubungan, ambilah air mani dari liang fajri yang sudah bercampur dengan cairan perempuan. Letakakkanlah di telapak tangan mu, air mani dicampur dengan air liur dari langit-langit (sumur qalqautsar) suami, sebelum mengusap air mani tersebut ke tubuh istri, terlebih dulu membaca doa dengan lafalan bugis, “waddu waddi, mani-manikang”. Mani riparewe, tajang mapparewe, tajang riparewekki…” (hal.158)
Aiar mani basuhan ini bisa dipijitkan ke titik-tikik 12 rangsangan agar tidak kembeli berkerut, atau memijit bagian panggul dengan tulang kering di ujung bawah jari kelingking, untuk membuat tubuh istri tidak melar tapi tetap ceking.. (thamzil thahir)Tribun Timur | Rabu, 21 Januari 2009 | 03:07 WITA

Daerah G-Spot Ala Bugis [Kamasutra Versi Bugis Terus Diburu (4)]

Ketahuilah bahwa uraian hari ini (soal kitab persetubuhan bugis), membuat sy secara refleks menguji nafas hidung dan ternyata hembusan lubang kanan masih lebih deras (tokcer), meski usia sudh msk 55. Ha.ha.ha +62811415***

Tribun Timur | Selasa, 20 Januari 2009 | 03:55 WITA

DATE/TIME:01/19/2009/10:37:56

Pesan singkat salah seorang pembaca Tribun di atas, hanyalah satu dari seratusan pertanyaan dan eskpersi senada yang masuk ke redaksi, sejak tulisan ini muncul pekan lalu.
Muhlis Hadrawi, penulis buku ini, senantiasa mengingatkan di bagian awal, tengah, dan mengunci di akhir bab tulisannya, bahwa Assikalaibineng bukanlah ilmu pelampiasan hasrat biologis sebagai wujud paling alamiah sebagai makhluk saja.
Penulis menggunakan istilah tasawupe’ allaibinengengnge untuk menjelaskan kedudukan persetubuhan yang lebih dulu disahkan dengan akad nikah dan penegasan kedudukan manusia yang berbeda dengan binatang saat melakukan persetubuhan.
Ini juga sekaligus wujud penghormatan dan menjaga martabat keluarga dalam kerangka mendekatkan diri kepada Allah (hal 123).
Pada bagian awal bab tata laku hubungan suami-istri, Muhlis mengomentari satu dari tujuh manuskrip Assikalaibineng yang menjadi rujukan utamanya menulis buku ini.
Dikatakan ini sebagai pustaka penuntun tata cara hubungan seks untuk suami-istri sebagai ilmu yang dipraktikkan Sayyidina Ali dan Fatimah.
Muhlis memulainya dengan kisah perbincangan tertutup Ali dan istrinya, yang juga putri Nabi, di tahun ketiga pernikahan mereka.
Perkawinan keduanya menghadapi satu masalah sebab Ali belum mengetahui dengan benar bagaimana tata cara menggauli Fatimah.
“Kala itu,” tulis Muhlis, “Fatimah mengeluarkan ucapan yang menyindir Ali, “Apakah kamu mengira baik apabila tidak menyampaikan titipan Tuhan?”
Ali kontan merasa malu dan sangat bersalah. “Ali mulai sadar kalau ia belum memberikan apa yang menjadi keinginan Fatimah di kamar tidur. Maka Ali meminta Fatimah memberitahu keinginan Fatimah dan memintanya untuk mempelajarinya.”
“Fatimah pun merekomendasikan Muhammad Rasulullah, yang tak lain bapak Fatimah. Datanglah Ali ke Nabi Muhammad dan selanjutnya terjadilah transfer pengetahuan dari bapak mertua kepada anak menantu.”
Transfer ilmu atau proses makkanre guru seperti ini amat biasa dalam tradisi Bugis-Makassar, khususnya keluarga yang mengamalkan ajaran tarekat-tarekat.
Kisah di atas sekaligus menjelaskan bahwa lelaku dan zikir Assikalaibineng tak terlambat untuk dipelajari.
Memang idealnya, tata laku hubungan Assakalaibineng ini diajarkan di awal masa nikah, namun bagi mereka yang ingin mengamalkannya hanya perlu membulatkan tekad, untuk mengubah cara padangnya, bahwa hubungan suami-istri versi Islam yang terangkum dalam lontara ini, berbeda dengan literatur, hasil konsultasi, atau frequent ask and question (FAQ) soal seks yang selama ini sumber dominannya dari ilmu kedokteran Barat.
Pada sub bab Teknik Mengendalikan Emosi Seks atau Hawa Nafsu (hal 150), buku ini menyajikan laku zikir untuk mengiringi gerakan seksual dari pihak suami.
“lelaku zikir ini menjadi penyeimbang nuansa erotis dan terkesan tidak vulgar.”
Teknik mengatur napas adalah inti dari ketahanan pihak suami.
Untuk menjaga endurance napas suami agar istrinya bisa mencapai orgasme, misalnya, saat kalamung (zakar) bergerak masuk urapa’na (vagina) disarankan membaca lafal (dalam hati) Subhanallah sebanyak 33 kali disertai tarikan nafas.
“Narekko mupattamamai kalammu, iso’i nappasse’mu”.
Sebaliknya, jika menarik zakar, maka hembuskanlah napasmu (narekko mureddui kalamummu, muassemmpungenggi nappase’mu), dan menyebutkan budduhung.
Bahkan bisa dibayangkan karena babang urapa’na (pintu vagina) perempuan ada empat bagian, maka di bagian awal penetrasi, disarankan hanya memasukkan sampai bagian kepala kalamummu lalu menariknya sebanyak 33 dengan tarikan napas dan disertai zikir, hanya untuk menyentuh “timungeng bunga sibollo” (klitoris bagian kiri).
Mungkin bagi generasi sekarang, lafalan zikir dalam hati saat bersetubuh akan sangat lucu, namun pelafalan Subhanallah sebanyak 33 kali dan perlahan dan diikuti tarikan napas akan membuat daya tahan suami melebihi ekspektasi istri! (hal 80)
“Mmupanggoloni kalamummu, mubacasi iyae/ya qadiyal hajati mufattikh iftahkna/…..! Pada ppuncu’ni katauwwammu pada’e tosa mpuccunna bunga’e (sibolloe)/tapauttmani’ katawwammu angkanna se’kkena, narekko melloko kennai babangne ri atau, lokkongi ajae ataummu mupallemmpui aje; abeona makkunraimmu, majeppu mukennai ritu atau…., na mubacaisi yae wikka tellu ppulo tellu/subhanallah../”
Artinya, “….arahkan zakarmu, dan bacalah ini/Ya qadiyyal hajati mufattikh iftakhna/….kemudian cium dadanya,. lalu naikkan panggulnya, … ketika itu mekarlah kelaminnya layaknya mekarnya kelopak bunga, masukkan zakarmu hingga batas kepalanya, dan bacalah subhanallah 33 kali…. (hal 144).
Penggunaan kata timungeng bunga sibollo sekaligus menunjukkan bagaimana para orang Bugis-Makassar terdahulu mengemas ungkapan-ungkapan erotis dalam bentuk perumpamaan yang begitu halus dan memuliakan kutawwa makkunraie (alat kelamin perempuan), dan ungkapan kalamummu (untuk zakar). (thamzil thahir)

Pengen Dapat Duit Dengan NgeBlog? Daftar di Sini